INDONESIAONLINE – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk menghancurkan berbagai infrastruktur strategis, mulai dari pembangkit listrik hingga jembatan, di seluruh wilayah Iran.
Langkah ekstrem ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas laut internasional. Seperti diketahui, penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu krisis energi dunia karena 20 persen minyak dunia melewati selat itu.
Melalui unggahan di media sosial, Trump memberikan ultimatum hingga Selasa besok terhadap Iran. Dengan nada bicara yang tajam, Trump memperingatkan bahwa Iran akan “hidup dalam neraka” jika tidak segera memenuhi tuntutan pembukaan Selat Hormuz.
Trump bahkan secara spesifik menyebut hari Selasa pukul 20.00 waktu timur AS sebagai batas akhir bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan.
Ancaman “Zaman Batu” dan Risiko Kejahatan Perang
Ini bukan kali pertama Trump mengeluarkan pernyataan provokatif. Sebelumnya, ia sempat menyatakan niatnya untuk mengembalikan Iran ke “zaman batu” melalui penghancuran total infrastruktur penting.
Namun, retorika ini menuai kecaman hebat dari dalam negeri, termasuk dari senator Tim Kaine.
Kaine menilai pernyataan Trump sangat berisiko dan tidak profesional. Menurut dia, serangan terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
Selain itu, narasi agresif tersebut dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan tentara AS di lapangan jika mereka tertangkap oleh pihak lawan. Sikap itu justru bisa mendorong pihak lawan memperlakukan tentara AS dengan lebih buruk.
Situasi Terkini: Saling Klaim di Medan Konflik
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap pantang mundur. Alih-alih melunak, Teheran justru dilaporkan mulai menargetkan pusat ekonomi dan infrastruktur di negara-negara kawasan Teluk.
- Klaim Iran: Media pemerintah Iran merilis cuplikan video yang diklaim sebagai puing pesawat militer AS yang ditembak jatuh, termasuk satu pesawat angkut dan dua helikopter.
- Versi Intelijen: Berseberangan dengan klaim tersebut, pejabat intelijen kawasan menyebutkan bahwa militer AS sebenarnya menghancurkan sendiri dua pesawat angkut mereka akibat kerusakan teknis mendadak demi menjaga kerahasiaan operasi.
Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau apakah diplomasi menit terakhir dapat meredam ancaman serangan besar-besaran yang dijadwalkan terjadi pada Selasa malam tersebut. (rds/hel)













