Houthi Ultimatum AS: Jangan Ikut Perang Yaman, Kami Siap Balas!

Kelompok Houthi di Yaman. Mereka memperingatkan Amerika Serikat agar tidak ikut campur dalam konflik dengan Arab Saudi. (ap)

INDONESIAONLINE – Ketegangan antara kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan Arab Saudi kembali meningkat. Di tengah situasi tersebut, Houthi melontarkan peringatan kepada Amerika Serikat (AS) agar tidak terlibat dalam konflik. Sementara Riyadh dilaporkan meminta dukungan Washington untuk menghadapi serangan kelompok tersebut.

Dilansir AFP, Selasa (13/10/2026), Houthi meminta AS menahan diri dan tidak ikut campur dalam perang di Yaman. Sebaliknya, Arab Saudi dikabarkan telah meminta bantuan pemerintah AS menyusul serangkaian serangan yang menyasar wilayahnya.

Konflik berkepanjangan di Yaman melibatkan koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman melawan kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran. Perang saudara tersebut kembali mengalami eskalasi sejak Juli lalu.

Dalam perkembangannya, Houthi mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran strategis Arab Saudi. Target yang disasar meliputi fasilitas minyak, kapal tanker, hingga pusat transportasi.

Rangkaian serangan tersebut, termasuk serangan mematikan di bandara Riyadh, turut mengguncang Arab Saudi yang dikenal sebagai salah satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Situasi semakin memanas setelah serangan di bandara Riyadh pada Sabtu (11/10) dilaporkan menewaskan 13 orang.

Menanggapi insiden tersebut, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi.

Pernyataan Trump itu kemudian direspons Houthi dengan ancaman terhadap AS apabila negara tersebut benar-benar terlibat dalam operasi militer di Yaman. Anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, menegaskan pihaknya akan segera melakukan pembalasan jika Washington ikut menyerang Yaman.

“Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan menunda-nunda keputusan untuk membalas; sebaliknya, akan ada tanggapan cepat dan menyakitkan yang menyasar AS serta seluruh kepentingannya di kawasan ini,” ujar Al Bukhaiti.

Selain memperingatkan pemerintah AS, Al Bukhaiti juga meminta para pekerja di fasilitas minyak dan bandara Arab Saudi menjauhi lokasi tersebut. Ia menyebut tempat-tempat itu kini masuk dalam daftar sasaran serangan Houthi.

“Seluruh karyawan dan pekerja di fasilitas minyak serta bandara Saudi untuk menjauhi lokasi-lokasi tersebut karena tempat-tempat itu telah menjadi target yang sah,” katanya.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa AS tidak menutup kemungkinan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam melancarkan serangan terhadap Houthi di Yaman. Namun, ia menyebut pemerintahannya masih meninjau opsi tersebut.

“Mungkin saja. Kami sedang meninjaunya,” kata Trump saat ditanya mengenai peluang AS membantu Saudi menyerang kelompok Houthi.

Trump menambahkan, pemerintah AS akan segera menentukan langkah setelah memperoleh informasi mengenai serangan terbaru di bandara tersebut. “Kami baru saja mengetahui serangan terbaru (di bandara). Jadi, kami akan membuat keputusan kami bergerak sangat cepat,” sambungnya sebagaimana dikutip CBS, mitra BBC di AS.

Pernyataan itu disampaikan setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10). Insiden tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang dan menyebabkan 309 orang lainnya mengalami luka-luka. (rds/hel)