INDONESIAONLINE – Komunitas Pemuda Bawean Gresik (PBG) turut memeriahkan Gresik Merdeka Carnival yang digelar Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik, Sabtu (29/8/2026).
Berbeda dari kendaraan peserta lainnya yang tampil dengan beragam warna dan ornamen, mobil hias milik PBG mengusung konsep biru laut dan samudra. Dekorasi tersebut tidak sekadar menjadi penghias karnaval, tetapi juga menyuarakan persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat Pulau Bawean, khususnya terkait transportasi laut ketika cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Melalui konsep tersebut, PBG menggambarkan dampak terhentinya akses penyeberangan yang berjarak sekitar 81 mil dari Gresik. Kondisi itu berimbas pada berbagai sektor kehidupan masyarakat Bawean, mulai dari ekonomi hingga kesehatan.

Ketika kapal tidak dapat beroperasi, harga sejumlah kebutuhan pokok dapat melonjak. Harga LPG bahkan disebut mencapai Rp70 ribu, sementara tiga butir telur ayam dibanderol Rp20 ribu. Di sektor kesehatan, kebutuhan oksigen juga harus didatangkan menggunakan perahu nelayan.
Tidak hanya warga Bawean yang terdampak. Wisatawan maupun warga Bawean yang berada di Malaysia dan hendak pulang juga terpaksa menerima risiko tiket perjalanan hangus karena tertahan akibat tidak adanya kapal. Mereka bahkan harus membeli tiket baru ketika kondisi memungkinkan. Biaya operasional juga bertambah bagi warga yang harus berhari-hari tertahan di daratan Gresik.
Dalam parade tersebut, peserta dari PBG turut menyanyikan lagu-lagu Bawean. Mereka juga menyampaikan orasi yang menyoroti persoalan transportasi laut menuju Pulau Bawean yang dinilai belum kunjung menemukan solusi permanen.
Ketua PBG Ramli Salim mengatakan, keterlibatan masyarakat Bawean dalam karnaval kali ini memang sengaja diarahkan untuk menyampaikan persoalan transportasi laut. Perwakilan warga dari Kecamatan Sangkapura dan Tambak memilih isu tersebut karena masalah penyeberangan Bawean sudah berlangsung cukup lama.
“Hampir dua dekade masalah ini muncul dan tidak ada solusi panjang. Penanganannya hanya bersifat sementara. Sehingga saat cuaca buruk seperti ini, tidak ada kapal yang beroperasi. Sudah waktunya kapal yang lebih besar melayani penyeberangan Pulau Bawean,” ujar Ramli.
Ia menjelaskan, pembuatan mobil hias tersebut dilakukan secara swadaya dengan menghimpun dana dari masyarakat. Mobil bak terbuka kemudian disulap dengan dekorasi yang menggambarkan laut dan gelombang.
Pembuatan dekorasi juga mendapat dukungan materi dari camat Sangkapura dan Tambak. Selain itu, sejumlah donatur dari anggota dan pengurus PBG serta Persatuan Saudagar Bawean (PSB) ikut memberikan dukungan.
Ramli berharap pesan yang dibawa PBG melalui Gresik Merdeka Carnival dapat menjadi perhatian pemerintah, terutama di tengah perayaan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menegaskan, masyarakat Bawean memiliki harapan besar agar pemerintah menghadirkan kapal berukuran lebih besar yang mampu melayani penyeberangan secara lebih andal. “Apa yang kami sampaikan merupakan aspirasi masyarakat di Pulau Bawean. Semoga menjadi perhatian bersama, terlebih Pemerintah Kabupaten Gresik,” harapnya.
Sementara itu, Gresik Merdeka Carnival kembali digelar setelah cukup lama tidak diselenggarakan. Ribuan masyarakat memadati sejumlah ruas jalan untuk menyaksikan parade 24 mobil hias yang menampilkan berbagai konsep dan kreativitas.
Kendaraan peserta disulap menjadi berbagai bentuk, layaknya rumah berjalan. Peserta berasal dari beragam unsur, mulai pemerintah daerah, perusahaan, instansi, hingga komunitas.
Keikutsertaan PBG menjadi salah satu bentuk kreativitas sekaligus ruang bagi masyarakat Bawean untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi melalui kemeriahan perayaan kemerdekaan. (rds/hel)






