Surat Plinius Muda, kisah rumah berhantu, dan catatan para sejarawan mengungkap bagaimana orang Romawi kuno memahami kematian, takdir, dan keberadaan hantu.
INDONESIAONLINE – Sekitar tahun 100 M, di tengah dunia Romawi yang dipenuhi urusan politik, hukum, dan perebutan pengaruh, seorang negarawan mengirimkan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti. Namanya Plinius Muda.
Ia seorang pengacara dan pejabat terkemuka, seseorang yang terbiasa menimbang perkara melalui kata-kata dan pertimbangan rasional. Namun, kali ini, yang ingin diketahuinya bukan perkara di pengadilan.
Ia ingin mengetahui apakah hantu benar-benar ada.
Pertanyaan itu disampaikannya melalui sebuah surat kepada Sura, seorang senator Romawi. Plinius tidak sekadar meminta pendapat tentang makhluk dari alam lain. Ia juga mempertanyakan sifat keberadaan mereka: apakah hantu mempunyai wujud dan kehidupan yang bersifat ilahi, ataukah mereka hanya bayangan semu yang dilahirkan kecemasan manusia?
“Saya sangat ingin mengetahui apakah menurut Anda hantu benar-benar ada,” tulis Plinius.
Untuk membantu temannya mempertimbangkan persoalan itu, ia menyertakan tiga cerita menyeramkan yang pernah didengarnya. Ada penampakan yang meramalkan keberhasilan politik sekaligus kematian seseorang. Ada rumah di Athena yang ditinggalkan penghuninya karena gangguan sosok berantai. Ada pula kejadian misterius yang konon berlangsung di kediaman Plinius sendiri.
Surat itu tidak memberikan jawaban yang menutup perdebatan. Sebaliknya, pertanyaan Plinius membawa kita menuju persoalan yang lebih panjang: bagaimana orang Romawi kuno memandang orang mati, mengapa mereka membayangkan arwah yang kembali, dan apakah setiap orang yang menceritakan hantu sungguh-sungguh mempercayainya?
Catatan-catatan kuno memperlihatkan bahwa hantu tidak selalu hadir sebagai ancaman. Kadang-kadang mereka menuntut hak yang belum dipenuhi. Dalam cerita lain, mereka membalas kebaikan. Ada pula penampakan yang digunakan untuk memberi makna ilahi pada nasib seorang pemimpin. Bahkan, sebagian kisah tentang rumah berhantu sengaja disusun untuk mengundang tawa.
Di antara cerita-cerita itu, kematian bukanlah satu-satunya hal yang menakutkan. Yang lebih mengganggu justru kemungkinan bahwa sesuatu yang belum selesai di dunia orang hidup akan terus mengikuti mereka yang masih tinggal.
Rumah yang Ditinggalkan Penghuninya
Dalam salah satu cerita Plinius, sebuah rumah di Athena menjadi tempat tinggal bagi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh para penghuninya. Pada malam hari, suara rantai bergemerincing terdengar di dalam rumah. Kemudian, sosok gaib muncul, membawa suara dan kehadiran yang membuat tempat itu ditinggalkan.
Rumah tersebut akhirnya kosong. Sampai seorang filsuf memutuskan untuk tinggal di sana.
Kehadiran tokoh itu mengubah arah cerita. Ia bukan orang yang digambarkan lari dari gangguan malam. Pada suatu malam, ketika sedang menulis dengan penerangan lampu, ia mendengar suara rantai mendekat. Suara itu menjadi semakin jelas, hingga sosok yang selama ini menghantui rumah tersebut akhirnya menampakkan diri.
Sang filsuf mengikuti penampakan itu ke suatu tempat di luar rumah. Di sana, sosok tersebut menghilang. Keesokan harinya, ia meminta pejabat setempat menggali lokasi yang ditunjukkannya. Mereka menemukan jasad manusia yang terbelenggu rantai.
Setelah jasad itu dimakamkan dengan layak, gangguan berhenti.
Ada sesuatu yang penting dalam penyelesaian kisah tersebut. Sang filsuf tidak mengalahkan hantu melalui kekuatan gaib, tidak pula mengusirnya dengan kekerasan. Ia menemukan sesuatu yang belum diselesaikan oleh orang-orang yang masih hidup: pemakaman yang semestinya.
