Beranda

Transformasi CSR Jaya Group: Tinggalkan Donasi, Fokus Pendidikan Global

Transformasi CSR Jaya Group: Tinggalkan Donasi, Fokus Pendidikan Global
Direktur Jaya Group Tomy Suhartanto (ist)

Direktur Jaya Group Tomy Suhartanto ubah fokus CSR dari donasi ke pendidikan global demi SDM unggul Indonesia Emas 2045. Simak ulasan mendalamnya.

INDONESIAONLINE – Di tengah dinamika ekonomi global yang menuntut adaptabilitas tinggi, paradigma tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia mulai menemukan bentuk barunya. Tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban melalui donasi karitatif sesaat, sektor swasta kini didorong untuk melakukan investasi sosial yang berdampak jangka panjang.

Pergeseran fundamental inilah yang digaungkan oleh Jaya Group di awal tahun 2026. Melalui nakhodanya, Direktur Jaya Group Tomy Suhartanto, perusahaan ini mengambil langkah berani untuk mereformasi pola penyaluran CSR mereka. Dari yang semula bersifat transaksional (pemberian barang/uang), kini bertransformasi menjadi transformasional melalui pendidikan dan pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Langkah strategis ini bukan tanpa alasan. Dalam wawancaranya di sela-sela acara Open Mind for Student di Surabaya, Sabtu (10/1/2026), Tomy menegaskan bahwa relevansi CSR hari ini diukur dari keberlanjutan dampaknya, bukan nominal donasinya.

Mengubah Wajah Filantropi Perusahaan

“Kami dari Jaya Group mulai membiasakan, kami harap agenda-agenda CSR dari Jaya Group ini juga bisa diilhami kemudian juga bisa diduplikasi oleh perusahaan-perusahaan yang lain,” ungkap Tomy dengan nada optimis.

Pernyataan ini menyiratkan kritik halus terhadap praktik CSR konvensional yang seringkali berhenti pada seremonial penyerahan bantuan. Menurut Tomy, memberikan “ikan” tidak lagi cukup; perusahaan harus memberikan “kail” dan mengajarkan cara memancing yang efektif di kolam global.

“Kita tidak lagi memberikan CSR dalam bentuk donasi, tapi kita ubah menjadi bentuk-bentuk yang sifatnya adalah memberikan edukasi, memberikan bekal pada generasi muda,” tambahnya.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa pendekatan yang diambil Jaya Group ini sejalan dengan konsep Creating Shared Value (CSV), sebuah evolusi dari CSR di mana perusahaan menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial. Dengan berinvestasi pada edukasi generasi muda, Jaya Group sejatinya sedang menanam benih untuk ekosistem bisnis yang lebih sehat di masa depan, di mana tenaga kerja terampil dan masyarakat berwawasan luas menjadi pilar utamanya.

Inkubator Pemikiran: Open Mind for Student

Manifestasi nyata dari visi Tomy Suhartanto ini terwujud dalam program bertajuk ‘Open Mind for Student’. Digelar selama dua hari, 10-11 Januari 2026, di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya, acara ini bukan sekadar seminar biasa.

Mengusung tema besar ‘Think Global, Create Impact’, Jaya Group menyeleksi 50 siswa berpotensi untuk masuk dalam “kawah candradimuka” intelektual ini. Angka 50 peserta mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan ribuan paket sembako, namun dampaknya diproyeksikan jauh lebih masif secara kualitatif.

Program ini dirancang sebagai ruang belajar inkubatif. Para siswa tidak hanya duduk mendengarkan, melainkan diajak bertukar gagasan, menantang status quo, dan memperluas cakrawala berpikir.

“Pendidikan kreatif, pendidikan yang sifatnya menambah wawasan ini penting untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, seperti impian dari semua pihak utamanya dari Bapak Presiden Prabowo,” jelas Tomy.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa pada tahun 2045, Indonesia akan menikmati puncak bonus demografi. Namun, bonus ini bisa menjadi bencana jika kualitas SDM rendah. Inisiatif Jaya Group menjawab kekhawatiran tersebut dengan mempersiapkan mentalitas pemuda sejak dini.

