Tiongkok Eksekusi 11 Mafia Ming: Akhir Berdarah Imperium Scam Laukkaing

Tiongkok Eksekusi 11 Mafia Ming: Akhir Berdarah Imperium Scam Laukkaing
Ilustrasi eksekusi mati 11 anggota inti keluarga Ming, dalang scam online Myanmar-China (io)

Beijing eksekusi mati 11 bos mafia Ming. Dalang scam online Myanmar ini raup Rp22 triliun lewat penyiksaan brutal di Crouching Tiger Villa.

INDONESIAONLINE – Sebuah babak kelam dalam sejarah kejahatan siber Asia Tenggara akhirnya ditutup dengan timah panas. Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengirimkan pesan tanpa kompromi kepada dunia bawah tanah dengan mengeksekusi mati 11 anggota inti keluarga Ming.

Mereka bukan kriminal biasa; Keluarga Ming adalah arsitek dari “neraka digital” di perbatasan Myanmar-China, sebuah sindikat yang mengubah manusia menjadi budak dan penipuan menjadi industri bernilai triliunan rupiah.

Eksekusi yang dikonfirmasi oleh media pemerintah China pada awal Februari 2026 ini merupakan puncak dari vonis yang dijatuhkan Pengadilan Provinsi Zhejiang pada September 2025. Langkah drastis Beijing ini menandai berakhirnya era kekebalan hukum bagi para warlord atau penguasa perang di Kokang, wilayah otonom di Myanmar yang selama bertahun-tahun menjadi zona abu-abu tak bertuan.

Runtuhnya Dinasti Ming Laukkaing

Laukkaing, ibu kota Zona Administrasi Mandiri Kokang (SAZ), dulunya hanyalah kota perbatasan yang sepi dan miskin di Negara Bagian Shan, Myanmar. Namun, di bawah kendali empat keluarga besar—salah satunya Keluarga Ming—kota ini bermetamorfosis menjadi “Las Vegas-nya Mekong”. Gemerlap lampu kasino menyembunyikan realitas mengerikan di balik tembok-tembok beton tinggi yang dijaga pria bersenjata laras panjang.

Ming Xuechang, sang patriark yang memimpin klan ini, membangun sebuah imperium kejahatan yang sistematis. Awalnya, bisnis mereka berputar pada perjudian konvensional dan prostitusi. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan ketatnya perbatasan akibat pandemi, Keluarga Ming mencium aroma uang yang lebih amis: penipuan daring atau online scam.

Pusat operasi mereka yang paling terkenal, dan kini menjadi simbol kekejaman hak asasi manusia, adalah “Crouching Tiger Villa”. Nama yang terdengar puitis itu sejatinya adalah kamp konsentrasi modern. Di sinilah ribuan orang, mayoritas warga negara China dan Asia Tenggara lainnya, ditahan di luar kehendak mereka.

Data pengadilan tertinggi China mengungkap skala ekonomi yang mencengangkan. Antara tahun 2015 hingga keruntuhan mereka di tahun 2023, sindikat Ming meraup keuntungan ilegal lebih dari 10 miliar yuan, atau setara Rp 22 triliun. Angka ini didapat dari hasil memeras tabungan pensiunan, menipu profesional muda lewat skema investasi bodong (pig butchering scam), hingga manipulasi cinta dunia maya.

Crouching Tiger Villa: Pabrik Penyiksaan

Investigasi mendalam mengungkap bahwa mesin uang keluarga Ming digerakkan oleh darah dan air mata. “Crouching Tiger Villa” beroperasi dengan sistem keamanan militer. Para pekerja di sana bukanlah karyawan, melainkan korban perdagangan manusia (human trafficking).

Mereka dipaksa bekerja 15 hingga 18 jam sehari di depan komputer, menjalankan skrip penipuan yang canggih untuk menjerat korban di China, Indonesia, Malaysia, hingga Eropa. Target kinerja ditetapkan dengan standar yang tidak manusiawi. Bagi mereka yang gagal memenuhi target “omzet” penipuan, sanksi fisik adalah menu harian.

Dokumen pengadilan menyebutkan berbagai metode penyiksaan sadis: mulai dari pemukulan dengan tongkat listrik, kurungan di ruang gelap (sel isolasi air), hingga penyiksaan yang berujung kematian. Keluarga Ming dinyatakan bersalah atas tewasnya 14 warga negara China secara langsung akibat kekerasan di dalam kompleks tersebut.

