7 Wisata Sejarah Sumenep Masuk Cagar Budaya

JATIMTIMESKabupaten Sumenep merupakan kabupaten yang kaya akan keindahan alamnya. Tidak hanya kekayaan alam yang melimpah ruah, kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Madura itu juga menyimpan destinasi sejarah yang menarik ditelusuri.

Sebut saja keberadaan sejumlah situs sejarah peninggalan kerajaan yang saat ini menjadi cagar budaya, serta banyak digemari masyarakat untuk berwisata sejarah.

Berikut 7 situs sejarah di Sumenep yang terverifikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dan berhasil dirangkum Jatimtimes.com dari berbagai sumber.

Keraton Sumenep

Iya, Keraton Sumenep merupakan tempat kediaman resmi para Adipati/Raja-Raja yang memerintah Sumenep. 

Keraton ini dibangun pada abad ke 17, tepatnya tahun 1781. Keunikan dari keraton ini adalah arsitekturnya yang bercorak Tionghoa. 

Keraton Sumenep memang dirancang oleh arsitek warga keturunan Tionghoa, bernama Lauw Piango. 

Kini wisatawan bisa menilik sejarah Keraton Sumenep di museum Keraton Sumenep yang berada di Jl. Dr. Sutomo No.6, Lingkungan Delama, Pajagalan, Kabupaten Sumenep. 

Di museum ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah Keraton Sumenep mulai dari bangunan, alat upacara adat, perhiasan, prasasti, koleksi senjata, hingga peralatan pribadi anggota kerajaan.

Masjid Agung

Masjid Agung atau juga disebut sebagai Masjid Jami Sumenep, merupakan masjid kebanggan warga Sumenep. Masjid Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Agung Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid ini dibangun pada pemerintahan Panembahan Somala, Penguasa Negeri Sungenep XXXI.

Masjid ini dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan pendukung Keraton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga keraton dan masyarakat. 

Arsitektur bangunan masjid sendiri, secara garis besar banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura, salah satunya pada pintu gerbang pintu masuk utama masjid yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok.

Masjid ini juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya mempunyai tinggi 50 meter terdapat di sebelah barat masjid.

Asta Tinggi

Asta Tinggi Sumenep merupakan pemakaman para Pembesar/Raja/Kerabat Raja yang teletak di kawasan dataran tinggi bukit Kebon Agung Sumenep. Asta Tinggi memiliki 7 kawasan yang terdiri dari asta induk, Makam Ki Sawunggaling, Makam Patih Mangun, Makam Kanjeng Kai, makam Raden Adipati Pringgoloyo, Makam Raden Tjakra Sudibyo, dan Makam Raden Wongsokoesomo.

Arsitektur Makam dalam kompleks ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan yang berkembang pada masa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari penataan kompleks makam dan beberapa batu nisan yang cenderung berkembang pada masa awal islam berkembang di tanah Jawa dan Madura. Selain itu pengaruh-pengaruh dari kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam.

Kota Tua Kalianget

Kota Tua Kalianget dulunya merupakan kota yang dibangun oleh VOC dan diteruskan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Kota Tua Kalianget merupakan salah satu kota modern pertama di Pulau Madura. Bangunan-bangunan berarsitektur Eropa membentang di kawasan ini.

Kini lahan Kota Tua Kalianget menjadi hak milik PT Garam (Persero). Sejak tahun 2009, PT Garam bersama dengan Pemerintah Kabupaten Sumenep menjalin komunikasi mengenai kemungkinan menjadikan Kota Tua Kalianget sebagai kawasan wisata sejarah.

Sampai saat ini beberapa bagian bangunan Pabrik Garam Briket Modern itu masih tersisa, mulai dari gedung pembangkit listrik, pintu gerbang, jam tua, hingga cerobong asap pabrik. Di kawasan Kota Tua Kalianget, juga bisa dijumpai berderet-deret bangunan berarsitektur Eropa yang masih tampak megah.

