INDONESIAONLINE – Luas kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tercatat mencapai 1.534 hektare. Meski area terdampak cukup luas, kondisi kobaran api dan kepulan asap akibat kebakaran kini mulai terkendali.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, data tersebut diperoleh berdasarkan hasil pemantauan dan pendataan menggunakan sistem pengumpulan koordinat.
Dari hasil pendataan tersebut, area yang terbakar tersebar di dua kawasan, yakni Pos Lapang Merkusi dan Pos Lapang Selorejo.
“Luas area yang terbakar di Pos Lapang Merkusi kurang lebih 385 hektare. Sedangkan di Pos Lapang Selorejo seluas kurang lebih 1.149 hektare. Total luas area yang terbakar kurang lebih 1.534 hektar,” ujar Sadono.
Meskipun kobaran api besar sudah tidak terlihat, penanganan karhutla masih terus dilakukan. Pada Minggu, 20 September 2026, tim gabungan dijadwalkan kembali melakukan pemantauan visual untuk memastikan kondisi di sejumlah titik terdampak.
Monitoring tersebut akan dilakukan dari beberapa lokasi. Di antaranya melalui Pos Merkusi Precet di Kecamatan Wagir serta Pos AJU dan titik pengamatan di Selorejo, Kecamatan Dau.
“Monitoring visual dilakukan melalui Pos Merkusi Precet, Kecamatan Wagir serta Pos AJU dan pengamatan di Selorejo, Kecamatan Dau,” bebernya.
Langkah tersebut dilakukan setelah hasil pemantauan pada Sabtu 19 September 2026 menunjukkan kondisi titik api mulai terkendali. Dari observasi dan kegiatan pemadaman di lapangan, tidak lagi ditemukan kobaran api besar maupun kepulan asap tebal akibat karhutla.
Namun, kondisi tersebut belum membuat penanganan dihentikan sepenuhnya. Tim masih perlu melakukan observasi langsung di darat sekaligus pendinginan dari udara menggunakan metode water bombing. “Namun demikian masih perlu dilakukan observasi darat dan pendinginan melalui udara atau water bombing,” imbuhnya.
Pelaksanaan pemadaman melalui udara pada Sabtu sebelumnya turut menghadapi kendala cuaca. Kondisi mendung membuat operasi water bombing yang dilakukan BPBD Provinsi Jawa Timur hanya dapat dilaksanakan sebanyak tiga kali. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan operasi pemadaman udara pada Jumat. Saat itu, water bombing tercatat dilakukan sebanyak 16 kali.
“Pemadaman udara melalui water bombing oleh BPBD Provinsi Jawa Timur tersebut hanya bisa dilakukan sebanyak tiga kali karena terkendala cuaca mendung,” pungkas Sadono. (asl/hel)







