INDONESIAONLINE – Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026). Para santri yang mengalami keluhan kemudian mendapat perawatan di delapan rumah sakit rujukan.
Salah seorang santriwati berinisial SZ (15) mengatakan, makanan MBG disantap sekitar pukul 13.00 WIB. Menu yang diterimanya terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, serta buah apel.
Menurut SZ, terdapat rasa yang tidak biasa pada salah satu menu, yakni sayuran, yang terasa asam. Beberapa jam setelah menyantap makanan tersebut, ia mulai merasakan mual, lemas, dan pusing.
“Sayur enggak habis, yang kecut dari sayurnya,” ujar SZ saat menjalani perawatan di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo.
Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, Abdul Wahid Harun, mengatakan sekitar 1.000 santri di pesantren tersebut menerima dan mengonsumsi MBG pada hari kejadian. Dari jumlah tersebut, 431 santri telah dievakuasi ke rumah sakit.
Wahid menegaskan makanan tersebut bukan diproduksi oleh pihak pesantren. MBG yang dikonsumsi para santri berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Ia mengatakan pihak pesantren telah mendirikan posko untuk membantu memantau kondisi para santri, baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang masih berada di lingkungan pesantren.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim Emil Elestianto Dardak memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Emil juga mengungkapkan bahwa keluhan serupa dialami penerima MBG dari sejumlah sekolah lain yang mendapatkan makanan dari SPPG yang sama. “Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kalitengah,” kata Emil.
Menurut wagub, terdapat 19 lembaga pendidikan yang terdampak. Lembaga tersebut mencakup pondok pesantren, SMA, SMP, SD, hingga TK yang berada di Kecamatan Tanggulangin.
Emil menjelaskan SPPG Kalitengah sebenarnya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sarana dan prasarana dapur juga dinilai telah memenuhi ketentuan. Sementara sejumlah tenaga pengelola telah mengikuti sertifikasi penjamah makanan dan sertifikasi halal telah dimiliki.
Namun, menurut Emil, kepemilikan SLHS tidak serta-merta menjamin makanan terbebas dari persoalan. Pemeriksaan tersebut lebih banyak berkaitan dengan sistem dan sarana prasarana secara umum.
Ia menyebut potensi masalah masih dapat terjadi pada kualitas bahan makanan ataupun proses pengolahan dan distribusi yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur.
SPPG Di-suspend Sementara
Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan pihaknya langsung mendatangi SPPG Kalitengah setelah menerima laporan kejadian tersebut.
Untuk sementara, operasional dapur MBG itu dihentikan.
SPPG Kalitengah Tanggulangin diketahui memasok sekitar 2.800 porsi makanan setiap hari untuk sekolah dan pesantren. Sekitar 1.000 porsi di antaranya diperuntukkan bagi santri Ponpes Manbaul Hikam.
Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama kepolisian juga telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium.
Teguh mengatakan BGN pusat telah menerbitkan surat penghentian sementara atau suspend terhadap SPPG tersebut. Keputusan apakah penghentian akan diperpanjang atau ditingkatkan menjadi suspend permanen masih menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium.
“Jadi, sementara kami sedang laporan ke pusat. Pusat akan menimbang apakah suspend-nya sementara atau suspend permanen,” kata Teguh. (hsa/hel)







