Jacob Zuma: Kontroversi, Joget, dan Daya Pikat Politik Afrika Selatan

Ilustrasi mantan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma (io)

Jacob Zuma dikenal lewat pidato kontroversial, kebiasaan berjoget, dan lagu perjuangan. Bagaimana pertunjukan membantunya bertahan di panggung politik?

INDONESIAONLINE – Satu hal yang berulang kali membuat Jacob Zuma menjadi bahan perbincangan bukanlah kebijakan ekonomi atau pidato kenegaraan yang menggugah. Mantan Presiden Afrika Selatan itu justru kerap mencuri perhatian karena kesulitan mengucapkan angka, pernyataan kontroversial, serta kebiasaannya bernyanyi dan menari di hadapan pendukung.

Pada 2015, misalnya, Zuma kesulitan membacakan jumlah anggota African National Congress (ANC) yang tercatat sebanyak 769.870 orang. Ia terbata-bata menyebut angka tersebut hingga potongan videonya menyebar luas di internet.

Beberapa tahun kemudian, Felix “PewDiePie” Kjellberg, YouTuber asal Swedia, mengompilasi momen-momen ketika Zuma kesulitan mengucapkan angka dalam pidato. Ia menyebut angka sebagai musuh utama politikus tersebut.

Bagi warganet, kejadian semacam itu menghibur. Namun, di balik reputasi sebagai bahan meme, terdapat perjalanan politik seorang mantan pejuang anti-apartheid yang mampu mempertahankan pengaruhnya meski diterpa berbagai kontroversi.

Jacob Gedleyihlekisa Zuma lahir pada 12 April 1942 di KwaZulu-Natal. Ia bergabung dengan gerakan anti-apartheid sejak muda dan pernah menjalani hukuman penjara selama sepuluh tahun di Pulau Robben. Pada 2009, ia menjadi Presiden Afrika Selatan dan mengundurkan diri pada 14 Februari 2018 di tengah tekanan politik.

Ketika Partai Menjadi Segalanya

Latar belakang perjuangan Zuma semestinya menempatkannya sebagai bagian penting dari sejarah demokrasi Afrika Selatan. Namun, setelah memperoleh kekuasaan, sejumlah pernyataannya justru memunculkan pertanyaan tentang cara ia memandang demokrasi dan batas kekuasaan partai.

Pada pertemuan regional ANC di Durban, 17 November 1996, Zuma menyatakan bahwa partai tersebut lebih penting daripada konstitusi.

“[ANC] lebih penting daripada Konstitusi. Tidak ada kekuatan politik yang dapat menghancurkan ANC. Hanya ANC-lah yang dapat menghancurkan dirinya sendiri… [ANC ada] untuk mengatur berbagai hal,” ucap Zuma.

Pernyataan itu memicu ironi politik. Afrika Selatan sedang membangun tatanan demokrasi konstitusional setelah berakhirnya apartheid. Dalam sistem tersebut, konstitusi menjadi landasan hukum tertinggi yang membatasi kekuasaan negara.

Kontroversi serupa muncul pada Maret 2004 ketika Zuma menyatakan bahwa ANC akan memimpin Afrika Selatan sampai Yesus datang kembali. Juru bicara partai kemudian menjelaskan bahwa pernyataan itu merupakan ungkapan sehari-hari untuk menggambarkan keinginan ANC terus berkuasa selama mendapat dukungan rakyat.

Namun, Joe Seremane dari partai oposisi Democratic Alliance menilai ucapan tersebut menyiratkan ambisi mempertahankan kekuasaan tanpa batas. Bagi oposisi, retorika semacam itu mengingatkan pada pola pikir negara satu partai.

Ketika menjadi presiden, kontroversi Zuma merambah hubungan antara partai politik dan dunia usaha. Dalam jamuan makan malam peringatan ke-101 ANC di Durban pada Januari 2013, ia menyampaikan bahwa pebisnis yang mendukung partainya berpeluang memperoleh keuntungan.

“Kami tidak memaksa… Anda bisa memberikan dukungan dan menjadi pendukung, namun jika Anda melangkah lebih jauh dan menjadi anggota dan jika Anda seorang pebisnis, maka bisnis Anda akan berkembang pesat,” janji Zuma.

Ia melanjutkan, “Segala sesuatu yang Anda sentuh akan berlipat ganda. Saya selalu mengatakan bahwa pebisnis yang bijak akan mendukung ANC… karena mendukung ANC berarti Anda melakukan investasi yang sangat baik bagi bisnis Anda.”

