INDONESIAONLINE – Deretan pengusaha asal Kalimantan Barat dan Jawa Tengah menguasai posisi puncak daftar individu tertajir di Indonesia menurut pembaruan Forbes Billionaires List per Selasa (4/8/2026). Pergeseran nilai valuasi serta pergerakan saham perusahaan menempatkan para konglomerat dari berbagai lini industri -seperti pertambangan, perbankan, hingga pusat data- di peringkat teratas.
Posisi pemuncak ditempati Low Tuck Kwong, pebisnis kelahiran Singapura yang mendirikan emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk. Harta Low Tuck Kwong ditaksir mencapai 16,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 302 triliun).
Menempel ketat di urutan kedua, Prajogo Pangestu, taipan kelahiran Bengkayang, Kalimantan Barat sekaligus pendiri Barito Pacific Group. Prajogo mencatatkan kekayaan sebesar 16 miliar dollar AS (sekitar Rp 288 triliun).
Sementara itu, peringkat ketiga diduduki Robert Budi Hartono. Pengusaha asal Semarang, Jawa Tengah, yang memimpin Grup Djarum dan menguasai saham mayoritas PT Bank Central Asia Tbk (BCA) ini mengantongi kekayaan senilai 15,9 miliar dollar AS (sekitar Rp 286 triliun).
Anthoni Salim, taipan asal Kudus, Jawa Tengah, dari Salim Group menduduki posisi keempat. Anthoni memiliki kekayaan 10,6 miliar dollar AS atau Rp 191 triliun.
Pengusaha kelahiran Surabaya Sri Dato Tahir (Mayapada Group) berada di peringkat kelima. Hartanya mencapai 9,4 miliar dollar AS atau Rp 169 triliun.
Berikut susunan lengkap 10 figur terkaya di Indonesia versi Forbes awal Agustus 2026:
- Low Tuck Kwong (PT Bayan Resources Tbk) – 16,8 miliar dollar AS / Rp 302 triliun
- Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group) – 16 miliar dollar AS / Rp 288 triliun
- Robert Budi Hartono (Grup Djarum & BCA) – 15,9 miliar dollar AS / Rp 286 triliun
- Anthoni Salim (Salim Group) – 10,6 miliar dollar AS / Rp 191 triliun
- Sri Dato Tahir (Mayapada Group) – 9,4 miliar dollar AS / Rp 169 triliun
- Sri Prakash Lohia (Indorama Corporation) – 8,3 miliar dollar AS / Rp 149 triliun
- Otto Toto Sugiri (PT DCI Indonesia Tbk) – 7,7 miliar dollar AS / Rp 138 triliun
- Marina Budiman (PT DCI Indonesia Tbk) – 5,5 miliar dollar AS / Rp 99 triliun
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (Harita Group) – 4,6 miliar dollar AS / Rp 82 triliun
- Theodore Rachmat (Triputra Group) – 4,3 miliar dollar AS / Rp 77 triliun
Pergerakan nilai aset ini menegaskan ketahanan bisnis para pelaku industri kunci dalam menopang jajaran konglomerasi terbesar di Indonesia. (ars/hel)







