Lelucon Trevor Noah di Grammy 2026 soal Epstein picu kemarahan Presiden Trump. Ancaman gugatan hukum dilayangkan via Truth Social usai singgung pulau pribadi.
INDONESIAONLINE – Malam penghargaan musik paling bergengsi sejagat, Grammy Awards ke-68, yang digelar pada Minggu malam waktu setempat atau Senin (2/2/2026) WIB, berubah menjadi arena ketegangan politik tingkat tinggi. Apa yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan bagi insan musik dunia, seketika berubah menjadi pemicu perseteruan hukum antara Gedung Putih dan panggung hiburan Hollywood.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali menduduki kursi kepresidenan, meluapkan kemarahannya secara terbuka terhadap komedian dan pembawa acara Grammy, Trevor Noah. Pangkal masalahnya adalah sebuah monolog satire yang dilontarkan Noah, yang secara tajam mengaitkan ambisi teritorial Trump dengan skandal seksual mendiang Jeffrey Epstein.
Kronologi Insiden: Greenland dan Pulau Epstein
Momen kontroversial itu terjadi tepat setelah Trevor Noah memberikan ucapan selamat kepada penyanyi Billie Eilish, yang baru saja memenangkan kategori bergengsi Song of the Year lewat lagunya yang berjudul “Wildflower”. Dalam tradisi komedi tunggal yang kerap menyelipkan kritik sosial-politik, Noah menggunakan momentum tersebut untuk menyindir dua obsesi besar dalam lanskap berita AS: ambisi geopolitik Trump dan skandal Epstein yang tak kunjung padam.
“Wow. Itu adalah Grammy yang diinginkan setiap artis—hampir sebesar keinginan Trump terhadap Greenland,” ujar Noah di hadapan ribuan hadirin yang memadati Crypto.com Arena.
Lelucon ini merujuk pada peristiwa tahun 2019 dan wacana yang kembali muncul di masa jabatan kedua Trump, di mana ia menyatakan minat serius AS untuk membeli Greenland, wilayah otonom Denmark di Kutub Utara, demi kepentingan strategis dan sumber daya alam.
Namun, punchline atau bagian penutup dari lelucon itulah yang menyulut api. Noah melanjutkan dengan kalimat yang menusuk: “Masuk akal juga karena, sejak Epstein tiada, dia (Trump) butuh pulau baru untuk bergaul dengan Bill Clinton.”
Kalimat singkat ini mengandung muatan eksplosif. Noah secara implisit menyejajarkan keinginan Trump memiliki pulau Greenland dengan kebutuhan mencari lokasi “bermain” baru pasca-kematian Epstein—sosok yang dikenal memiliki pulau pribadi Little St. James sebagai pusat operasi perdagangan seksnya.
Lebih jauh, Noah juga menyeret nama mantan Presiden Bill Clinton, menyindir bahwa kedua tokoh dari spektrum politik berseberangan ini disatukan oleh sejarah kelam hubungan mereka dengan Epstein.
Reaksi Berapi-api di Truth Social
Respons dari Donald Trump datang dengan cepat dan berapi-api. Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump tidak hanya membantah tuduhan tersebut, tetapi juga melancarkan serangan personal (ad hominem) terhadap Noah dan mengancam langkah hukum konkret.
Dalam unggahannya pada Senin pagi (2/2/2026), Trump memulai tiradenya dengan mendiskreditkan institusi Grammy itu sendiri sebagai acara yang “buruk” dan “membosankan”, sebuah retorika khas Trump ketika menyerang acara yang tidak memihaknya.
“Saya tidak bisa berbicara untuk Bill (Clinton), tetapi saya tidak pernah ke Pulau Epstein, maupun ke tempat yang mendekati itu, dan sampai pernyataan palsu dan memfitnah malam ini, saya tidak pernah dituduh pernah berada di sana, bahkan oleh media berita palsu,” tulis Trump dengan huruf kapital di beberapa bagian untuk penekanan.
Pernyataan ini merupakan bantahan kategoris Trump terhadap isu yang selama bertahun-tahun menjadi bola liar. Meskipun Trump mengakui pernah mengenal Epstein dan tinggal di lingkungan sosial yang sama di Palm Beach dan New York, ia selalu bersikeras bahwa dirinya tidak pernah menginjakkan kaki di Little St. James, pulau yang dijuluki “Pulau Pedofil“.
Tak berhenti pada bantahan, Trump mengarahkan bidikan hukumnya kepada Trevor Noah. Ia menyebut komedian asal Afrika Selatan itu sebagai “pecundang total” yang menyedihkan dan tidak berbakat.
“Saya akan mengirim para pengacara saya untuk menggugat pembawa acara yang malang, menyedihkan, tidak berbakat, dan bodoh ini. Bersiaplah Noah, saya akan bersenang-senang denganmu!” ancam Trump.
Kalimat ini menandakan eskalasi serius dari sekadar perang kata-kata di media sosial menjadi potensi sengketa hukum di pengadilan federal.