Dalam cerita itu, rumah berhantu bukan sekadar tempat yang dikuasai makhluk menyeramkan. Ia menjadi ruang tempat kewajiban terhadap orang mati belum ditunaikan. Suara rantai seolah menghubungkan masa kini dengan sesuatu yang tertinggal dari masa lalu.
Menurut Debbie Felton, profesor kajian klasik di University of Massachusetts Amherst dan penulis Haunted Greece and Rome: Ghost Stories from Classical Antiquity, pemakaman yang layak merupakan tema penting dalam cerita hantu Yunani dan Romawi kuno. Orang yang meninggal tanpa pemakaman atau tidak memperoleh penghormatan yang semestinya kerap digambarkan sebagai arwah yang mengganggu dunia orang hidup.
Kepercayaan semacam itu mencerminkan pentingnya ritual kematian dalam masyarakat kuno. Kematian tidak selalu dianggap sebagai akhir dari hubungan antara seseorang dan komunitasnya. Dalam sejumlah cerita, hubungan tersebut masih memerlukan penyelesaian, bahkan setelah tubuh telah berhenti hidup.
Daniel Ogden, profesor sejarah kuno di University of Exeter dan penulis Magic, Witchcraft and Ghosts in the Greek and Roman Worlds, menempatkan kisah Plinius dalam tradisi cerita rakyat yang telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Pola rumah berhantu dengan sosok yang akhirnya dihadapi oleh seseorang yang berani terus muncul dalam cerita-cerita dari masa berbeda.
Tokohnya dapat berubah. Dalam kisah pagan, ia mungkin seorang filsuf. Dalam versi Kristen yang berkembang kemudian, tokoh tersebut dapat berupa seorang uskup. Namun, pola dasarnya tetap serupa: gangguan gaib berhenti setelah sesuatu yang menjadi penyebabnya diselesaikan.
Jauh sebelum Plinius menulis surat kepada Sura, tema rumah berhantu juga telah muncul dalam sastra Romawi. Sekitar 200 SM, penulis drama Plautus menulis Mostellaria, atau The Haunted House. Karya komedi itu diyakini didasarkan pada drama Yunani yang telah hilang, Phasma, yang berasal dari akhir abad keempat atau awal abad ketiga SM.
Akan tetapi, dalam karya Plautus, hantu tidak pernah benar-benar muncul.
Seorang budak berusaha meyakinkan tuannya yang baru pulang dari perjalanan panjang agar tidak memasuki rumah. Alasannya sederhana sekaligus mengerikan: rumah itu konon dihuni hantu.
Kebenarannya jauh lebih biasa. Sang budak hanya berusaha menutupi kelakuan anak majikannya yang telah mengadakan pesta selama ayahnya pergi.
Di sini, cerita hantu kehilangan sebagian besar kengerian yang biasanya melekat padanya. Ia menjadi alat untuk berbohong, mengelabui, dan mengulur waktu. Penulis drama itu mengandalkan pengetahuan penonton tentang rumah berhantu untuk membangun leluconnya.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa keberadaan sebuah mitos dalam kebudayaan tidak selalu berarti setiap orang menerimanya sebagai kebenaran. Cerita supernatural dapat dipercaya, ditakuti, diragukan, atau sekadar dipakai sebagai bahan hiburan.
Orang Mati yang Membalas Kebaikan
Di balik cerita-cerita tentang rumah berhantu, terdapat hubungan lain antara manusia dan arwah: kewajiban yang dibalas dengan pertolongan.
Sekitar tahun 44 SM, Marcus Tullius Cicero, orator dan negarawan Romawi, mencatat kisah mengenai penyair Simonides dalam dialognya De Divinatione, atau On Divination.
Dalam cerita tersebut, Simonides menemukan jasad seorang pria dan memberikan pemakaman yang layak kepadanya. Tindakan itu tampak sederhana, tetapi kelak memperoleh balasan yang tidak biasa.
Arwah pria tersebut datang memperingatkan Simonides agar tidak melakukan perjalanan laut yang telah direncanakannya. Kapal yang hendak ditumpanginya, menurut peringatan itu, akan mengalami kecelakaan.
Simonides mendengarkan peringatan tersebut. Ia membatalkan perjalanan dan terhindar dari kematian.
Kisah itu menghadirkan arwah yang berbeda dari sosok berantai dalam rumah Athena. Ia tidak kembali untuk menakut-nakuti atau menuntut sesuatu. Ia datang untuk membalas kebaikan yang pernah diterimanya.
Felton mencatat tanggapan yang mengandung ironi terhadap cerita tersebut: “Sayang sekali Simonides tidak memperingatkan penumpang lainnya.”
