4.000 Mahasantri Ikuti UIN Maliki Bersholawat, Lora Ismail Tekankan Pentingnya Ketangguhan dan Pantang Menyerah

Rektor UIN Malang Prof Ilfi Nur Diana dan jajaran pimpinan bersama Lora Ismail Kholili di panggung UIN Maliki Bersholawat. (uin malang)

INDONESIAONLINE – Ribuan mahasantri memadati Sport Center (SC) Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam kegiatan UIN Maliki Bersholawat. Sekitar 4.000 peserta larut dalam lantunan salawat yang berlangsung penuh khidmat dan meriah.

Dalam kesempatan tersebut, Lora Ismail Kholili, cicit Pahlawan Nasional Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, mengajak para santri meneladani perjuangan ulama serta membangun mental yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

Kemeriahan acara semakin terasa saat panitia menghadirkan kuis interaktif yang melibatkan para mahasantri. Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Hj Ilfi Nur Diana MSi bersama Lora Ismail Kholili dan jajaran pimpinan universitas turut melontarkan pertanyaan kepada peserta.

Beragam hadiah disiapkan untuk menambah semangat peserta. Ada dua sepeda gunung, kipas angin, setrika, serta sejumlah hadiah menarik lainnya.

Suasana dipenuhi gelak tawa, tepuk tangan, dan sorakan gembira. Hal itu mencerminkan eratnya kebersamaan antara mahasantri, ulama, dan pimpinan kampus.

Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, UIN Maliki Bersholawat membawa pesan tentang pentingnya membangun karakter yang kokoh. Para santri diharapkan mampu mempertahankan prinsip, menghadapi kesulitan dengan keteguhan hati, serta menjalani  perjuangan tanpa kehilangan semangat dan kebahagiaan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang jatuh pada 28 Oktober 2026, Lustrum XIII, sekaligus memperingati Hari Santri Nasional. Hadir dalam acara tersebut: rektor, Dewan Kiai Ma’had, jajaran pimpinan universitas, serta ribuan mahasantri Kampus 1.

Lora Ismail Ajak Santri Meneruskan Perjuangan Ulama

Dalam tausiyahnya, Lora Ismail Kholili menegaskan bahwa identitas santri tidak cukup diwujudkan melalui kemampuan memahami ajaran agama dan menguasai kitab-kitab keislaman. Lebih dari itu, santri memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para ulama dan kiai yang telah mencurahkan ilmu, tenaga, serta kehidupannya demi kepentingan umat, bangsa, dan negara.

Ia mengingatkan pentingnya membangun daya juang sejak usia muda. Generasi muda perlu memiliki semangat yang kuat, tidak gampang putus asa ketika menghadapi hambatan, serta tetap berpegang pada tujuan meskipun keberhasilan membutuhkan waktu dan pengorbanan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi Z agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan. Lora Ismail menegaskan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berlangsung mudah, sehingga diperlukan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesediaan untuk terus belajar dari setiap proses yang dijalani.

Lora Ismail juga menyinggung tantangan kehidupan modern yang dihadapi generasi muda, termasuk tekanan hidup dan stres yang semakin menjadi perhatian. Dia berpesan, tersedianya berbagai fasilitas dan kemudahan tidak serta-merta menjadikan seseorang lebih siap menghadapi persoalan. Karena itu, pendidikan perlu diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, melainkan juga membentuk kematangan emosional, kedalaman spiritual, dan ketahanan mental.

“Generasi muda perlu belajar mengendalikan diri, menerima kegagalan sebagai bagian dari proses, serta bangkit kembali ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan,” ucap Lora Ismail.

Dia menilai ketangguhan seorang santri tidak diukur dari seberapa jauh dirinya terhindar dari kesulitan. Sebaliknya, kekuatan tersebut terlihat dari kemampuannya untuk terus belajar setelah mengalami kegagalan, mempertahankan prinsip di tengah tekanan, dan tetap berusaha mencapai tujuan hidup.

Sistem Ma’had Jadi Bagian Pembentukan Karakter Mahasiswa

Pesan mengenai pentingnya ketangguhan memiliki keterkaitan dengan sistem pendidikan yang diterapkan UIN Maliki Malang. Perguruan tinggi ini menggabungkan pendidikan akademik dengan tradisi pesantren melalui program ma’had yang dijalani mahasiswa baru selama satu tahun.

