Persib Bandung menghadapi ujian berat. Bukan hanya soal strategi, sanksi AFC akibat ulah staf pelatih dan suporter menghantam klub. Total denda ratusan juta dan larangan mendampingi tim mengancam asa lolos grup. Simak analisis mendalamnya.-
INDONESIAONLINE – Di tengah euforia menjaga asa lolos ke fase gugur AFC Champions League Two (ACL 2), Persib Bandung justru menerima tamparan keras dari otoritas sepak bola tertinggi Asia. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) baru saja merilis serangkaian sanksi yang tidak hanya menguras kas klub, tetapi juga memukul moral tim di saat-saat krusial.
Ini bukan sekadar berita tentang denda. Ini adalah cerita tentang bagaimana ambisi besar klub di kancah internasional sedang diuji oleh masalah klasik sepak bola kita: indisipliner—baik dari sisi ofisial maupun suporter. Ketika Maung Bandung membutuhkan fokus 100 persen untuk menghadapi laga hidup mati, mereka justru disibukkan dengan “pekerjaan rumah” akibat ulah sendiri.
Ironi di Balik Sanksi Miro Petric
Hukuman yang dijatuhkan kepada pelatih fisik Persib, Miro Petric, menjadi sorotan utama. Dalam sepak bola modern, peran pelatih fisik sangat vital, terutama dalam menjaga peak performance pemain di tengah jadwal padat kompetisi domestik dan Asia. Kehilangan sosok ini di bench adalah kerugian taktikal yang nyata.
Berdasarkan rilis resmi AFC, Petric terbukti melanggar Pasal 47 Kode Disiplin dan Kode Etik AFC. Insiden ini bermula saat laga panas melawan Selangor FC di Stadion MBPJ, Malaysia, pada 6 November 2025. AFC mencatat bahwa pelatih asal Kroasia tersebut melakukan tindakan yang merendahkan kredibilitas perangkat pertandingan.
“Terdakwa diusir oleh wasit karena menggunakan bahasa dan/atau gerakan yang menyinggung, menghina atau kasar,” demikian bunyi putusan tersebut.
Hukuman bagi Petric terbilang berat: larangan mendampingi tim selama empat pertandingan. Dua di antaranya adalah laga krusial, yakni melawan Lion City Sailors (26 November 2025) dan laga penentuan melawan Bangkok United (10 Desember 2025). Sisa dua sanksi lainnya bersifat carry-over jika Persib lolos ke babak 16 besar.
Pertanyaannya, mengapa seorang profesional sekelas Petric bisa terpancing emosi hingga mencederai etika? Ini menjadi sinyal bahwa tekanan di level Asia memang berbeda. Ketahanan mental bukan hanya dituntut dari pemain di lapangan, tetapi juga jajaran pelatih di pinggir lapangan.
Absennya Petric memaksa pelatih kepala Bojan Hodak bekerja ekstra keras untuk memastikan instruksi pemanasan dan kondisi fisik pemain tetap terjaga tanpa komandan fisik mereka di area teknis.
Selain sanksi larangan mendampingi, Petric juga didenda USD 10.000 (sekitar Rp166 juta). Angka yang tidak sedikit untuk sebuah pelanggaran verbal, namun menjadi peringatan keras bahwa AFC tidak mentolerir abusive language terhadap perangkat pertandingan.
Suporter dan Harga Mahal Sebuah Fanatisme
Jika sanksi Petric adalah pukulan bagi teknis tim, maka sanksi akibat ulah suporter adalah pukulan bagi manajemen dan citra klub. Laga kandang Persib melawan Selangor FC di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 23 Oktober 2025, yang seharusnya menjadi pesta sepak bola, justru menyisakan catatan kelam dalam buku disiplin AFC.
Laporan Komite Disiplin dan Etika AFC memaparkan pelanggaran yang membuat geleng kepala: penyalaan enam flare, pelemparan lebih dari 33 benda berbahaya (termasuk botol, sepatu, hingga kursi stadion), serta spanduk bermuatan politik. Belum lagi aksi nekat suporter yang memanjat pembatas tribun.
