Udara Malang Raya Sempat Memburuk gegara Kebakaran TPA Supit Urang

Petugas berjibaku memadamkan api di TPA Supit Urang. (ist)

INDONESIAONLINE – Kualitas udara wilayah Malang Raya terdampak akibat kebakaran Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Supit Urang di Kecamatan Sukun, Kota Malang. Namun, berdasarkan hasil pemantauan pada Jumat (23/10/2026), kualitas udara kini kembali berada dalam kategori sedang setelah sehari sebelumnya sempat masuk kategori tidak sehat.

Fungsional ahli madya BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Maksum Purwanto, menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara terdeteksi pada Kamis (22/10/2026). Saat itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 menjadi parameter yang menunjukkan kondisi kurang baik pada waktu-waktu tertentu.

Menurut Maksum, kondisi tersebut terpantau pada pagi dan sore hari, masing-masing pukul 07.00-08.00 WIB dan 15.00-16.00 WIB. Kemunculan asap dari kebakaran TPA Supit Urang diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan kualitas udara tersebut.

“Pada Kamis kemarin, hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara sempat masuk kategori tidak sehat dalam dua rentang waktu, yakni pagi dan sore hari. Kondisi ini diduga berkaitan dengan asap kebakaran TPA Supit Urang yang terbawa angin hingga ke lokasi pemantauan,” jelas Maksum.

Ia menambahkan, dampak asap kebakaran tidak serta-merta dirasakan secara merata di seluruh wilayah Malang. Penyebaran polutan di udara dipengaruhi oleh arah dan pergerakan angin, sehingga konsentrasi asap yang terpantau di satu lokasi belum tentu sama dengan kondisi di daerah lainnya.

Maksum mencontohkan, asap kebakaran tersebut terdeteksi hingga kawasan Karangploso, tempat kantor BMKG melakukan pemantauan. Sementara itu, wilayah lain bisa saja mengalami kondisi berbeda karena tidak seluruhnya berada pada jalur pergerakan asap.

“Sebaran asap sangat bergantung pada arah angin. Asap dari kebakaran TPA Supit Urang kebetulan terbawa hingga ke kantor kami di Karangploso. Karena itu, kondisi kualitas udara di satu lokasi tidak bisa langsung disamakan dengan seluruh wilayah Malang,” tambahnya.

Perkembangan terbaru menunjukkan kondisi kualitas udara di Malang mulai membaik. Berdasarkan data pemantauan BMKG pada Jumat (23/10/2026), kualitas udara telah kembali masuk kategori sedang.

Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan, terutama ketika terjadi kebakaran yang menghasilkan asap dalam jumlah besar. Partikel halus PM2.5 menjadi salah satu parameter penting karena dapat terhirup bersama udara dan berdampak terhadap kesehatan.

Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi lingkungan, khususnya ketika asap tercium atau terlihat di sekitar tempat tinggal. Upaya mengurangi sumber polusi juga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas udara tetap terkendali.

Selain memantau perkembangan kualitas udara, Maksum mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama periode kemarau. Kondisi lingkungan yang lebih kering membuat api berpotensi lebih mudah menyebar apabila muncul sumber percikan.

Ia meminta masyarakat menghindari aktivitas pembakaran sampah di lahan terbuka maupun pembakaran lahan untuk kepentingan pertanian. Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga perlu dihentikan karena dapat memicu kebakaran ketika mengenai material yang mudah terbakar.

“Pada kondisi kemarau seperti sekarang, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berhubungan dengan api. Hindari membakar sampah di lahan terbuka, membakar lahan untuk membuka area pertanian, maupun membuang puntung rokok sembarangan,” tegas Maksum.

Ia juga mengingatkan warga agar tidak menyalakan api di kawasan hutan atau lahan kering serta memastikan tidak ada benda yang berpotensi menimbulkan percikan api ditinggalkan tanpa pengawasan.

Menurut dia, pencegahan menjadi langkah penting untuk menghindari kebakaran yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

“Jangan meninggalkan sumber api atau benda yang berpotensi memicu percikan di lokasi yang mudah terbakar. Kesadaran masyarakat sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan kualitas udara tetap terjaga,” tutupnya. (,ir/hel)