Mengupas peran krusial Alireza Arafi dalam Dewan Kepemimpinan Sementara Iran pasca-kematian Khamenei. Siapa sosok ideolog di balik transisi Teheran ini?
INDONESIAONLINE – Sirene yang meraung di langit Teheran pada malam 28 Februari lalu bukan hanya menandakan serangan fisik, melainkan runtuhnya sebuah era. Kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, seketika mengubah wajah geopolitik Timur Tengah menjadi kawah mendidih.
Di jalanan Enghelab, keheningan mencekam menggantikan hiruk-pikuk kota; rakyat menahan napas, menanti siapa yang akan memegang kendali atas tombol nuklir dan nasib revolusi yang telah berusia hampir setengah abad.
Di balik tembok tebal istana kepemimpinan, protokol darurat konstitusi diaktifkan. Sesuai Pasal 111 Konstitusi Republik Islam Iran, kekosongan kekuasaan di puncak hierarki tidak boleh terjadi barang sedetik pun.
Sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara (Interim Leadership Council) segera dibentuk. Publik mengenal Presiden Masoud Pezeshkian yang moderat dan Kepala Yudikatif Gholam-Hossein Mohseni-Ejei yang keras. Namun, mata para pengamat intelijen dan pakar politik justru tertuju pada sosok ketiga: Alireza Arafi.
Penunjukan Arafi sebagai perwakilan ulama dari Dewan Garda (Guardian Council) bukanlah kebetulan administratif semata. Ia adalah sinyal. Di tengah guncangan hebat pasca-serangan, sistem teokrasi Iran memilih seorang ideolog murni, teknokrat agama, dan loyalis garis keras untuk memastikan transisi tidak melenceng dari rel Revolusi 1979.

Di Antara Badai dan Konstitusi
Mekanisme transisi Iran dirancang untuk bertahan dalam krisis terburuk sekalipun. Berbeda dengan transisi 1989 ketika Ruhollah Khomeini wafat karena sakit, kematian Khamenei pada 2026 terjadi dalam situasi perang. Ini menuntut figur yang tidak hanya paham hukum Tuhan, tapi juga mengerti arsitektur kekuasaan.
Alireza Arafi, pria kelahiran Meybod tahun 1959 ini, hadir sebagai penyeimbang yang unik. Jika Pezeshkian adalah wajah diplomasi dan Mohseni-Ejei adalah tangan besi hukum, Arafi adalah “otak” yang menjaga kemurnian doktrin.
Keberadaannya di dewan sementara menjamin bahwa Majelis Ahli (Assembly of Experts)—lembaga yang nantinya memilih Pemimpin Tertinggi baru—tidak akan ditekan oleh faksi-faksi yang ingin melunakkan sikap Iran terhadap Barat.
Seorang analis politik Timur Tengah yang berbasis di Beirut menggambarkan posisi Arafi dengan tajam: “Dia adalah jangkar. Saat kapal dihantam badai rudal Amerika, Anda tidak butuh nakhoda yang populer, Anda butuh seseorang yang tahu persis ke mana arah kiblat revolusi.”
Akar Meybod dan Jejak Intelektual
Untuk memahami mengapa Arafi yang dipilih—bukan ulama senior lain yang lebih tua—kita harus menelusuri jejak langkahnya yang sistematis. Arafi bukan sekadar ulama menara gading. Ia adalah produk hibrida antara tradisi klasik dan manajemen modern.
Tumbuh di Provinsi Yazd, ia mewarisi darah ulama dari ayahnya, Ayatollah Mohammad Ibrahim al-Arafi, sahabat dekat Imam Khomeini. Namun, yang membedakan Alireza adalah nafsu intelektualnya.
Di Qom, pusat saraf Syiah dunia, ia tidak hanya melahap kitab kuning (fiqh dan ushul fiqh). Ia mempelajari filsafat Barat, menguasai bahasa Inggris dan Arab dengan fasih, serta mendalami matematika. Gelar mujtahid yang diraihnya di usia muda memberinya otoritas independen dalam hukum Islam, namun pendekatannya terhadap dunia luar sangat kalkulatif.
Karier Arafi melesat beriringan dengan konsolidasi kekuasaan Ali Khamenei pasca-1989. Pada usia 33 tahun, ia sudah dipercaya menjadi Imam Salat Jumat di tanah kelahirannya. Ini adalah posisi politis, bukan sekadar religius. Di Iran, mimbar Jumat adalah tempat kebijakan negara disosialisasikan ke akar rumput.
Arsitek “Soft Power” Iran
Jauh sebelum duduk di Dewan Kepemimpinan Sementara, Arafi telah memainkan peran vital yang jarang disorot media arus utama: mengekspor ideologi Iran. Selama satu dekade (2008–2018), ia menjabat sebagai Rektor Al-Mustafa International University.