Dampaknya fatal secara finansial dan operasional. AFC menjatuhkan denda sebesar USD 25.000 (sekitar Rp415 juta) plus denda tambahan USD 1.250 karena kegagalan panitia pelaksana dalam memastikan penomoran kursi sesuai regulasi.
Namun, yang paling menyakitkan bagi Bobotoh bukanlah nominal uangnya, melainkan sanksi penutupan sebagian stadion. AFC memerintahkan penutupan 25 persen kapasitas stadion pada satu laga kandang berikutnya.
Ini artinya, ribuan Bobotoh akan kehilangan kesempatan mendukung tim kesayangannya secara langsung di momen krusial, semata-mata karena ulah segelintir oknum yang gagal menahan diri.
Total denda yang harus dibayar Persib—menggabungkan kasus Petric dan suporter—mencapai angka fantastis: sekitar USD 36.250 atau lebih dari Rp600 juta (jika dikurskan dengan denda Petric). Sebuah “pemborosan” yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan akademi atau fasilitas latihan, kini harus hangus untuk membayar denda disiplin.
Pertaruhan di Laga Pamungkas
Sanksi ini datang di waktu yang sangat tidak tepat. Persib Bandung sedang berada di ujung tanduk namun memiliki peluang emas. Maung Bandung hanya membutuhkan satu poin lagi dari laga terakhir Grup G melawan Bangkok United untuk mengunci status juara grup dan melaju ke fase berikutnya.
Pertandingan yang dijadwalkan pada 10 Desember 2025 di GBLA ini akan menjadi ujian mental sesungguhnya. Tanpa kehadiran Miro Petric di bench dan dengan sebagian tribun yang kosong akibat sanksi, atmosfer GBLA mungkin tidak akan seangker biasanya.
Manajemen Persib kini dihadapkan pada dua front pertempuran sekaligus. Di satu sisi, mereka harus memastikan Marc Klok dan kawan-kawan tetap fokus secara taktik untuk meraih poin krusial melawan raksasa Thailand. Di sisi lain, mereka harus melakukan evaluasi internal besar-besaran terkait kedisiplinan.
Bagaimana mungkin sebuah klub yang ingin menjadi raksasa Asia masih berkutat dengan masalah pelemparan kursi dan flare? Insiden ini menjadi alarm bagi manajemen untuk memperketat keamanan dan edukasi suporter. Fanatisme tanpa kedewasaan hanya akan menjadi bumerang yang merugikan klub yang mereka cintai.
Refleksi Menuju Profesionalisme Penuh
Kasus ini harus menjadi titik balik. Bagi staf pelatih, ini adalah pelajaran bahwa emosi sesaat bisa merusak strategi jangka panjang tim. Bagi suporter, ini adalah bukti nyata bahwa tindakan anarkis tidak membantu tim menang, melainkan justru memperlemah kekuatan klub, baik secara finansial maupun dukungan moral di stadion.
Persib Bandung memiliki segala syarat untuk menjadi klub elit Asia: sejarah panjang, finansial kuat, dan basis suporter yang masif. Namun, tanpa kedisiplinan dan kepatuhan terhadap regulasi internasional, potensi itu akan tergerus oleh sanksi demi sanksi.
Laga melawan Bangkok United nanti bukan hanya soal perebutan tiket 16 besar. Itu adalah pertaruhan harga diri Persib untuk membuktikan bahwa mereka bisa bangkit, belajar dari kesalahan, dan melangkah ke level yang lebih tinggi—bukan hanya dalam hal permainan, tetapi juga dalam hal mentalitas dan profesionalisme.
Apakah Persib mampu melewati badai sanksi ini dan menutup fase grup dengan manis? Ataukah beban non-teknis ini justru menjadi batu sandungan yang menjegal langkah Maung Bandung? Jawabannya akan tersaji di GBLA, 10 Desember mendatang. Satu hal yang pasti: Asia sedang mengawasi, dan Persib tidak boleh salah langkah lagi.













