INDONESIAONLINE – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kecaman setelah melontarkan candaan yang menyinggung nama “Mohammad” dalam pidato kampanye pemilihan paruh waktu (midterm elections). Pernyataan tersebut disampaikan ketika Trump membahas Iran dan mengejek situasi kepemimpinan di negara tersebut.
Dalam pidatonya di Dalton, Georgia, pada Jumat (16/10/2026), Trump mengatakan nama Mohammad bisa digunakan ketika seseorang tidak yakin dengan nama orang yang berasal dari Timur Tengah.
“Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, ucapkan saja ‘Mohammad’,” ujar Trump, seperti dilaporkan Reuters.
Ia kemudian melanjutkan pernyataannya dengan mengklaim bahwa cara tersebut hampir selalu tepat.
“Anda mempunyai peluang sekitar 65%. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun sekarang. Saya tidak pernah salah,” imbuhnya.
Pernyataan itu muncul saat Trump menyinggung Iran. Ia menyebut negara tersebut sebagai tempat yang tidak memiliki warga yang ingin menduduki posisi presiden.
“Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden,” ucap Trump.
Trump kemudian berpura-pura mengajukan pertanyaan kepada sejumlah orang bernama Mohammad mengenai keinginan mereka untuk menjadi presiden Iran. Namun, candaan tersebut tidak mendapat respons dari para penonton yang hadir dalam acara itu.
Retorika Trump terhadap Muslim Kembali Disorot
Pernyataan Trump tersebut kembali memunculkan kritik terhadap gaya komunikasinya yang dinilai menyinggung kelompok Muslim, imigran, dan etnis minoritas. Aktivis hak asasi manusia serta organisasi yang memperjuangkan kepentingan Muslim sebelumnya telah berkali-kali menyampaikan keberatan terhadap retorika Trump yang menyasar kelompok-kelompok tersebut.
Kritik itu semakin mengemuka selama masa kampanye pemilihan paruh waktu, terutama berkaitan dengan pernyataan Trump mengenai warga Somalia dan Muslim di Amerika Serikat. Di antara tokoh yang turut menjadi sasaran retorika politik tersebut adalah Abdul El-Sayed, kandidat Senat AS dari Partai Demokrat yang beragama Islam, serta Ilhan Omar, anggota Partai Demokrat dari Minnesota yang datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi asal Somalia.
Sementara itu, laporan tahunan Dewan Hubungan Islam-Amerika atau Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang diterbitkan pada awal 2026 menyebut peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat sebagian dipengaruhi oleh kebijakan pengetatan imigrasi yang dilakukan pemerintahan Trump.
Pernyataan Trump mengenai nama Mohammad tersebut menambah sorotan terhadap penggunaan isu identitas agama dan etnis dalam dinamika politik Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu. (hsa/hel)