Jumlah korban yang mengalami cacat fisik dan trauma psikologis permanen diperkirakan jauh lebih banyak, namun sulit diverifikasi karena ketertutupan akses.

Laporan dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Menusia (OHCHR) yang dirilis pada periode sebelumnya memperkuat temuan ini. PBB mengestimasi setidaknya 120.000 orang ditahan di Myanmar dan 100.000 lainnya di Kamboja dalam kondisi kerja paksa yang serupa dengan yang dijalankan keluarga Ming. Fenomena ini menciptakan krisis kemanusiaan baru di Asia Tenggara, di mana korban penipuan (korban finansial) dan pelaku penipuan (korban perdagangan orang) sama-sama menderita.

Geopolitik di Balik Penangkapan

Jatuhnya keluarga Ming tidak lepas dari perubahan angin politik di perbatasan China-Myanmar. Selama bertahun-tahun, Beijing bersikap pragmatis terhadap para penguasa Kokang demi stabilitas perbatasan. Namun, ketika korban warga negara China mulai berjatuhan dan kemarahan publik domestik memuncak, Beijing mengubah strateginya.

Titik balik terjadi pada akhir 2023, ketika “Aliansi Tiga Persaudaraan” (kelompok milisi etnis yang terdiri dari Tentara Arakan, Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar/MNDAA, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang) melancarkan “Operasi 1027”.

Operasi militer ini bertujuan menggulingkan junta militer Myanmar di wilayah utara, namun memiliki agenda sampingan yang didukung secara diam-diam oleh China: memberantas pusat-pusat scam yang dilindungi oleh junta dan sekutunya, termasuk keluarga Ming.

Ming Xuechang, yang menyadari kekaisarannya diambang kehancuran, memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada akhir 2023 saat pengepungan terjadi. Namun, anak-anak dan letnan kepercayaannya tidak seberuntung itu. Mereka ditangkap oleh milisi etnis dan diserahkan kepada kepolisian China di perbatasan, sebuah proses ekstradisi de facto yang jarang terjadi dalam konflik internasional.

Selain 11 orang yang dieksekusi mati, lebih dari 20 anggota klan Ming lainnya kini mendekam di penjara China dengan hukuman bervariasi, mulai dari lima tahun hingga seumur hidup. Hukuman kolektif ini bertujuan memutus total rantai komando organisasi tersebut.

Efek Balon: Masalah Bergeser, Bukan Hilang

Eksekusi mati keluarga Ming dan vonis mati terhadap lima anggota keluarga Bai (klan penguasa Kokang lainnya) pada November lalu adalah pesan keras Beijing: “Jangan sentuh warga negara China.” Namun, para pengamat kriminal transnasional memperingatkan fenomena “Efek Balon”—jika satu sisi ditekan, sisi lain akan menggelembung.

Kehancuran Laukkaing tidak serta merta mematikan industri penipuan daring. Sindikat kriminal ini sangat adaptif. Laporan intelijen terbaru menunjukkan pergeseran operasi ke wilayah yang penegakan hukumnya lebih lemah atau di mana pengaruh China tidak sekuat di Myanmar Utara.

Wilayah perbatasan Myanmar-Thailand, seperti di sekitar Myawaddy (Karen State), kini menjadi “Laukkaing Baru”. Di sana, kompleks-kompleks seperti KK Park diduga masih beroperasi di bawah perlindungan faksi milisi yang berbeda. Selain itu, operasi juga menyebar ke Segitiga Emas di Laos dan wilayah otonom di Kamboja.

Di wilayah-wilayah baru ini, sindikat scam beradaptasi dengan merekrut korban dari negara yang lebih beragam, termasuk India, Afrika, dan Asia Tengah, untuk menghindari deteksi langsung aparat keamanan China. Modus operandi pun berevolusi, menggunakan teknologi deepfake AI untuk membuat penipuan semakin meyakinkan.

Eksekusi mati 11 anggota keluarga Ming adalah kemenangan taktis bagi penegakan hukum, namun perang melawan sindikat kejahatan siber transnasional masih jauh dari usai. Bagi Indonesia dan negara ASEAN lainnya, peristiwa ini menjadi peringatan mendesak untuk memperkuat kerja sama regional. Tanpa tindakan kolektif, “Crouching Tiger Villa” lain akan terus bermunculan di sudut-sudut gelap Asia Tenggara, siap memangsa korban berikutnya.