Program tersebut memberikan pengalaman pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran agama dan pembiasaan ibadah. Kehidupan di lingkungan ma’had juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kedisiplinan, kemandirian, rasa tanggung jawab, serta kemampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama.

Pembentukan karakter berlangsung melalui berbagai aktivitas sehari-hari. Mahasiswa belajar mengatur waktu, mematuhi tata tertib, menghargai orang lain, melaksanakan kewajiban, dan mendahulukan kepentingan bersama dalam situasi tertentu.

Pendekatan ini menjadi salah satu kekhasan UIN Maliki Malang dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual.

Dari sudut pandang pendidikan, integrasi perguruan tinggi dan pesantren merupakan upaya membentuk karakter melalui perpaduan pengetahuan, pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu meraih keberhasilan untuk dirinya sendiri, tetapi juga memahami tanggung jawabnya terhadap masyarakat.

Nilai-nilai yang diperoleh selama menjalani kehidupan di ma’had diharapkan tetap melekat ketika mahasiswa memasuki dunia profesional dan pengabdian sosial. Mereka dapat berkontribusi dalam berbagai bidang sesuai kompetensi masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi integritas, tanggung jawab, dan kemaslahatan bersama.

Kegiatan Bersalawat Hadirkan Kebersamaan dan Kegembiraan

Selain lantunan salawat dan tausiyah, interaksi hangat antara mahasantri, ulama, dan pimpinan universitas menjadi bagian yang menonjol dalam kegiatan tersebut.

Rektor Beri Apresiasi kepada Panitia dan Mahasantri

Sebelum tausiyah Lora Ismail Kholili dimulai, Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Hj Ilfi Nur Diana MSi terlebih dahulu menyampaikan sambutan sekaligus motivasi kepada para mahasantri. Rektor juga menyampaikan penghargaan kepada panitia dan semua pihak yang berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan UIN Maliki Bersholawat.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarunsur sivitas akademika sekaligus menjaga tradisi keislaman di lingkungan perguruan tinggi. Lantunan salawat tidak hanya menjadi wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga mengingatkan umat Islam untuk meneladani akhlak beliau, memperkuat persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama,” ungkap Prof Ilfi.

Dalam momentum Dies Natalis Ke-65 dan Lustrum XIII, kegiatan tersebut juga membawa refleksi mengenai makna keberhasilan sebuah perguruan tinggi. Capaian akademik, reputasi institusi, dan pembangunan fasilitas memang menjadi bagian penting, tetapi pembentukan karakter serta penanaman nilai-nilai positif kepada mahasiswa juga merupakan ukuran penting dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dies Natalis Ke-65 Jadi Momentum Memperkuat Pendidikan Berkarakter

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maliki Malang Prof Dr M. Abdul Hamid MA, yang bertugas sebagai person in charge (PIC) Dies Natalis Ke-65, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya UIN Maliki Bersholawat. Ia secara khusus mengapresiasi Dewan Kiai Ma’had, mudir ma’had Dr Izzuddin beserta tim, serta Ketua Panitia Dies Natalis dr Yossi dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Penghargaan juga diberikan kepada seluruh panitia yang telah terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Menurut Prof Hamid, kesuksesan acara yang diikuti ribuan mahasantri tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur di lingkungan universitas. Kerja sama Dewan Kiai Ma’had, panitia dies natalis, pimpinan, dan sivitas akademika berperan penting dalam menghadirkan kegiatan yang tidak hanya meriah, tetapi juga mengandung nilai spiritual, pendidikan, dan kebersamaan.

Memasuki usia ke-65 dan Lustrum XIII, UIN Maliki Malang terus memperkuat komitmennya untuk mengembangkan pendidikan tinggi yang mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan, kedalaman spiritual, dan pembentukan karakter. Peringatan hari jadi universitas menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan institusi sekaligus memperteguh arah pendidikan bagi generasi mendatang.

Melalui UIN Maliki Bersholawat, para mahasantri diajak memahami bahwa menjadi santri berarti bersedia menjalani proses panjang, mengambil pelajaran dari kesulitan, menjaga akhlak, dan mengabdikan ilmu bagi kepentingan yang lebih luas. Di sisi lain, kehidupan santri juga dapat dijalani dengan kegembiraan, persaudaraan, dan rasa syukur. (ars/hel)