Taman Sari Yogyakarta dijuluki Istana Air karena Gedhong Kenanga tampak mengambang di atas danau buatan. Simak sejarah dan fungsi bangunannya.
INDONESIAONLINE – Di balik gang-gang permukiman Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, tersimpan jejak kejayaan arsitektur Kesultanan Yogyakarta yang masih menarik perhatian wisatawan hingga kini. Kompleks tersebut adalah Taman Sari, kawasan bersejarah yang populer dengan sebutan Water Castle atau Istana Air.
Julukan itu bukan sekadar istilah untuk menarik wisatawan. Sebutan Istana Air berkaitan erat dengan rancangan awal kompleks pesanggrahan tersebut, terutama keberadaan danau buatan yang mengelilingi bangunan di atas pulau buatan.
Menurut informasi resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Taman Sari pada masa lalu memiliki dua danau buatan yang disebut segaran. Keduanya terletak di sisi timur dan barat kompleks, dengan pulau buatan bernama Pulo Gedhong dan Pulo Kenanga.
Di Pulo Kenanga berdiri Gedhong Kenanga, bangunan bertingkat dua yang menjadi salah satu penanda penting sejarah Taman Sari. Letaknya yang relatif tinggi membuat bangunan itu terlihat menonjol dari kejauhan, seolah berdiri mengambang di tengah perairan.
“Gedung inilah yang dari kejauhan tampak mengambang di atas air sehingga memunculkan istilah Istana Air (Water Castle),” tulis laman resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dari sinilah asal-usul julukan tersebut dapat dipahami. Air bukan sekadar unsur penghias taman, melainkan bagian penting dari rancangan ruang yang membentuk karakter arsitektur Taman Sari.

Jejak Danau Buatan dan Kejayaan Sultan Hamengku Buwono I
Pembangunan Taman Sari dimulai pada 1758 atas gagasan Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta. Kompleks ini merupakan bagian dari pengembangan lingkungan keraton setelah terbentuknya Kesultanan Yogyakarta pada pertengahan abad ke-18.
Catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta menyebutkan bahwa pembangunan Taman Sari berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, yang memerintah pada 1755–1792. Tahun 1758 juga tercermin dalam penanda kronologis pada Gapura Panggung Tamansari, sebagaimana dijelaskan dalam publikasi resmi Kementerian Kebudayaan.
Pada masa kejayaannya, kompleks Taman Sari memiliki luas lebih dari 10 hektare dan terdiri atas puluhan bangunan dengan fungsi beragam. Kawasan tersebut dirancang sebagai pesanggrahan, yakni tempat peristirahatan dan rekreasi bagi Sultan beserta keluarga kerajaan.
Keberadaan segaran menjadi bagian penting dari rancangan tersebut. Istilah segaran berasal dari kata segara, yang berarti laut. Penyebutan ini menggambarkan bentangan air buatan yang menjadi unsur dominan dalam tata ruang kompleks.
Masing-masing danau memiliki pulau buatan. Pulo Gedhong berada di sisi timur, sedangkan Pulo Kenanga menempati sisi barat. Gedhong Kenanga yang berdiri di pulau terakhir menjadi bangunan yang paling erat dikaitkan dengan julukan Istana Air.
Pada masa lalu, danau di sekitar Pulo Kenanga juga menjadi ruang rekreasi. Perairannya disebut diisi berbagai jenis ikan dan dimanfaatkan kerabat kerajaan untuk bermain sampan.
Namun, wajah kawasan itu berubah seiring perkembangan kota dan permukiman. Area yang dahulu menjadi bagian dari danau buatan kini telah berubah menjadi Pasar Ngasem dan permukiman penduduk. Perubahan tersebut membuat sebagian lanskap air yang menjadi ciri awal Taman Sari tidak lagi terlihat seperti pada masa kerajaan.
Meski demikian, sisa bangunan dan tata ruang yang masih dapat dijumpai memberikan gambaran tentang bagaimana lingkungan istana dirancang dengan memadukan arsitektur, taman, dan unsur air.
Bukan Sekadar Tempat Rekreasi
Daya tarik Taman Sari tidak hanya terletak pada kolam dan Gedhong Kenanga. Kompleks ini juga memperlihatkan bagaimana ruang kerajaan pada masa lalu memiliki fungsi yang saling berkaitan, mulai dari rekreasi, pengawasan, hingga kegiatan keagamaan.
Salah satu bagian yang paling dikenal adalah Pasiraman Umbul Binangun, kompleks pemandian yang digunakan Sultan dan keluarganya. Kawasan ini memiliki tiga kolam dengan peruntukan berbeda, yakni Umbul Kawitan untuk putri raja, Umbul Pamuncar untuk istri dan selir raja, serta Umbul Panguras yang diperuntukkan bagi Sultan.
Susunan kolam tersebut memperlihatkan pembagian ruang berdasarkan kedudukan dan lingkungan keluarga kerajaan. Arsitektur pemandian menjadi bagian dari sistem ruang yang teratur, bukan sekadar fasilitas untuk bersantai.
Taman Sari juga mempunyai bangunan yang berkaitan dengan keamanan dan pengawasan. Gedhong Temanten, misalnya, digunakan sebagai tempat piket penjagaan abdi dalem. Sementara itu, Gumuk Pemandengan merupakan bukit buatan yang berfungsi sebagai lokasi pengawasan.
Fungsi keagamaan tercermin melalui keberadaan Sumur Gumuling, bangunan yang dahulu digunakan sebagai masjid. Letaknya berada di sebelah barat Pulo Kenanga. Dari luar, bangunan ini tampak menyerupai struktur melingkar, dengan akses yang secara historis dikaitkan dengan terowongan bawah tanah atau urung-urung.
Bangunan lainnya adalah Pasiraman Umbul Sari, tempat pemandian yang mempunyai sumber mata air sendiri dan dikelilingi tembok tinggi. Tempat tersebut juga dikenal sebagai Pasiraman Naga karena memiliki hiasan patung naga di sisi utara.
Beragamnya fungsi tersebut memperlihatkan bahwa Taman Sari bukan hanya taman kerajaan dengan kolam yang indah. Kompleks ini merupakan bagian dari lingkungan istana yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga Sultan sekaligus mendukung aktivitas kerajaan.
Nilai sejarahnya juga diakui melalui penetapan Situs Taman Sari sebagai cagar budaya tingkat nasional pada 1998, berdasarkan data resmi Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi. Informasi penetapan tersebut tercantum dalam basis data Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan.
Kini, Taman Sari dikenal sebagai salah satu tujuan wisata sejarah di Yogyakarta. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat kolam pemandian atau mengabadikan arsitektur bangunan, tetapi juga untuk memahami perjalanan panjang sebuah kompleks pesanggrahan kerajaan.
Julukan Istana Air pada akhirnya menjadi pintu masuk untuk mengenali sejarah yang lebih luas. Di balik Gedhong Kenanga yang dahulu tampak mengambang di atas segaran, terdapat kisah tentang perencanaan ruang, kehidupan keluarga kerajaan, sistem pengawasan, dan perkembangan Kota Yogyakarta dari masa ke masa.







