Trump kirim USS Gerald Ford ke Timteng, sinyalkan pergantian rezim Iran. Analisis mendalam potensi perang terbuka dan dampak geopolitik 2026.
INDONESIAONLINE – Fort Bragg, North Carolina, Jumat, 13 Februari 2026. Langit di atas pangkalan militer terbesar Angkatan Darat AS itu tampak tenang, namun kata-kata yang meluncur dari podium Presiden Donald Trump sore itu mengirimkan gelombang kejut ribuan kilometer jauhnya, menyeberangi Atlantik hingga ke jantung Teluk Persia.
Di hadapan ribuan personel militer, Trump tidak sedang berbicara tentang perdamaian atau penarikan pasukan. Sebaliknya, ia sedang menabuh genderang perang dengan frekuensi yang belum pernah terdengar sejelas ini: pergantian rezim di Iran.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika kampanye atau gertakan diplomatik biasa. Ia disampaikan bersamaan dengan sebuah manuver militer masif yang mengubah peta kekuatan di perairan strategis Timur Tengah. Pentagon resmi memerintahkan USS Gerald R. Ford (CVN-78)—kapal induk paling canggih, paling mahal, dan paling mematikan dalam sejarah maritim manusia—untuk berlayar menuju wilayah tersebut.
Kedatangan “benteng terapung” ini bukan untuk patroli rutin. Ia akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu siaga, menciptakan formasi tempur ganda (dual carrier strike group) yang dalam doktrin militer AS seringkali menjadi preludium dari sebuah operasi militer skala besar.
Obsesi 47 Tahun dan Luka Lama
Bagi Donald Trump, konflik dengan Iran bukan sekadar urusan kebijakan luar negeri; ini adalah obsesi historis yang bercampur dengan frustrasi pribadi. Dalam wawancara singkat usai acara di Fort Bragg, Trump menyinggung angka “47 tahun”—sebuah referensi langsung pada Revolusi Islam 1979 yang meruntuhkan Syah Iran dan melahirkan Republik Islam yang kini menjadi duri dalam daging bagi hegemoni Barat di kawasan tersebut.
“Selama 47 tahun, mereka terus berbicara dan berbicara. Sementara itu, kita telah kehilangan banyak nyawa saat mereka bicara,” ujar Trump dengan nada getir.
Ia tidak berbicara tentang data statistik yang dingin. Ia menggunakan imaji visual yang mengerikan: “Kaki putus, lengan putus, wajah hancur.”
Bahasa tubuh dan pilihan kata Trump mengindikasikan bahwa kesabaran strategis Washington telah habis. Frasa “pergantian rezim”—yang selama beberapa dekade menjadi tabu dalam diplomasi resmi karena trauma kegagalan di Irak dan Libya—kini diucapkan secara terbuka.
Ketika ditanya apakah ia menginginkan wajah baru memimpin Teheran, jawabannya singkat namun mematikan: “Tampaknya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi.”
Trump menolak menyebut nama spesifik siapa yang ia gadang-gadang sebagai pengganti Ayatollah, namun klaimnya bahwa “ada orang-orang yang mampu melakukannya” menyiratkan adanya komunikasi intensif dengan kelompok oposisi Iran di pengasingan atau faksi-faksi pembangkang di dalam negeri.
Ini adalah sinyal bahwa AS mungkin tidak hanya menyiapkan serangan militer dari luar, tetapi juga operasi intelijen untuk memicu implosi dari dalam.
Raksasa Nuklir di Perairan Sempit
Eskalasi verbal Trump didukung oleh pergeseran aset militer yang nyata. Keputusan mengirim USS Gerald R. Ford adalah pesan yang tidak bisa disalahartikan. Kapal induk kelas satu ini memiliki bobot displasemen lebih dari 100.000 ton dan ditenagai oleh dua reaktor nuklir A1B yang mampu mengoperasikannya selama 25 tahun tanpa mengisi bahan bakar.
Berbeda dengan pendahulunya kelas Nimitz, USS Gerald R. Ford dilengkapi dengan sistem peluncuran pesawat elektromagnetik (EMALS) yang memungkinkannya meluncurkan jet tempur 25% lebih banyak dalam satu hari dibandingkan kapal induk konvensional.
Kehadirannya bersama USS Abraham Lincoln berarti AS akan memiliki lebih dari 150 pesawat tempur canggih, termasuk skuadron F-35C Lightning II, yang siap menggempur target di Iran dalam hitungan jam.
Seorang pejabat Pentagon yang berbicara secara anonim menyebutkan bahwa USS Gerald R. Ford membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mencapai posisi tempur di Teluk Arab atau Laut Arab Utara, bergerak dari posisinya di Karibia pasca-operasi di Venezuela.
“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan menyiapkannya,” tegas Trump.
Kalimat ini menegaskan bahwa kapal-kapal tersebut adalah “palu godam” yang siap diayunkan jika meja perundingan patah.