Kalimat itu menyisakan persoalan moral yang tidak perlu dijawab oleh kisahnya sendiri. Simonides selamat karena menerima peringatan, tetapi keselamatannya tidak berarti seluruh penumpang kapal memperoleh nasib serupa.
Dalam cerita ini, arwah memiliki ingatan dan kemampuan membalas tindakan manusia. Hubungan yang dimulai melalui pemakaman berlanjut melampaui kematian. Kebaikan yang dilakukan kepada orang mati kembali kepada orang hidup dalam bentuk pertolongan.
Bagi masyarakat yang menempatkan ritual pemakaman sebagai kewajiban penting, cerita tersebut dapat dibaca sebagai penegasan bahwa memperlakukan orang mati dengan layak bukan tindakan yang sia-sia. Bahkan ketika seseorang telah meninggalkan dunia, kewajiban moral terhadapnya masih dapat menghasilkan akibat bagi mereka yang hidup.
Namun, kisah Simonides tetap merupakan cerita yang diwariskan dalam teks kuno, bukan bukti bahwa arwah benar-benar memperingatkan manusia tentang kecelakaan kapal. Nilainya terletak pada gagasan moral yang dibawanya: kebaikan tidak semestinya berhenti hanya karena orang yang menerimanya telah meninggal.
Ketika Hantu Menubuatkan Takdir Politik
Tidak semua penampakan dalam tulisan Romawi dikisahkan sebagai arwah manusia yang belum memperoleh pemakaman. Sebagian justru memiliki hubungan dengan nasib dan kekuasaan.
Sejarawan Romawi Suetonius menulis bahwa Julius Caesar melihat suatu penampakan sebelum menyeberangi Sungai Rubicon, peristiwa yang menjadi awal penting perang saudara Romawi. Dalam kisah Plinius kepada Sura, penampakan lain dikaitkan dengan ramalan mengenai keberhasilan politik dan kematian seseorang.
Kedua cerita tersebut memperlihatkan fungsi yang berbeda dari kisah rumah berhantu. Di sini, penampakan tidak terutama digunakan untuk menjelaskan gangguan di suatu tempat atau kewajiban kepada orang mati. Kehadirannya memberi makna pada perjalanan seseorang menuju kekuasaan.
Ketika sebuah keberhasilan dikisahkan telah diramalkan oleh makhluk supernatural, kemenangan politik memperoleh dimensi lain. Ia tidak lagi sekadar hasil keputusan, kemampuan, atau keadaan sejarah. Dalam cerita tersebut, keberhasilan tampak telah diberi tanda sebelumnya.
Karena itu, kisah-kisah penampakan yang berkaitan dengan pemimpin perlu dibaca dalam konteks penulisan sejarah dan politik Romawi. Cerita supernatural dapat memperkuat gambaran mengenai takdir seseorang, terutama ketika tokoh yang diceritakan kemudian memperoleh kedudukan besar.
Namun, menyebut seluruh cerita itu sebagai propaganda juga membutuhkan kehati-hatian. Sebuah kisah dapat digunakan untuk mengukuhkan citra politik, tetapi penilaiannya perlu mempertimbangkan konteks, tujuan penulis, dan cara cerita tersebut diwariskan.
Yang jelas, hantu dalam catatan Romawi tidak hanya berada di ruang gelap atau rumah yang ditinggalkan. Mereka juga memasuki narasi tentang kekuasaan, seolah-olah masa depan dapat lebih dahulu dibaca melalui penampakan yang hanya dialami segelintir orang.
Apakah Orang Romawi Benar-Benar Percaya Hantu?
Pertanyaan Plinius kepada Sura tetap terasa dekat dengan manusia masa kini. Kita dapat mengenal seseorang yang meyakini adanya arwah, seseorang yang menolak seluruh cerita supernatural, dan seseorang yang berada di antara keduanya. Masyarakat Romawi kuno pun tidak dapat dianggap memiliki satu keyakinan yang seragam.
Tulisan-tulisan mereka menyimpan perbedaan pandangan. Ada kisah yang dituturkan dengan nada serius, ada pula yang menjadikan kepercayaan terhadap hantu sebagai sasaran humor.
Dalam tiga kisah utama mengenai rumah berhantu yang bertahan dalam tulisan Romawi, dua di antaranya memiliki unsur komedi atau satire. Hal ini menunjukkan bahwa rumah berhantu telah menjadi motif yang cukup dikenal untuk dimainkan oleh para penulis, bukan semata-mata dipercaya tanpa pertanyaan.
