DLH Magetan kembangkan inovasi “Green Belt” Lidah Mertua di TPA. Solusi alami berbasis sains NASA untuk serap racun sampah dan neutralisir bau menyengat.
INDONESIAONLINE – Di bawah terik matahari yang menyengat, tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) bukan sekadar masalah visual. Ia adalah bom waktu ekologis yang melepaskan aroma menyengat, hasil dari proses dekomposisi anaerobik yang tak kenal ampun. Bagi warga yang tinggal di radius terdekat, angin bukan lagi pembawa kesejukan, melainkan pengantar pesan aroma busuk yang menyesakkan dada.
Namun, sebuah perlawanan senyap kini tengah disusun oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan. Bukan dengan mesin raksasa berteknologi tinggi yang memakan anggaran miliaran rupiah, melainkan melalui barisan “tentara hijau” yang kaku, tajam, namun mematikan bagi polutan udara: Sansevieria trifasciata atau yang akrab dikenal sebagai Lidah Mertua.
Inisiatif ini bukan sekadar proyek penataan taman seremonial. Di balik penanamannya yang masif, tersimpan strategi mitigasi pencemaran udara berbasis data ilmiah yang kuat, mengubah paradigma penanganan dampak TPA dari sekadar menimbun menjadi memulihkan.
Mengapa Sansevieria? Sebuah Tinjauan Sains
Keputusan DLH Magetan untuk tidak memilih tanaman hias berbunga indah, melainkan Sansevieria yang berdaun tebal dan kaku, didasari oleh efisiensi fungsional. Eny Purwanti, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) DLH Magetan, menegaskan bahwa pemilihan ini memiliki alasan kuat.
“Lidah mertua ini adalah solusi nature-based yang efisien. Ia bekerja 24 jam menyaring udara racun hasil aktivitas sampah,” ungkap Eny.
Pernyataan Eny selaras dengan data ilmiah yang telah lama dipublikasikan. Berdasarkan studi klasik namun fundamental dari NASA Clean Air Study (1989), Sansevieria termasuk dalam jajaran tanaman elit yang mampu menyerap polutan berbahaya di udara tertutup maupun terbuka.
Studi tersebut memvalidasi bahwa tanaman ini efektif menyerap benzene, formaldehyde, trichloroethylene, xylene, dan toluene. Zat-zat ini adalah residu kimia yang kerap menguap dari tumpukan sampah plastik, cat, dan limbah rumah tangga yang menumpuk di TPA.
Keunikan biologis Sansevieria terletak pada metabolismenya. Berbeda dengan mayoritas tanaman yang melakukan fotosintesis dan melepaskan oksigen hanya di siang hari, Lidah Mertua menggunakan mekanisme Crassulacean Acid Metabolism (CAM). Mekanisme ini memungkinkan tanaman membuka stomata pada malam hari untuk meminimalkan penguapan air, sambil tetap menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen.
Dalam konteks TPA, di mana gas metana dan karbon dioksida terus diproduksi tanpa henti selama 24 jam akibat pembusukan sampah, kemampuan Sansevieria untuk terus bekerja di malam hari menjadikannya filter biologis yang tak pernah tidur.
Laboratorium Alam di Bulukerto
Sebelum “pasukan” hijau ini dikirim ke medan tempur di zona TPA, mereka dipersiapkan dengan matang. Kelurahan Bulukerto menjadi saksi bisu keseriusan DLH Magetan. Di Pusat Pembibitan DLH yang terletak di sana, ratusan hingga ribuan bibit Lidah Mertua kini tengah dalam masa propagation (perbanyakan) dan perawatan intensif.
Pemilihan Bulukerto sebagai basis pembibitan bukan tanpa strategi. Lokasi ini memungkinkan pengawasan ketat terhadap kualitas bibit. Tanaman yang akan ditanam di TPA harus memiliki sistem perakaran yang kuat dan kondisi daun yang prima agar mampu bertahan hidup di lingkungan TPA yang ekstrem—panas, berdebu, dan penuh gas beracun.
“Kami ingin mengubah wajah TPA. Dari yang tadinya identik dengan kesan kotor dan bau, menjadi kawasan yang lebih hijau dan fungsional secara ekologis,” tambah Eny.
