Beranda

Transformasi Pulau Pedofil Epstein: Jejak Kelam Menuju Resor Mewah

Transformasi Pulau Pedofil Epstein: Jejak Kelam Menuju Resor Mewah
Jeffrey Epstein mendiang ahli keuangan yang bergelimang skandal kejahatan seksual anak di bawah umur dan memiliki pulau pedofil (io)

Transformasi Little St. James: Dari pusat skandal Jeffrey Epstein menjadi resor mewah Stephen Deckoff demi hapus jejak kelam masa lalu.

INDONESIAONLINE – Di tengah birunya Laut Karibia yang memukau, tersembunyi sebuah sejarah kelam yang tertulis di atas pasir putih dan bangunan mewah Little St. James. Selama lebih dari dua dekade, pulau yang menjadi bagian dari Kepulauan Virgin Amerika Serikat (USVI) ini bukan sekadar destinasi liburan tropis, melainkan sebuah benteng rahasia yang diduga kuat menjadi pusat operasi jaringan perdagangan seks internasional.

Kini, setelah kematian Jeffrey Epstein pada tahun 2019, nasib pulau-pulau tersebut memasuki babak baru. Dari simbol impunitas predator seksual, aset properti ini sedang dalam proses transformasi radikal menjadi resor wisata kelas dunia di bawah kepemilikan baru, Stephen Deckoff.

Namun, pertanyaannya tetap menggantung: bisakah noda sejarah dihapus hanya dengan mengganti nama dan merenovasi bangunan?

Bangunan mewah Little St. James milik predator seksual Epstein yang dikenal sebagai Pulau Predator (Ist)

Arsitektur Isolasi dan “Pulau Pedofil”

Jeffrey Epstein, mendiang ahli keuangan yang bergelimang skandal, membeli Little St. James pada tahun 1998. Berdasarkan data arsip properti, ia mengakuisisi pulau seluas kurang lebih 70 hektar tersebut dengan harga yang relatif murah untuk ukuran aset privat, yakni sekitar 8 juta dollar AS.

Bagi penduduk lokal di St. Thomas, pulau tetangga yang lebih besar, Little St. James segera dikenal dengan julukan mengerikan: “Pulau Pedofil“. Julukan ini bukan tanpa alasan. Pulau tersebut didesain bukan hanya untuk kemewahan, tetapi untuk privasi total yang memfasilitasi aktivitas ilegal.

Struktur bangunan di pulau tersebut menjadi sorotan dunia. Selain vila utama, kolam renang, dan helipad, terdapat sebuah bangunan mencolok yang sering disebut sebagai “The Temple” (Kuil). Bangunan ini memiliki kubah emas dan dinding bercorak garis-garis biru, yang menurut berbagai laporan investigasi, pintunya dikunci dari luar. Struktur ini menjadi simbol keanehan dan kerahasiaan aktivitas Epstein.

Menurut dokumen gugatan yang diajukan oleh Jaksa Agung Kepulauan Virgin AS saat itu, Denise George, pulau ini adalah tempat di mana gadis-gadis di bawah umur—beberapa berusia semuda 12 tahun—diterbangkan menggunakan jet pribadi (dijuluki “Lolita Express”) untuk melayani nafsu Epstein dan rekan-rekannya. Isolasi geografis pulau ini memastikan para korban tidak memiliki jalan keluar; mereka terperangkap di surga yang menjadi neraka.

Ekspansi Wilayah: Strategi Membungkam Mata Publik

Ambisi Epstein tidak berhenti di Little St. James. Pada tahun 2016, ia memperluas cengkeramannya dengan membeli Great St. James, pulau tetangga yang jauh lebih besar dengan luas lebih dari 160 hektar. Pembelian senilai 22,5 juta dollar AS ini memicu tanda tanya besar.

Analisis hukum dari gugatan pemerintah USVI pada 2020 menyingkap motif di balik akuisisi ini. Great St. James bukan sekadar investasi portofolio. Pembelian ini dideskripsikan sebagai upaya strategis untuk menciptakan zona penyangga (buffer zone).

Dengan menguasai pulau di sebelahnya, Epstein dapat mencegah orang luar mengintip aktivitas di Little St. James, sekaligus mempersulit penegak hukum melakukan pengawasan jarak dekat.

Ironisnya, ambisi pembangunan di Great St. James justru mengungkap sisi lain dari kejahatan Epstein: perusakan sejarah. Penyelidikan menemukan bahwa dalam proses pembangunan jalan dan infrastruktur ilegal di pulau tersebut, pekerja konstruksi Epstein merusak reruntuhan bersejarah yang berasal dari era perbudakan kolonial. Struktur berusia ratusan tahun yang seharusnya dilindungi sebagai cagar budaya hancur demi kenyamanan sang miliarder.

Runtuhnya Kerajaan dan Valuasi yang Anjlok

Kematian Jeffrey Epstein di sel penjara Manhattan pada Agustus 2019 meninggalkan warisan hukum yang rumit. Estate atau harta warisan Epstein segera menjadi target gugatan para korban dan pemerintah.

