BBM Naik, Pendapatan Driver Ojol Batu Anjlok 30%

Ilustrasi Ojek Online yang terdampak pendapatannya karena harga BBM naik dan skema tarif murah aplikator di Kota Batu, Jatim (io)

Harga BBM dan suku cadang naik tekan driver ojol Kota Batu, pendapatan bersih anjlok 30%, skema tarif murah aplikator perparah kondisi lapangan.

INDONESIAONLINE – Gelombang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berbarengan dengan lonjakan harga suku cadang memukul telak sektor transportasi online di Kota Batu, memicu penurunan pendapatan bersih driver ojol hingga 30 persen. Kondisi finansial yang kian terjepit ini diperparah skema tarif dan fitur murah dari pihak aplikator yang dinilai memberatkan para driver di lapangan.

Ketua Aliansi Ojol Bersatu (AOB) Kota Batu, Arif Kurniawan, menyatakan dampak kenaikan BBM telah merembet ke seluruh lini operasional, termasuk melonjaknya biaya perawatan berkala seperti penggantian oli mesin yang kini mencapai Rp70 ribu hingga Rp75 ribu, naik dari sebelumnya Rp60 ribuan.

Migrasi ke Pertalite, Risiko Mesin Motor Mengintai

“Semua kena efeknya, mulai dari suku cadang (sparepart) sampai oli, semua naik. Semenjak kenaikan ini, sekitar 80 persen teman-teman driver kembali lagi mengonsumsi Pertalite,” beber Arif Kurniawan, Sabtu (20/6/2026).

Sebelum terjadi lonjakan harga BBM, sekitar 50 persen driver ojol di Kota Batu mengandalkan BBM nonsubsidi jenis Pertamax demi menjaga performa mesin kendaraan mereka. Imbas migrasi ke bensin beroktan lebih rendah ini, para driver kini dihantui risiko penurunan performa mesin jangka panjang, di tengah kewajiban servis rutin maksimal tiga minggu sekali.

Arif memaparkan gambaran riil pendapatan harian driver. Dalam sehari, seorang driver umumnya mendapatkan 15 hingga 20 tarikan pesanan dengan komisi rata-rata Rp6,5 ribu per penumpang, sehingga pendapatan kotor sebesar Rp130 ribu.

Namun angka tersebut langsung tergerus biaya pembelian BBM yang mencapai Rp70 ribu untuk pengisian penuh (full tank) per harinya. Alhasil, uang yang dibawa pulang driver untuk kebutuhan makan dan keluarga hanya tersisa Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari.

“Kira-kira pendapatan bersih driver turun sampai 30 persen,” ungkapnya.

Kondisi ini diperburuk oleh kenaikan harga suku cadang lainnya, seperti kampas rem, rantai motor, dan ban, yang rata-rata naik 15 hingga 20 persen sejak awal 2026. Beberapa driver mengaku terpaksa menunda perawatan mesin karena biaya yang membengkak, berisiko membuat motor mogok di tengah operasional.

Mayoritas driver ojol di Kota Batu berstatus kepala keluarga dengan tanggungan satu hingga tiga orang, sehingga penurunan pendapatan bersih berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan pokok harian. Arif menambahkan, kondisi ini mulai berlangsung sejak gelombang kenaikan harga BBM periode Mei 2026, yang diikuti kenaikan harga suku cadang secara bertahap di pasaran lokal Kota Batu.

Skema Tarif Murah Aplikator Perparah Penurunan Pendapatan

Sisa pendapatan yang minim tersebut kian diperparah oleh belum berjalannya regulasi potongan komisi yang ideal dari pihak perusahaan aplikasi. Driver kini harus menanggung beban ganda: komisi 20 persen dari setiap orderan, ditambah potongan untuk fitur hemat yang ditawarkan aplikator kepada penumpang dengan tarif rendah.

“Kita sudah dipotong komisi 20 persen, lalu harus terbebani lagi untuk fitur hemat itu. Jadi kesannya ada potongan ganda yang harus ditanggung driver,” keluh Arif.

Sebagai bentuk pertahanan terakhir untuk menyiasati biaya operasional yang membengkak, para driver ojol di Kota Batu kini bersikap pragmatis dan sangat selektif dalam menyaring orderan masuk. Pesanan dengan jarak penjemputan di atas dua kilometer kerap dibatalkan secara sepihak karena kalkulasi tarif yang dianggap merugikan. Strategi kerja driver pun berubah drastis.

“Mayoritas driver terpaksa narik lebih pagi hingga larut malam demi mengejar pasar anak sekolah dan pekerja,” imbuh dia (pl/dnv).