Di Bulukerto, tim DLH melakukan pembibitan mandiri. Langkah ini juga merupakan taktik efisiensi anggaran. Ketimbang terus-menerus membeli bibit jadi, memproduksi sendiri stok tanaman memastikan keberlanjutan program jangka panjang. Jika ada tanaman di TPA yang mati, stok pengganti sudah siap sedia tanpa harus menunggu proses pengadaan yang birokratis.
Konsep Green Belt: Benteng Pertahanan Aroma
Rencana implementasi di lapangan dirancang dengan konsep Green Belt atau sabuk hijau. Sansevieria tidak akan ditanam secara sporadis atau acak, melainkan dengan pola rapat mengelilingi area TPA. Kerapatan tanam menjadi kunci. Secara teori aerodinamika lingkungan, barisan tanaman yang rapat mampu memecah laju angin yang membawa bau, sekaligus memerangkap partikel debu halus (PM 2.5 dan PM 10) yang beterbangan dari tumpukan sampah kering.
Fungsi sabuk hijau ini ganda: Penyaring Kimia: Menyerap gas beracun seperti karbon monoksida (CO) dan senyawa organik volatil (VOCs) yang berbahaya bagi kesehatan paru-paru warga. Penyaring Fisik: Menjadi barier visual dan penahan debu agar tidak langsung terbawa angin ke pemukiman warga.
Masalah bau sampah di TPA umumnya disebabkan oleh gas Hidrogen Sulfida (H2S) dan Amonia (NH3). Meskipun Sansevieria tidak secara spesifik “memakan” bau busuk layaknya scrubber kimia di pabrik, produksi oksigen yang melimpah di area sekeliling TPA akan membantu mengencerkan konsentrasi gas bau tersebut, sehingga udara yang sampai ke hidung warga terasa lebih segar dan tidak terlalu menusuk.
“Kami sedang mengembangkan proyek ini, Magetan nanti akan jadi pionirnya,” ujar Eny penuh optimisme.
Ambisi ini beralasan. Banyak daerah di Indonesia masih bergutat dengan masalah TPA yang meledak kapasitasnya atau konflik dengan warga akibat bau, namun solusinya seringkali reaktif—seperti penyemprotan bahan kimia penghilang bau yang bersifat sementara.
Pendekatan Magetan menawarkan perspektif keberlanjutan. Lidah Mertua adalah tanaman yang dikenal “tahan banting”. Ia bisa hidup dengan sedikit air, tahan terhadap paparan sinar matahari terik, dan jarang terserang hama.
Karakteristik “minim perawatan” ini sangat krusial untuk vegetasi di area TPA, di mana sumber daya manusia biasanya fokus pada operasional alat berat dan pengelolaan timbunan sampah, bukan merawat taman.
Jika inovasi ini berhasil, Magetan bisa menjadi model percontohan nasional (blueprint) bagi pengelolaan dampak lingkungan TPA di kota lapis kedua (second-tier cities) di Indonesia. Ini membuktikan bahwa teknologi canggih bukanlah satu-satunya jawaban. Alam, jika dimanfaatkan dengan pemahaman biologi yang tepat, menyediakan alat pemulihan yang ampuh.
Tentu, menanam Lidah Mertua tidak serta merta menghilangkan seluruh masalah sampah di Magetan. Tantangan volume sampah harian yang masuk ke TPA tetap menjadi pekerjaan rumah utama yang harus diselesaikan lewat pemilahan dari sumbernya. Namun, langkah DLH Magetan ini adalah upaya kuratif yang krusial untuk menjaga kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitar “bom waktu” sampah tersebut.
Dampak kesehatan jangka panjang dari polusi udara TPA tidak bisa diremehkan. Paparan terus-menerus terhadap gas metana dan VOCs dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga penurunan fungsi paru. Dengan hadirnya ribuan Sansevieria yang bekerja sebagai mesin oksigen alami, risiko kesehatan tersebut diharapkan dapat diminimalisir secara signifikan.
Langkah ini juga memberikan pesan edukasi lingkungan yang kuat kepada masyarakat: bahwa tanaman di halaman rumah kita, yang seringkali dianggap remeh, memiliki kekuatan super untuk menyelamatkan kualitas udara kita.
Kini, di lahan pembibitan Bulukerto, tunas-tunas hijau itu sedang bersiap. Mereka menunggu waktu untuk dipindahkan ke garis depan, berdiri tegak di sekeliling gunungan sampah, menjalankan tugas sunyi mereka: membersihkan udara, satu molekul demi satu molekul, demi napas warga Magetan yang lebih lega (bpn/dnv).
