Beranda

Tumbal Ambisi Napoleon: Darah Alexandria hingga Runtuhnya VOC di Jawa

Tumbal Ambisi Napoleon: Darah Alexandria hingga Runtuhnya VOC di Jawa
Ilustrasi sosok Napoleon Bonaparte (io)

Jejak geopolitik abad ke-18 membentang dari runtuhnya VOC di Nusantara hingga invasi berdarah Napoleon di Alexandria yang melahirkan martir Mesir.

INDONESIAONLINE – Dalam kajian sejarah global, ada sebuah adagium kepakan sayap kupu-kupu di satu benua dapat menciptakan badai topan di benua lainnya. Metafora ini menemukan wujud aslinya pada pengujung abad ke-18.

Siapa sangka, gemuruh Guillotine yang memenggal kepala monarki dalam Revolusi Prancis (1789-1799), mengirimkan gelombang kejut yang meruntuhkan hegemoni dagang di Nusantara, sekaligus membanjiri jalanan kuno Alexandria di Afrika Utara dengan darah.

Aktor utama di balik badai geopolitik ini adalah seorang perwira artileri jenius, ambisius, dan berdarah dingin: Napoleon Bonaparte. Melalui manuver-manuver militernya, Napoleon tidak hanya menata ulang peta Eropa, tetapi secara tidak langsung mencengkeram nasib Hindia Timur (kini Indonesia) dan mengobrak-abrik wilayah pinggiran Kekhalifahan Turki Utsmani di Mesir.

Ilustrasi pendaratan armada Napoleon Bonaparte di Alexandria (Ist/io)

Efek Domino: Dari Paris ke Batavia

Bagi Nusantara, narasi ini dimulai ketika Eropa bergolak hebat sejurus dengan meletusnya Perang Revolusi Prancis (1792-1802). Pada masa yang sama, di belahan bumi lain, kongsi dagang raksasa asal Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sedang menghadapi sakaratul maut.

Kekalahan menyakitkan Republik Belanda dari Inggris dalam Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784) telah merobek kas keuangan VOC. Data historis mencatat, menjelang kebangkrutannya, utang VOC menembus angka fantastis, yakni 134 juta gulden—sebuah nominal yang mustahil diselamatkan oleh sistem dagang korup yang mereka jalankan di Hindia Timur.

Namun, paku terakhir pada peti mati VOC ditancapkan oleh dinamika di Eropa. Sejarawan Gerrit Knapp dalam karyanya Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596-1811, melukiskan situasi ini dengan tajam.

“Kerapuhan VOC sudah tampak nyata ketika terjadi Perang Inggris-Belanda Keempat. Upaya membendung Inggris dengan inisiatif-inisiatif baru dalam hal pertahanan VOC tak bisa diwujudkan akibat guncangan geopolitik seiring Revolusi Prancis 1798,” tulis Knapp.

Di negeri Belanda, Revolusi Batavia (1781-1795) meletus, disokong oleh intervensi Prancis. Republik Belanda tumbang, digantikan oleh Republik Batavia yang pada praktiknya hanyalah negara “satelit” atau boneka dari Republik Prancis. Dengan tunduknya Belanda di bawah pengaruh Napoleon, seluruh aset kolonial Belanda, termasuk Hindia Timur, secara de facto jatuh ke dalam bayang-bayang Prancis.

Puncaknya, pada 31 Desember 1799, VOC resmi dibubarkan. Kepengurusan Nusantara diambil alih langsung oleh negara bagian di Eropa yang kini dikendalikan Napoleon. Dampak nyata dari pergeseran ini kelak dirasakan oleh rakyat Jawa ketika Napoleon mengutus Marsekal Herman Willem Daendels pada 1808 untuk mempertahankan Jawa dari ancaman Inggris, yang berujung pada kerja rodi berdarah pembangunan Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan).