Debu Radioaktif dan Diplomasi Sionis
Ketegangan ini semakin rumit dengan komentar Trump mengenai fasilitas nuklir Iran. Tahun lalu, AS dilaporkan telah melakukan serangan terbatas terhadap situs nuklir tersebut. Ketika ditanya apa yang tersisa untuk dihancurkan, Trump menjawab dengan sinis: “Debu.”
“Jika kami melakukannya (serangan kembali), itu akan menjadi bagian terkecil dari misi tersebut, tetapi kami mungkin akan mengambil apa pun yang tersisa,” tambahnya.
Pernyataan “bagian terkecil dari misi” ini sangat mengkhawatirkan para pengamat militer. Ini mengindikasikan bahwa jika serangan terjadi lagi, target utamanya bukan lagi sentrifuse pengaya uranium di Natanz atau Fordow, melainkan pusat komando, infrastruktur pemerintahan, dan simbol-simbol kekuasaan Garda Revolusi Iran (IRGC). Ini adalah cetak biru perang total (total war), bukan sekadar serangan bedah (surgical strike).
Sikap keras Trump ini juga tidak lepas dari kebuntuannya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Laporan menunjukkan adanya friksi antara Washington dan Tel Aviv mengenai strategi pasca-perang Gaza.
Dengan mengambil inisiatif keras terhadap Iran, Trump mungkin sedang mencoba mengambil alih kendali narasi keamanan di Timur Tengah, menunjukkan bahwa AS tidak didikte oleh Israel, melainkan memimpin orkestrasi pertempuran itu sendiri.
Perang Hibrida: Starlink dan Infiltrasi Digital
Namun, perang di tahun 2026 tidak hanya terjadi di medan kinetik dengan rudal dan bom. Laporan intelijen menyebutkan bahwa AS diam-diam telah menyelundupkan 6.000 terminal internet satelit Starlink ke Iran. Langkah ini, yang dilakukan di tengah gelombang demonstrasi berdarah di kota-kota besar Iran, bertujuan untuk merobek tirai besi sensor informasi yang diberlakukan rezim mullah.
Dengan Starlink, para demonstran dan kelompok oposisi dapat berkoordinasi tanpa takut diputus akses internetnya oleh negara. Ini adalah strategi perang hibrida: melemahkan legitimasi rezim dari jalanan Teheran sambil mengepung perbatasan mereka dengan armada tempur.
Pentagon, yang baru-baru ini memutus hubungan akademik dengan Harvard karena dianggap memupuk radikalisme, tampaknya kini lebih fokus pada pendekatan pragmatis dan agresif dalam melumpuhkan musuh.
Di seberang Teluk, Teheran tidak tinggal diam. Retorika mereka tetap keras: setiap serangan akan dibalas dengan “api yang membakar seluruh kawasan.” Namun, di balik pintu tertutup, ada sinyal kepanikan bercampur pragmatisme.
Iran menyatakan kesiapan untuk membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi yang mencekik. Namun, mereka menarik garis merah yang tegas pada program rudal balistik. Bagi Teheran, rudal adalah satu-satunya asuransi nyawa mereka. Tanpa angkatan udara yang mumpuni, ribuan rudal balistik dan jelajah adalah satu-satunya alat pencegah (deterrent) yang membuat musuh berpikir dua kali.
Menyerahkan program rudal sama saja dengan bunuh diri strategis. Inilah titik buntu diplomasi yang dimaksud Trump. AS menginginkan pelucutan total, sementara Iran hanya bersedia membekukan ambisi nuklirnya demi kelangsungan ekonomi.
Dunia kini menahan napas. Kehadiran dua gugus tempur kapal induk AS di perairan sempit Teluk Persia meningkatkan risiko kesalahan perhitungan (miscalculation) secara eksponensial. Satu insiden kecil—sebuah drone yang ditembak jatuh, kapal patroli yang bersenggolan, atau provokasi milisi di Irak—bisa menjadi pemantik yang meledakkan gudang mesiu.
Jika perang pecah, dampaknya tidak akan terbatas di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur nadi bagi 20-30% pasokan minyak dunia, bisa tertutup, memicu krisis energi global dan resesi ekonomi.
Donald Trump, dengan segala gaya dan ketidakdugaannya, sedang memainkan taruhan terbesar dalam karier politiknya. Ia bertaruh bahwa ancaman kekuatan militer yang luar biasa akan memaksa Iran bertekuk lutut tanpa perlu melepaskan satu tembakan pun.
Namun, sejarah mencatat bahwa rezim yang terdesak ke sudut seringkali memilih untuk melawan dengan segala cara, mengubah “perubahan rezim” yang direncanakan menjadi pertumpahan darah yang berlarut-larut. Kapal induk USS Gerald R. Ford sedang berlayar menuju badai, dan tidak ada yang tahu pasti apakah ia akan membawa perdamaian paksaan atau awal dari bencana global.