Salah satu contohnya muncul dalam Philopseudes, atau The Lover of Lies, dialog karya Lucian, penulis satire dari Suriah Romawi pada abad kedua Masehi.
Dalam dialog itu, seorang filsuf menceritakan perjumpaannya dengan hantu di sebuah rumah di Korintus. Polanya menyerupai kisah Plinius: sosok gaib mengganggu penghuni rumah, jasadnya ditemukan, dan pemakaman yang layak mengakhiri gangguan tersebut.
Namun, orang yang mendengar cerita itu tidak mempercayainya.
Sikap skeptis tersebut penting karena memperlihatkan bahwa kisah hantu dapat hidup berdampingan dengan keraguan terhadap keberadaannya. Orang dapat mengenal sebuah cerita, memahami pola dan tokoh-tokohnya, tetapi tetap menolak untuk mempercayainya.
Dari sini, cerita hantu Romawi kuno membuka jendela yang lebih luas terhadap kehidupan masyarakatnya. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan perhatian terhadap kewajiban keluarga, ritual kematian, hubungan antara manusia dan dewa, serta kecemasan mengenai nasib. Pada saat yang sama, karya komedi dan satire menunjukkan bahwa tradisi supernatural dapat diperlakukan secara kritis.
Kepercayaan dan keraguan tidak selalu menempati dua dunia yang terpisah. Keduanya dapat muncul dalam kebudayaan yang sama, bahkan dalam sastra yang sama.
Potongan Rambut di Rumah Plinius
Pada akhirnya, pertanyaan tentang hantu kembali kepada orang yang mengajukannya.
Dalam surat kepada Sura, Plinius menyertakan cerita ketiga yang dikaitkan dengan kediamannya sendiri. Dua orang yang menginap di rumah itu pada hari berbeda mengalami kejadian serupa. Salah satunya adalah seorang anak laki-laki yang diperbudak; yang lain merupakan saudara laki-laki seorang pelayan.
Keduanya terbangun setelah seseorang memotong rambut mereka ketika mereka sedang tidur. Potongan rambut itu masih berada di dekat mereka. Keduanya juga mengaku melihat sosok-sosok misterius pada malam hari.
Kisah tersebut berbeda dari rumah berhantu di Athena. Tidak ada jasad berantai yang ditemukan, tidak ada pemakaman yang mengakhiri gangguan, dan tidak tersedia penjelasan yang memastikan siapa atau apa yang menyebabkan kejadian itu.
Plinius tidak menutup suratnya dengan keputusan bahwa hantu benar-benar ada. Ia justru kembali meminta Sura menjawab pertanyaan yang telah diajukannya sejak awal. Ia ingin mengetahui apakah temannya percaya kepada hantu, dengan harapan jawaban tersebut dapat mengakhiri keraguannya.
Tidak diketahui bagaimana Sura menjawab. Tidak pula diketahui secara pasti apa yang terjadi di rumah Plinius.
Debbie Felton memiliki dugaan bahwa seseorang mungkin sedang mengerjai Plinius. “Saya pikir seseorang sedang mengerjai Plinius,” katanya, “dan dia sama sekali tidak menyadarinya.”
Dugaan itu tidak menyelesaikan misteri. Namun, ia menawarkan kemungkinan yang sangat manusiawi: bahkan seseorang yang hidup dalam masyarakat dengan tradisi cerita hantu yang panjang dapat menghadapi kejadian ganjil tanpa mengetahui apa yang sebenarnya berlangsung.
Surat Plinius bertahan karena pertanyaannya tidak selesai. Di antara kisah arwah yang menuntut pemakaman, penampakan yang meramalkan takdir, dan potongan rambut yang ditemukan setelah malam berlalu, tersimpan seorang manusia yang meminta pendapat temannya tentang sesuatu yang tidak dapat dipastikannya.
Dua ribu tahun kemudian, cerita-cerita itu masih dibaca. Bukan karena semuanya telah terbukti benar, melainkan karena di dalamnya manusia kuno meninggalkan jejak tentang apa yang mereka takuti, apa yang mereka harapkan, dan apa yang belum sanggup mereka pahami.
Hantu-hantu Romawi mungkin tinggal dalam teks. Pertanyaan yang mereka tinggalkan tetap berada di dunia orang hidup.