Mata Napoleon Tertuju ke Timur

Sementara Nusantara secara pasif menerima nasib akibat perubahan di Eropa, di belahan bumi lain, Napoleon mengambil langkah agresif nan mematikan.

Setelah Traktat Campo Formio (1797) ditandatangani—memaksa Kekaisaran Austria bertekuk lutut dan memecah Italia Utara menjadi republik-republik pro-Prancis—Koalisi Pertama hancur lebur. Tersisa Inggris Raya yang berdiri tegak sendirian sebagai musuh utama Prancis.

Ali Humayun Akhtar dalam Italy and the Islamic World mencatat bahwa Prancis menyadari invasi langsung ke Kepulauan Inggris adalah langkah bunuh diri akibat superioritas Angkatan Laut Royal Navy. Sebagai gantinya, Napoleon mengajukan proposal gila: menginvasi Mesir. Tujuannya adalah mencekik jalur perdagangan Inggris ke India, sekaligus membuka akses Prancis ke Laut Merah.

Menjelang pertengahan 1798, pelabuhan Toulon di Prancis selatan menjadi saksi bisu berkumpulnya armada invasi raksasa. Lebih dari 300 kapal angkut dan 13 kapal perang disiagakan. Napoleon mengumpulkan 38 ribu pasukan lintas matra—infanteri, kavaleri, hingga artileri medan berjumlah ratusan meriam.

Uniknya, ekspedisi ini bukan sekadar penaklukan militer. Catatan Commission des Sciences et des Arts menyebutkan bahwa Napoleon membawa 167 ilmuwan, insinyur, seniman, dan linguis. Para intelektual inilah yang kelak membedah peradaban Mesir Kuno dan menemukan Batu Rosetta (Rosetta Stone) pada 1799, kunci pembuka rahasia huruf Hieroglif.

Ilustrasi penyerangan pasukan Perancis ke Alexandria (Ist/io)

Alexandria yang Pantang Mengibarkan Bendera Putih

Menghindari armada Laksamana Horatio Nelson dari Inggris bagaikan bermain kucing-kucingan di Laut Tengah. Setelah menyusuri rute Corsica, menaklukkan Malta, armada Prancis akhirnya tiba di perairan Alexandria, kota pelabuhan yang dijuluki “Mutiara Mediterania”, pada pergantian bulan Juni ke Juli 1798.

Jonathan North dalam Napoleon’s Invasion of Egypt: An Eyewitness Story memaparkan suasana mencekam tersebut. “Matahari bersinar cerah pada pagi 1 Juli namun awan gelap juga terlihat. Fregat Junon yang jadi pengintai memberi kabar bahwa 14 kapal Inggris baru saja meninggalkan Alexandria. Namun, diketahui pula kota itu bersiap untuk memberi perlawanan.”

Pertahanan Alexandria saat itu sungguh memprihatinkan, mencerminkan rapuhnya sistem Kekhalifahan Turki Utsmani dan faksi Mamluk di Mesir. Kota berpenduduk sekitar 8.000 jiwa itu hanya dijaga oleh sekira 500 prajurit gabungan Mamluk dan Utsmani yang minim persenjataan modern. Mereka dipimpin oleh seorang gubernur lokal yang nyalinya jauh melampaui logika matematis peperangan: Muhammad Kurayyim.

Pada dini hari 2 Juli 1798, pasukan Prancis mulai mendarat. Tiga jenderal andalan Napoleon—Jean-Baptiste Kléber, Louis André Bon, dan Jean Menou—masing-masing memimpin 430 prajurit unit pendahulu. Kavaleri Badui sempat memberikan serangan kejutan, namun mundur setelah menyadari mereka berhadapan dengan mesin perang paling modern di Eropa.

Tepat pukul 8 pagi, Napoleon berdiri di depan gerbang kota kuno tersebut. Ia mengharapkan penyerahan diri secara damai. Namun, dari balik tembok raksasa peninggalan masa lalu, yang terdengar justru takbir dan sorak sorai perlawanan. Muhammad Kurayyim telah mengawaki empat meriam tuanya, menolak tunduk pada pasukan kafir yang datang dari seberang lautan.

