Duka mendalam menyelimuti pekerja migran. Tujuh Srikandi Indonesia tewas dalam kebakaran apartemen Tai Po, Hong Kong. Simak laporan mendalam mengenai kronologi ‘jaring maut’ dan kerentanan PMI di gedung tua.
INDONESIAONLINE – Langit di atas distrik Tai Po berubah kelabu pada Rabu (26/11) sore, bukan karena mendung, melainkan asap hitam pekat yang membumbung dari kompleks Wang Fuk Court. Bagi komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI), asap itu kini menjadi simbol duka paling kelam di penghujung tahun ini.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, pada Sabtu (29/11), mengonfirmasi kabar yang paling ditakuti: jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang tewas dalam insiden kebakaran dahsyat tersebut bertambah menjadi tujuh orang. Mereka seluruhnya adalah perempuan, para “Srikandi Devisa” yang bekerja di sektor domestik, yang nasibnya berakhir tragis di negeri beton tersebut.
Jaring Maut di Gedung Tua
Peristiwa ini bukan sekadar kebakaran biasa, melainkan sebuah anomali mematikan dalam sejarah keselamatan bangunan di Hong Kong. Berdasarkan data kepolisian setempat, total korban jiwa mencapai angka yang mencengangkan: 128 orang tewas dan 79 luka-luka per Jumat (28/11).
Mengapa api begitu ganas? Investigasi awal kepolisian Hong Kong menyoroti “jaring maut”. Ketujuh blok apartemen yang terbakar sedang dalam tahap renovasi fasad. Seluruh gedung diselimuti jaring pengaman (safety net) dan perancah bambu (scaffolding).
Alih-alih menahan puing konstruksi, jaring tersebut diduga menjadi konduktor api yang mempercepat rambatan panas ke seluruh lantai, menciptakan efek cerobong asap (chimney effect) yang mematikan.
“Bahan jaring pada konstruksi semestinya resisten terhadap api (fire retardant). Kontraktor di Hong Kong wajib memiliki sertifikat untuk itu,” ungkap sumber kepolisian.
Fakta bahwa api melahap jaring dengan cepat mengindikasikan adanya pelanggaran fatal. Pemerintah Hong Kong bergerak cepat dengan menahan 11 orang yang kini berstatus tersangka atas dugaan pembunuhan dan kelalaian berat.
Dilema Pekerja Domestik: Terjebak Tugas dan Bahaya
Kematian tujuh PMI ini membuka mata publik akan kerentanan pekerja domestik dalam situasi bencana. Data demografis Wang Fuk Court menunjukkan bahwa kawasan tersebut banyak dihuni oleh lansia. Sebagai pekerja rumah tangga yang diwajibkan tinggal bersama majikan (live-in rule), para PMI ini memiliki tanggung jawab merawat para lansia tersebut.
Dalam situasi panik, besar kemungkinan para korban tidak segera menyelamatkan diri sendiri, melainkan berusaha menolong lansia yang mereka rawat, atau terjebak di unit-unit apartemen yang sempit—sebuah karakteristik umum hunian kelas pekerja di Hong Kong.
KJRI Hong Kong saat ini bekerja keras melakukan penyisiran data. Dari pemetaan ketenagakerjaan, tercatat ada sekitar 140 PMI yang bekerja di kawasan Wang Fuk Court. Hingga kini, baru 61 orang yang berhasil dikonfirmasi kondisinya, termasuk tujuh yang meninggal dunia dan satu yang masih dalam perawatan stabil di rumah sakit. Artinya, masih ada 79 WNI lain yang keberadaannya sedang diverifikasi di tengah kekacauan pasca-bencana.
Respons dan Langkah Lanjutan
Tragedi ini menjadi ujian berat bagi perlindungan WNI di luar negeri. KJRI Hong Kong telah membuka posko kedaruratan di gedung KJRI dan Tai Po Community Centre. Koordinasi dengan Hong Kong Police Force (HKPF) dan otoritas rumah sakit terus dilakukan untuk memantau 15 rumah sakit tempat para korban dirawat.
“Seluruh korban meninggal adalah perempuan dan pekerja migran sektor domestik,” tegas pernyataan resmi KJRI.
Kalimat singkat ini mengandung makna mendalam tentang siapa yang paling rentan saat bencana melanda hunian vertikal padat penduduk.
Pemerintah Hong Kong, yang dikenal memiliki standar keselamatan gedung yang ketat (Fire Safety Buildings Ordinance), kini dihadapkan pada kritik tajam terkait pengawasan material renovasi. Bagi keluarga di tanah air, penantian kabar dari 79 PMI yang belum terverifikasi adalah siksaan batin yang tak terperi.
Peristiwa di Tai Po bukan sekadar statistik kecelakaan kerja. Ini adalah alarm keras tentang risiko yang mengintai di balik gedung-gedung pencakar langit tempat ribuan ibu, saudara perempuan, dan anak perempuan Indonesia mengais rezeki. Kini, tujuh nyawa telah melayang, menjadi saksi bisu ganasnya api yang menjalar di antara jaring-jaring konstruksi yang seharusnya melindungi, namun justru mematikan.