Data menunjukkan, Al-Mustafa bukanlah universitas biasa. Lembaga ini memiliki cabang di lebih dari 60 negara dan mendidik puluhan ribu mahasiswa asing. Di bawah tangan dingin Arafi, universitas ini menjadi ujung tombak soft power Teheran, mencetak kader-kader ulama Syiah yang loyal pada konsep Velayat-e Faqih (Kepemimpinan Ahli Hukum Islam) di seluruh dunia, dari Afrika Barat hingga Asia Tenggara.
Pengalaman ini memberinya wawasan global yang jarang dimiliki ulama konservatif lainnya. Ia paham bagaimana narasi Barat bekerja, dan ia tahu bagaimana melawannya. Dalam sebuah wawancara dengan media lokal Iran beberapa tahun silam, Arafi menegaskan visinya:
“Seminari tidak boleh terisolasi. Ia harus revolusioner, politis, dan internasional. Kita tidak sedang membangun agama untuk satu negara, tapi peradaban untuk melawan hegemoni materialisme Barat.”
Pernyataan ini relevan dengan situasi 2026. Di saat rudal menghancurkan infrastruktur fisik, Arafi bertugas memastikan infrastruktur ideologis Iran tidak retak.
Manuver di Dewan Garda
Kekuatan Arafi semakin tak terbantahkan ketika ia masuk ke Dewan Garda (Guardian Council) pada 2019. Lembaga yang terdiri dari 12 orang ini (enam ulama, enam ahli hukum) memiliki kekuasaan veto mutlak atas undang-undang parlemen dan kandidat pemilu.
Di sini, Arafi dikenal sebagai figur yang teliti dan tanpa kompromi. Ia terlibat langsung dalam penyaringan kandidat presiden pada pemilu-pemilu sebelumnya, memastikan hanya mereka yang setia pada prinsip revolusi yang bisa berlaga. Keterlibatannya dalam dewan ini memberinya akses langsung ke data intelijen dan peta faksi politik di Teheran.
Hubungannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga dinilai harmonis. Meskipun ia bukan militer, pandangannya yang anti-liberalisme sejalan dengan doktrin keamanan IRGC. Dalam situasi darurat pasca-serangan 2026, sinergi antara ulama seperti Arafi dan para jenderal IRGC menjadi kunci pertahanan nasional. Arafi menjadi jembatan yang menghubungkan legitimasi teologis Qom dengan kekuatan militer di lapangan.
Kini, sebagai salah satu dari tiga serangkai pemegang kekuasaan sementara, Arafi menghadapi ujian terberatnya. Tugas Dewan Kepemimpinan Sementara bukan hanya menjalankan pemerintahan sehari-hari, tetapi juga mempersiapkan landasan bagi terpilihnya Pemimpin Tertinggi berikutnya.
Spekulasi yang beredar kencang menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ali Khamenei, adalah kandidat kuat. Namun, proses di Majelis Ahli sangat tertutup dan penuh intrik. Peran Arafi di sini sangat strategis. Sebagai kepala seminari nasional, ia memiliki pengaruh besar terhadap 88 anggota Majelis Ahli yang sebagian besar adalah rekan atau muridnya.
Apakah Arafi akan mendorong suksesi dinasti kepada Mojtaba, ataukah ia akan mendukung figur alternatif demi menjaga keseimbangan faksi?
Sikap Arafi yang menekankan “Islam Revolusioner” mengindikasikan bahwa ia tidak akan membiarkan figur moderat mengambil alih tampuk kekuasaan tertinggi. Baginya, kompromi dengan Barat yang telah membunuh pemimpin mereka adalah sebuah pengkhianatan. Narasi ini kemungkinan besar akan ia tanamkan selama masa transisi, memperkeras sikap Iran dalam negosiasi internasional dan memperketat kontrol sosial di dalam negeri.
Masa Depan di Ujung Tanduk
Kematian Ali Khamenei dalam skenario serangan 2026 ini telah membuka kotak pandora. Stabilitas politik Teheran sedang dipertaruhkan. Di tengah ketidakpastian ini, Alireza Arafi bukan lagi sekadar nama di deretan birokrat agama. Ia adalah personifikasi dari sistem yang menolak untuk tunduk.
Kehadirannya di Dewan Kepemimpinan Sementara mengirimkan pesan jelas kepada Washington dan Tel Aviv: meskipun sang pemimpin telah tiada, struktur ideologis yang dibangunnya masih kokoh berdiri, dijaga oleh kader-kader setia yang siap melanjutkan konfrontasi.
Rakyat Iran kini menanti. Di jalanan Teheran yang berdebu dan penuh duka, nasib mereka sedang digodok oleh tiga orang di kamar tertutup. Dan di antara ketiganya, Arafi memegang pena yang mungkin akan menulis bab paling berdarah atau paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran. Transisi ini bukan sekadar pergantian orang, melainkan pertaruhan eksistensi sebuah ideologi di tengah gempuran zaman.













