UIN Malang Hadirkan Mentoring Pakar untuk Atasi Kecemasan Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir

Ratusan mahasiswa UIN Maliki Malang mengikuti bimbingan teknis  penyusunan tugas akhir. Salah satu pembekalannya adalah mengatasi kecemasan akademik. (ist)

INDONESIAONLINE  – Kecemasan akademik atau academic anxiety menjadi salah satu tantangan yang banyak dihadapi mahasiswa tingkat akhir saat menyelesaikan tugas akhir. Kondisi psikologis tersebut dinilai tidak hanya memperlambat penyusunan skripsi, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas capaian akademik mahasiswa.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan bimbingan teknis penyusunan tugas akhir yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang beberapa waktu lalu.

Dalam kegiatan tersebut, dosen Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang Dr Fathul Lubabin Nuqul menjelaskan bahwa academic anxiety merupakan kondisi psikologis yang lebih kompleks daripada sekadar rasa gugup. Menurut dia, kecemasan akademik kerap berkaitan dengan kebiasaan menunda pekerjaan (prokrastinasi) maupun impostor syndrome, terutama karena  penyusunan skripsi dilakukan secara mandiri sehingga mahasiswa mudah terjebak dalam keraguan dan overthinking.

“Kecemasan akademik sering kali membuat mahasiswa kehilangan arah. Mereka tahu harus mulai, tetapi terhambat oleh rasa takut salah dan tidak percaya diri,” ujar Dr Fathul di hadapan para peserta.

Ia menerangkan bahwa penyusunan skripsi idealnya dapat dituntaskan dalam waktu enam hingga delapan bulan. Apabila melewati rentang waktu tersebut, motivasi belajar maupun kualitas pekerjaan cenderung mengalami penurunan. Kondisi itu semakin memburuk ketika mahasiswa memilih menunda penyelesaian tugas sebagai respons terhadap tekanan psikologis yang dirasakan.

Untuk mengurangi dampak academic anxiety, Fathul menilai pendampingan tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis penulisan. Penguatan hubungan antara mahasiswa dan dosen pembimbing juga menjadi faktor penting dalam membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhirnya.

“Dosen pembimbing bukan hanya evaluator akademik, tetapi juga berperan sebagai motivator yang membantu mahasiswa menentukan langkah konkret,” katanya.

Selain dukungan dari dosen pembimbing, interaksi antarmahasiswa juga dinilai memiliki peran penting dalam mengatasi kecemasan akademik. Melalui diskusi dan saling berbagi pengalaman, mahasiswa dapat membangun mekanisme coping yang efektif sehingga tidak merasa menghadapi tekanan seorang diri. Karena itu, mahasiswa didorong untuk aktif membangun jejaring dukungan agar tidak terjebak dalam kecemasan yang berlebihan.

Komitmen Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang dalam menekan academic anxiety juga diwujudkan melalui program bimbingan teknis peminatan penelitian yang dilaksanakan di Kampus 3 UIN Maliki. Dalam program tersebut, mahasiswa memperoleh pendampingan langsung dari akademisi lintas kepakaran. Di antaranya Prof Dr Ali Ridho dan Prof Dr Rifa Hidayah sesuai bidang penelitian masing-masing.

Skema pendampingan berbasis pakar tersebut dirancang sebagai langkah preventif untuk mengurangi kebingungan dalam penyusunan konsep penelitian sekaligus menekan potensi munculnya kecemasan akademik. Dengan demikian, mahasiswa tidak lagi menjalani  penyusunan tugas akhir secara sendiri, melainkan berada dalam lingkungan akademik yang lebih terarah dan suportif.

Fakultas Psikologi  juga memberikan pilihan luaran tugas akhir yang lebih beragam melalui inovasi kurikulum. Selain skripsi konvensional, mahasiswa memiliki kesempatan menghasilkan karya berupa publikasi jurnal ilmiah maupun buku hasil penelitian sehingga lebih leluasa menentukan bentuk tugas akhir yang sesuai.

Program tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa. Pendampingan yang dilakukan secara intensif dinilai mampu meningkatkan rasa percaya diri, memperjelas arah penelitian, sekaligus membantu mempercepat penyelesaian tugas akhir dengan mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan.

Melalui pendekatan yang menggabungkan aspek akademik dan psikologis, Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang berupaya membangun lingkungan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada prestasi intelektual, tetapi juga memperhatikan ketahanan mental mahasiswa. Dalam pendekatan tersebut, academic anxiety dipandang sebagai tantangan yang dapat dikelola melalui strategi yang tepat serta dukungan yang berkesinambungan.

Menjelang ujian skripsi, Dr Fathul kembali mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan diri. Menurut dia, mahasiswa merupakan pihak yang paling memahami penelitian yang telah dikerjakan sehingga perlu tetap tenang saat menghadapi proses ujian.

“Dalam ujian skripsi, mahasiswa harus yakin dengan kapasitasnya sendiri. Jika belum bisa menjawab, tetap tenang karena itu bagian dari proses evaluasi,” pungkasnya. (hsa/hel)