Kedua pulau tersebut awalnya ditaksir bernilai gabungan sekitar 31 juta dollar AS oleh penilai independen tak lama setelah kematiannya. Namun, pengelola harta warisan Epstein mencoba menjualnya dengan harga fantastis, mencapai 125 juta dollar AS pada tahun 2021. Harga ini mencerminkan nilai potensial properti di Karibia, namun mengabaikan “biaya reputasi” yang sangat besar.

Menjual properti dengan sejarah kriminal seburuk ini terbukti sulit. Pasar properti mewah bereaksi dingin. Tidak banyak miliarder yang ingin namanya dikaitkan dengan tempat kejadian perkara salah satu kasus kejahatan seksual paling terkenal di abad ke-21.

Pada Desember 2022, sebuah titik terang tercapai melalui jalur hukum. Pemerintah Kepulauan Virgin AS mencapai kesepakatan penyelesaian dengan pengelola warisan Epstein. Estate Epstein setuju membayar total 105 juta dollar AS. Angka ini mencakup pengembalian manfaat pajak yang selama ini dinikmati Epstein secara tidak sah melalui program Economic Development Commission (EDC), serta denda atas kerusakan lingkungan.

Selain itu, ada kewajiban pembayaran terpisah sebesar 450.000 dollar AS khusus untuk remediasi atau pemulihan kerusakan lingkungan di Great St. James, sebagai kompensasi atas perusakan situs bersejarah.

Era Baru di Tangan Stephen Deckoff

Setelah berbulan-bulan terkatung-katung di pasar, pada Mei 2023, kedua pulau tersebut akhirnya menemukan pemilik baru. SD Investments, sebuah perusahaan investasi yang dipimpin oleh miliarder private equity Stephen Deckoff, membeli Little St. James dan Great St. James seharga 60 juta dollar AS. Angka ini kurang dari setengah harga permintaan awal yang mencapai 125 juta dollar AS.

Siapakah Stephen Deckoff? Ia adalah pendiri Black Diamond Capital Management, sebuah perusahaan yang mengelola aset miliaran dolar. Menariknya, Deckoff adalah penduduk asli Kepulauan Virgin AS yang telah lama tinggal di sana. Kepada Forbes, Deckoff menegaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan Jeffrey Epstein dan tidak memiliki hubungan apapun dengannya.

Rencana Deckoff sangat ambisius. Ia berniat mengubah kedua pulau tersebut menjadi resor mewah kelas atas dengan kapasitas sekitar 25 kamar. Proyek ini diproyeksikan akan membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal dan menarik wisatawan premium, sebuah upaya rebranding total untuk menghapus asosiasi nama pulau tersebut dengan kejahatan seksual.

Deckoff menyadari beban sejarah yang melekat pada aset barunya. “Saya bangga menyebut Kepulauan Virgin AS sebagai rumah saya selama lebih dari satu dekade, dan saya bangga membawa tujuan wisata kelas dunia ke sini,” ujarnya dalam rilis pers pasca-pembelian. Namun, tantangan terbesarnya bukan pada konstruksi fisik, melainkan konstruksi persepsi publik.

Dana untuk Pemulihan Korban

Salah satu aspek terpenting dari transaksi penjualan ini adalah alokasi dananya. Berdasarkan ketentuan penyelesaian hukum dengan pemerintah USVI, sekitar 50 persen dari hasil penjualan pulau tersebut tidak masuk ke kantong ahli waris Epstein, melainkan disalurkan ke pemerintah Kepulauan Virgin AS.

Dana puluhan juta dollar AS ini ditempatkan dalam sebuah perwalian khusus. Tujuannya sangat spesifik: mendanai layanan konseling, terapi, dan program pendampingan bagi para korban kejahatan seksual dan perdagangan manusia. Ini merupakan bentuk keadilan restoratif, di mana aset yang dulunya digunakan untuk menyakiti korban, kini dicairkan untuk membiayai pemulihan mereka.

Penjualan Little St. James dan Great St. James menandai akhir dari era fisik kekuasaan Jeffrey Epstein di Karibia. Namun, bagi para korban dan masyarakat Kepulauan Virgin, pulau-pulau tersebut akan selalu menyimpan memori kelam tentang bagaimana kekayaan dan kekuasaan dapat menyalahgunakan hukum dan kemanusiaan.

Transformasi menjadi resor mewah di bawah Stephen Deckoff adalah langkah ekonomi yang logis, namun sejarah tidak mudah dihapus oleh cat baru atau lanskap taman yang indah. Pulau ini kini berdiri sebagai monumen ganda: pengingat akan kejahatan yang tak terbayangkan, sekaligus harapan bahwa keadilan—meski terlambat—dapat mengubah aset kejahatan menjadi sumber pemulihan bagi mereka yang dirugikan.

Exit mobile version