BEM UI Gelar Solidarity Campaign Diriuh CFR Bundaran HI

BEM UI gelar Solidarity Campaign di CFD Bundaran HI (Ist)

BEM UI geser arena demo ke Car Free Day Bundaran HI. Suara mahasiswa dan warga bersatu di HUT Jakarta 499 soroti isu nasional.

INDONESIAONLINE – Di tengah riuh rendahnya dentuman musik dan langkah kaki ribuan warga yang merayakan HUT ke-499 Jakarta, Minggu (28/6/2026), ada sebuah sudut di Bundaran HI yang memilih untuk berbicara dengan nada berbeda. Bukan dengan teriakan pengeras suara yang membahana, melainkan melalui percakapan-percakapan kecil yang menggelitik kesadaran publik.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi mahasiswa lintas kampus hadir di tengah keramaian Car Free Day (CFD) bukan untuk sekadar berolahraga, melainkan untuk menggelar “Solidarity Campaign CFD.”

Pilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Jika biasanya aksi mahasiswa identik dengan penutupan jalan raya menuju istana atau gedung pemerintahan, kali ini mereka memilih ruang publik yang lebih inklusif. Yatalathof Ma’shum Imawan, Ketua BEM UI, menuturkan bahwa aksi ini lahir dari keresahan yang dirasa terus menumpuk tanpa respons yang memadai dari pemerintah.

“Kemarahan itu adalah nyata, terukur, dan beralasan. Tapi kemarahan itu belum dijawab. Dan memang tidak pernah dijawab,” ujar Yatalathof, Minggu (28/6/2026).

Bagi para mahasiswa, CFD menjadi panggung yang ideal karena di sanalah wajah-wajah Jakarta yang sebenarnya berkumpul. Menurut Yatalathof, menyampaikan aspirasi di ruang publik adalah cara agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, melainkan terlibat langsung dalam pembahasan isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama.

Menjamah Isu yang Mengusik

Dalam kampanye solidaritas ini, sejumlah isu nasional yang tengah hangat dibawa ke permukaan. Salah satu yang paling disoroti adalah transparansi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mahasiswa menilai bahwa program strategis nasional tersebut masih membutuhkan pengawasan ketat agar benar-benar menyentuh sasaran tanpa adanya kebocoran anggaran.

Tak hanya itu, perhatian juga tertuju pada tragedi meninggalnya sejumlah peserta pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Peristiwa yang memilukan tersebut dinilai perlu mendapat penjelasan secara terbuka agar tidak memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat.

Aliansi mahasiswa juga menyoroti penggunaan anggaran negara yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil masyarakat, serta kondisi ruang sipil yang dianggap semakin menyempit.

“Di saat pemerintah memilih tutup telinga dari data dan fakta, kami memilih membuka percakapan langsung dengan rakyat,” kata Athof, salah satu perwakilan aliansi.

Berbeda dengan demonstrasi konvensional yang seringkali diwarnai ketegangan, kegiatan di Bundaran HI ini dikemas secara apik. Panitia menyediakan mimbar bebas yang bisa digunakan siapa saja—mulai dari buruh, guru, pengemudi ojek online, hingga ibu rumah tangga—untuk menyampaikan pengalaman hidup mereka.

Tak jauh dari sana, instalasi publik berisi data, informasi, dan kritik dipasang di tengah taman kota. Tulisan-tulisan tersebut sengaja diletakkan di ruang terbuka agar bisa dibaca oleh warga yang sedang beristirahat dari aktivitas lari atau bersepeda mereka.

Melampaui Riuhnya Pemberitaan

Gerakan ini mendapat dukungan solid dari berbagai organisasi mahasiswa lintas kampus, seperti Kepresma Usakti, BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), hingga BEM Universitas Esa Unggul. Mereka sepakat bahwa pengawalan terhadap kebijakan pemerintah tidak boleh berhenti hanya karena perhatian media mulai bergeser ke isu lain.

Menurut penyelenggara, konsep ini dipilih agar ruang publik kembali berfungsi sebagai wadah bertukar gagasan. Mereka ingin menunjukkan bahwa kritik terhadap negara bisa disampaikan dengan cara yang elegan, edukatif, namun tetap tegas.

Panitia juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak ditujukan untuk mengganggu jalannya CFD. Seluruh rangkaian acara berlangsung di sisi kawasan, sehingga warga tetap bisa menikmati hari bebas kendaraan mereka dengan tenang.

“Keadilan tidak datang sendiri. Ia harus terus dijemput, hari demi hari, oleh rakyat yang tidak mau menyerah pada ketidakadilan. Suara kita bukan hanya hak, tetapi suara kita adalah mandat,” tegas Athof di penghujung diskusi.

Di bawah rindangnya pohon Bundaran HI, dialog antara rakyat dan mahasiswa berlangsung hangat, membuktikan bahwa kepedulian terhadap bangsa tidak selalu harus berujung pada benturan, melainkan bisa dimulai dari obrolan sederhana di tengah keramaian.