Sinergi Harvard dan Influencer: Menjembatani Kesenjangan

Keunikan dan kedalaman program CSR Jaya Group terlihat dari kurasi narasumber yang dihadirkan. Tomy Suhartanto tidak memilih jalan aman dengan mengundang motivator konvensional. Sebaliknya, ia memadukan dua kutub yang sering dianggap berseberangan: akademisi elit global dan praktisi digital kreatif.

Dua sosok sentral yang dihadirkan adalah Dasha Gartman, atau yang populer disapa Bule Barbie, dan Anna Mikhaylyants, seorang lulusan Harvard University. Pemilihan ini merepresentasikan dua sayap penting yang harus dimiliki generasi muda masa depan: kemampuan adaptasi digital dan kedalaman intelektual global.

Tomy menyoroti fenomena Creator Economy yang kini mendominasi lanskap profesi baru. Ia menilai informasi di era modern bukan lagi sekadar konsumsi pasif, melainkan komoditas yang bisa dikelola menjadi profesi menjanjikan.

“Jadi kenapa kita mengundang Bule Barbie? Ya karena Bule Barbie ini adalah salah satu influencer yang cukup dikenal dan cukup dipahami oleh para generasi muda, khususnya anak-anak sekolah,” tandas Tomy.

Kehadiran Dasha memvalidasi bahwa kreativitas dalam mengelola informasi adalah skill bertahan hidup di abad 21. Di sisi lain, kehadiran Anna Mikhaylyants dari Harvard menjadi penyeimbang yang krusial. Dalam berbagai indeks kompetitivitas global, wawasan internasional seringkali menjadi titik lemah pelajar Indonesia.

“Dan kenapa kita undang narasumber juga dari Harvard, mahasiswa Harvard. Supaya adik-adik kita, siswa dan siswi yang kita pilih dan kita undang ini terbuka pikirannya, wawasannya terbuka tidak hanya pada segmen lokal tapi pada lebih luas lagi wawasan internasional,” pungkas Tomy.

Kombinasi ini bertujuan mencetak profil pelajar Pancasila yang berakar kuat pada budaya lokal namun memiliki ranting yang menjulang hingga ke langit global.

Seruan Kolaborasi untuk Sektor Swasta

Langkah Jaya Group ini diharapkan menjadi efek domino bagi dunia usaha di Indonesia. Tomy menyadari bahwa satu perusahaan saja tidak cukup untuk menggerakkan gerbong besar perubahan pendidikan nasional. Diperlukan orkestrasi yang harmonis antar berbagai entitas bisnis.

“Mari kita sama-sama saling mempersiapkan masa depan. Kami Jaya Group juga mengajak kepada perusahaan-perusahaan lain untuk mulai dari sekarang ayo kita alihkan CSR dari masing-masing perusahaan menjadi bentuk program-program pendidikan,” ajak Tomy.

Ajakan ini sangat relevan mengingat dana CSR dari sektor swasta di Indonesia mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Jika sebagian besar dana tersebut dialihkan dari bantuan konsumtif ke program edukasi produktif—seperti beasiswa, pelatihan vokasi, atau inkubasi mindset seperti yang dilakukan Jaya Group—akselerasi menuju Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar jargon politik, melainkan target yang realistis.

Jaya Group telah melempar bola salju perubahan. Kini, bola tersebut ada di tangan para pemimpin perusahaan lain: apakah akan tetap nyaman dengan pola donasi lama yang populis, atau berani mengambil jalan sunyi namun berdampak abadi melalui pendidikan? Bagi Tomy Suhartanto, jawabannya sudah sangat jelas: investasi terbaik adalah investasi pada manusia.

Exit mobile version