Sejarawan Juan Cole dalam Napoleon’s Egypt: Invading the Middle East mencatat ultimatum arogan yang dikirimkan Napoleon kepada Kurayyim:

“Saya terkejut melihat Anda siap untuk menghadapi saya. Entah Anda benar-benar bodoh atau memang sangat nekat, untuk percaya bahwa Anda mampu melawan saya hanya dengan dua atau tiga meriam. Pasukan saya sudah menaklukkan kekuatan Eropa. Jika dalam 10 menit saya tidak melihat bendera putih dikibarkan, Anda akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas darah yang tertumpah…”

Tragedi Berdarah dan Lahirnya Sang Martir

Waktu 10 menit berlalu tanpa ada kibaran kain putih. Merasa ditantang, Napoleon memerintahkan artilerinya memuntahkan hujan peluru besi ke arah tembok Alexandria. Pasukan Prancis menyerbu, merayap bak semut ke atas tembok pertahanan.

Perbedaan kualitas militer itu menghasilkan pembantaian massal. Jenderal Pierre Boyer, ajudan Napoleon, melukiskan kebrutalan hari itu dalam surat kepada orang tuanya: “Banyak jenderal yang terluka, termasuk Kléber, dan kami kehilangan 150 prajurit. Kami memukul balik mereka. Mereka mengungsi ke masjid-masjid. Pria, wanita, lansia, bayi yang sedang menyusui, semua dibantai.”

Menjelang senja, Alexandria jatuh. Muhammad Kurayyim ditangkap hidup-hidup. Awalnya, Napoleon yang pandai bermain politik menjanjikan jabatan gubernur tetap dipegang oleh Kurayyim, dengan harapan tokoh lokal itu bisa meredam gejolak masyarakat.

Namun, darah patriotik Kurayyim tidak bisa dibeli dengan jabatan dari sang penjajah. Alih-alih tunduk, secara diam-diam ia mengonsolidasi kekuatan, berkonspirasi memicu pemberontakan di Damanhur. Aktivitas subversif ini tercium oleh intelijen Prancis. Jenderal Kléber yang ditugaskan menjaga garnisun Alexandria menangkap kembali Kurayyim pada 20 Juli 1798.

Sang Gubernur dijebloskan ke sel pengap di Menara Pelabuhan Abu Qir. Sejarah perlawanannya menemui babak akhir ketika ia dipindahkan ke Kairo—yang baru saja ditaklukkan Napoleon usai Pertempuran Piramida.

Di pengadilan militer Kairo, Napoleon menuntut uang tebusan dalam tenggat waktu 12 jam. Kurayyim, yang memegang teguh kehormatannya, menolak membayar sepeser pun kepada penjajah. Arthur Goldschmidt dalam Biographical Dictionary of Egypt mencatat akhir tragis sang pahlawan.

“Setelah disiksa dan dipermalukan, Kurayyim dieksekusi oleh regu tembak pada 6 September 1798. Kepalanya yang dipenggal, dipamerkan di sebuah tiang dengan kertas bertuliskan: ‘Inilah nasib bagi siapa pun yang menentang Prancis’.”

Kisah eksekusi Kurayyim dan hancurnya VOC mungkin terjadi di dua benua yang terpisah jarak ribuan kilometer. Namun, keduanya adalah benang merah yang dirajut oleh tangan yang sama.

Ambisi imperialisme Eropa di bawah panji Revolusi Prancis telah membuktikan bahwa demi kejayaan sepihak, nyawa di Alexandria dan kemerdekaan di Nusantara hanyalah komoditas yang siap dikorbankan. Sampai hari ini, bagi rakyat Mesir, nama Muhammad Kurayyim abadi bukan sebagai pecundang perang, melainkan martir revolusioner dan pahlawan nasional pertama mereka.

Exit mobile version