Pernyataan itu menuai kritik karena dianggap mencampuradukkan kepentingan negara dengan kepentingan partai. Pemimpin fraksi Democratic Alliance di parlemen, Lindiwe Mazibuko, menilai ucapan tersebut berpotensi mencederai prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Bagi peneliti Prince Mashele dari Centre for the Study of Governance Innovation, persoalan pidato Zuma berkaitan dengan lemahnya gagasan politik yang ditawarkan. Dalam tulisannya di The Conversation, Mashele mempertanyakan substansi pidato kenegaraan Zuma selama masa pemerintahannya.

Lagu Perjuangan yang Menjaga Panggung Zuma

Jika pidato bukan kekuatan utamanya, Zuma memiliki cara lain untuk membangun kedekatan dengan massa: nyanyian, tarian, dan pertunjukan politik.

Kebiasaan itu bukan sepenuhnya strategi yang muncul ketika ia menjadi presiden. Menurut laporan BBC, saat ditahan di Pulau Robben, Zuma turut menjaga semangat sesama aktivis melalui nyanyian dan pertunjukan teater spontan.

Salah satu lagu yang paling lekat dengannya adalah “Umshini Wami”, atau “My Machine Gun”. Lagu yang berakar pada sejarah perjuangan melawan apartheid itu kemudian menjadi bagian penting dari identitas politik Zuma.

Dalam berbagai kesempatan, Zuma menyanyikan lagu tersebut sambil menggerakkan tubuh dan mengajak pendukungnya ikut bernyanyi. Penampilannya bukan sekadar hiburan, melainkan cara membangkitkan ingatan kolektif tentang perjuangan, solidaritas, dan perlawanan.

Penelitian Liz Gunner pada 2008 menyoroti hubungan antara Zuma, tubuh sosial, dan kekuatan lagu dalam politik. Kajian lebih baru oleh Mabunda M. Thompson, yang diterbitkan secara daring pada Juni 2026, turut menganalisis bagaimana perpaduan lagu, tarian, dan gestur Zuma dapat memengaruhi respons pendukungnya.

Menurut penelitian Thompson, kombinasi ketiganya dapat membantu memobilisasi massa dalam kondisi tertentu. Lagu tersebut memiliki makna historis, tetapi penggunaannya dalam politik kontemporer juga memunculkan beragam penafsiran, termasuk kritik terhadap cara simbol perjuangan dimanfaatkan untuk kepentingan politik personal.

Di sinilah kekuatan pertunjukan Zuma terlihat. Ketika kata-kata dalam pidato sulit membangun pesan yang kuat, musik dan gerakan tubuh menawarkan bahasa emosional yang lebih mudah dipahami. Pendukung tidak hanya mendengar pesan, tetapi ikut menyanyikan dan merasakan suasana yang dibangun di panggung.

Zuma juga beberapa kali memperlihatkan gaya tersebut di acara publik. Pada Forum Ekonomi Dunia di Davos pada 2010, ia sempat menari dalam sebuah sesi tentang masa depan Afrika. Dalam perayaan kemenangan ANC di Johannesburg pada Mei 2011, ia kembali berjoget bersama pendukungnya.

Kemampuan menciptakan suasana itu membantu menjelaskan mengapa reputasinya sebagai politikus kontroversial tidak serta-merta menghapus daya tariknya di mata sebagian masyarakat.

Buktinya terlihat dalam pemilihan umum Afrika Selatan 2024. Setelah berpisah dari ANC, Zuma mendukung partai baru, uMkhonto weSizwe (MK). Partai tersebut meraih sekitar 14,6 persen suara nasional dan menjadi kekuatan politik besar, khususnya di KwaZulu-Natal, wilayah asal Zuma.

Capaian itu tidak menghapus kontroversi, persoalan hukum, maupun kritik terhadap rekam jejak pemerintahannya. Namun, hasil pemilu memperlihatkan bahwa pengaruh politiknya tetap bertahan setelah ia meninggalkan kursi presiden.

Jacob Zuma mungkin bukan orator seperti Nelson Mandela atau Thabo Mbeki. Akan tetapi, politik tidak hanya bergerak melalui kalimat yang tersusun rapi. Ia juga tumbuh melalui simbol, ingatan sejarah, emosi, dan kemampuan membangun hubungan dengan pendukung.

Pada Zuma, semua itu hadir lewat lagu, tarian, dan pertunjukan yang terus diulang. Ketika pidatonya menjadi bahan olok-olok, panggungnya belum tentu kehilangan penonton. Justru di tengah kontroversi, ia menunjukkan bahwa daya tarik politik tidak selalu ditentukan oleh kefasihan berbicara, tetapi juga oleh kemampuan membuat orang merasa menjadi bagian dari sebuah cerita.