Benteng Kalimo’ok

Benteng Kalimo’ok merupakan satu-satunya bangunan benteng yang ada di Pulau Madura. Posisi benteng ini berada jauh dari Pelabuhan Kalianget dan juga pusat kota. Tak banyak yang bisa digali dari sejarah benteng ini. Namun di masanya, bangunan ini terbilang megah, dan merupakan pusat pertahanan utama sekaligus terakhir VOC.

Benteng ini mempunyai area persegi dengan empat bastion dengan lebar 5 meter. Benteng Kalimo’ok Sumenep dibangun dari bata dengan dua pintu masuk, masing-masing ada di sisi utara dan sisi selatan. Di luar benteng ada kompleks pemakaman orang-orang yang diidentifikasi sebagai keturunan Belanda.

Asta Panembahan Blingi di Pulau Sapudi

Asta (makam) Panembahan Blingi berlokasi di Dusun Koattas, Desa Gendang Timur (Pulau Sapudi) Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Asta Blingi juga dikenal Asta Aryo Pulangjiwo atau Panembahan Wirokromo. Bentuk dan motif pusara tipologinya dikenal pada abad 17 masehi. Panembahan Blingi memerintah pada tahun 1386-1399 atau abad ke 14 masehi.

Dalam sejarah Sumenep, Ario Pulangjiwo dikatakan penguasa Islam di Pulau Sapudi. Secara genealogi, Ario Pulangjiwo masih merupakan putera Sayyid Ali Murtadla, saudara kandung Sunan Ampel, Denta, Surabaya.

Ario Pulangjiwo selanjutnya dikenal dengan nama Panembahan Walinge atau Blingi. Beliau sejaman dengan Pangeran Ario Saccadiningrat II, Raja Sumenep. Dalam kisah babad, maupun beberapa literatur sejarah tentang Sumenep maupun Madura, keduanya dikisahkan berbesanan. 

Putera tertua Pulangjiwo, Ario Baribin atau Bribin menikah dengan Raden Ayu Saini. Ario Baribin ini di Sumenep lebih dikenal dengan panggilan Adipoday. Sedangkan Raden Ayu Saini lebih dikenal sebagai Pottre Koneng. Keduanya lantas berputra 2 orang, Joko Tole, dan Agus Wedi.

Asta Pangeran Lor dan Pangeran Wetan

Pangeran Lor I atau R. Banten memerintah Sumenep antara tahun 1562-1567 M.29 ia tidak menikah sampai akhir hayatnya, dan lebih banyak melakukan ibadah kepada Allah SWT. Ia lebih suka menyepi (tafakkur) di tempat-tempat sunyi dalam gua di daerah Kasengan, gua Kalabangan. 

Sedangkan Pangeran Wetan I memiliki dua istri. Yang pertama R. Ayu Ratna Taluki (istri padmi), yaitu Putri dari Pangeran Nugroho (Apnembahan Bonorogo) Pamekasan dan memiliki anak bernama Raden Rajasa. Sedangkan istri yang kedua, yaitu putri dari Aria Wirabaya (Pangeran Siding Puri atau Pangeran Secodiningrat V) dan di karuniai putra bernama R. Keddu’.

Meskipun kerajaan Sumenep dipimpin oleh dua orang, namun  rasa aman, tentram dan sentosa tetap dapat dirasakan oleh semua rakyat Sumenep. Semua itu dikarenakan kekompakan dan kerja sama dalam menjalankan tugas.

Segala bentuk kekurangan yang ada di masyarakat selalu dicari jalan penyelesaian. Pangeran Lor I dan Pangeran Wetan I ketika wafat dimakamkan di Asta Karang Sabu, Desa Karang Duak, Kecamatan Kota Sumenep.



Syaiful Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Bupati Banyuwangi Ipuk Ingatkan Waspada Omicron saat Liburan

JATIMTIMES – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memberikan pesan kepada masyarakat untuk selalu…