Konteks “Epstein Files” dan Transparansi
Kemarahan Trump tidak dapat dilepaskan dari konteks waktu yang sangat sensitif. Insiden Grammy ini terjadi hanya beberapa hari setelah Kementerian Kehakiman AS merilis tahap akhir dari “Epstein Files” pada Jumat (30/1/2026). Rilis dokumen setebal tiga juta halaman ini merupakan implementasi dari Epstein Files Transparency Act.
Dalam dokumen-dokumen tersebut, nama Donald Trump memang tercantum, bersama dengan tokoh-tokoh elit global lainnya seperti Elon Musk, Bill Gates, dan Pangeran Andrew. Laporan investigasi menunjukkan bahwa Trump berulang kali disebut dalam catatan penerbangan dan buku hitam Epstein.
Namun, poin krusial yang menjadi pegangan tim hukum Trump adalah distinksi antara “berhubungan” dan “mengunjungi pulau”. Sejauh ini, dokumen yang dirilis mengonfirmasi bahwa Trump pernah terbang dengan pesawat Epstein dari Palm Beach ke New York pada beberapa kesempatan di tahun 90-an, namun belum ada bukti definitif dalam log penerbangan yang menempatkan Trump di Little St. James.
Laporan dari New York Times dan Washington Post sebelumnya juga menyoroti upaya tim hukum Trump yang selama berbulan-bulan mencoba memblokir atau menunda perilisan dokumen-dokumen ini dengan alasan privasi eksekutif, meskipun upaya tersebut akhirnya gagal.
Sensitivitas inilah yang kemungkinan besar membuat Trump bereaksi sangat reaktif terhadap lelucon Noah; ia merasa narasi publik mulai mengaburkan fakta antara “mengenal Epstein” dengan “berpartisipasi dalam kejahatan di pulau tersebut”.
Analisis Hukum: Satire vs Fitnah
Ancaman gugatan Trump terhadap Trevor Noah membuka kembali perdebatan klasik mengenai batasan kebebasan berpendapat dan undang-undang pencemaran nama baik di Amerika Serikat.
Secara hukum, memenangkan gugatan pencemaran nama baik (defamation) bagi seorang pejabat publik sekelas Presiden sangatlah sulit di AS. Berdasarkan preseden hukum kasus New York Times Co. v. Sullivan (1964), penggugat harus membuktikan adanya “niat jahat yang nyata” (actual malice).
Artinya, Trump harus membuktikan bahwa Noah tahu pernyataannya salah atau bertindak dengan pengabaian yang gegabah terhadap kebenaran.
Pakar hukum media dari Columbia Law School menilai bahwa posisi Noah cukup kuat karena pernyataannya disampaikan dalam konteks acara komedi. Pengadilan AS secara historis memberikan perlindungan yang sangat luas bagi satire dan parodi.
Lelucon Noah dapat ditafsirkan sebagai hiperbola retoris—sebuah gaya bahasa yang melebih-lebihkan untuk efek humor—dan bukan pernyataan fakta harfiah bahwa Trump secara fisik membutuhkan pulau untuk bertemu Clinton.
Namun, strategi Trump seringkali bukan tentang memenangkan kasus di pengadilan, melainkan menggunakan ancaman litigasi sebagai senjata intimidasi (SLAPP – Strategic Lawsuit Against Public Participation). Dengan menyeret Noah ke ranah hukum, Trump mengirimkan sinyal peringatan kepada media dan komedian lain untuk berhati-hati dalam mengangkat topik Epstein yang dikaitkan dengannya.
Dampak Politik dan Budaya
Perseteruan ini mempertegas jurang pemisah yang semakin lebar antara budaya pop Hollywood yang cenderung liberal dengan basis politik Trump yang konservatif. Bagi para pendukung Trump, lelucon Noah dianggap sebagai serangan elit media yang tidak berdasar dan bermotif politik untuk menjatuhkan karakter Presiden. Sementara bagi pengkritiknya, reaksi Trump dinilai sebagai bentuk ketidaktahanan terhadap kritik dan upaya pembungkaman kebebasan berekspresi.
Menariknya, Noah juga menyeret nama Bill Clinton dalam leluconnya. Hal ini memberikan lapisan kompleksitas tersendiri, mengingat Clinton berasal dari Partai Demokrat. Dengan menyatukan Trump dan Clinton dalam satu punchline, Noah sebenarnya sedang mengkritik elit kekuasaan secara keseluruhan, bukan hanya satu kubu politik.
Namun, reaksi keras hanya datang dari Mar-a-Lago, kediaman pribadi Trump, sementara pihak Clinton sejauh ini memilih bungkam.
Ke depan, publik akan menanti apakah ancaman “bersenang-senang dengan pengacara” yang dilontarkan Trump akan benar-benar mewujud dalam somasi resmi, atau hanya akan menjadi badai di media sosial yang berlalu seiring waktu.
Yang pasti, bayang-bayang Jeffrey Epstein masih terus menghantui koridor kekuasaan Amerika, membuktikan bahwa meskipun sang predator telah tiada, rahasia dan skandal yang ditinggalkannya masih mampu mengguncang panggung politik hingga panggung Grammy.












