INDONESIAONLINE – Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung penangkapan Presiden Nicolás Maduro memicu perdebatan sengit di internal pemerintahan AS. Meski Washington berdalih bahwa langkah ekstrem itu diambil untuk memberantas jaringan terorisme narkoba, sejumlah politisi AS justru memberikan kesaksian berbeda yang menunjuk pada motif penguasaan sumber daya energi.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat Jake Auchincloss secara blak-blakan menyebutkan bahwa tuduhan perdagangan narkoba hanyalah kedok. Menurut dia, fokus utama serangan ini adalah fakta bahwa Venezuela merupakan pemilik cadangan minyak mentah terbesar di planet ini.
”Ini murni soal minyak, bukan narkoba. Kita tahu bahwa ancaman kesehatan utama warga Amerika adalah fentanyl yang bersumber dari wilayah lain, bukan kokain dari Venezuela. Ini adalah upaya untuk menepati janji kampanye kepada raksasa migas AS seperti Chevron,” tegas Auchincloss.
Saat ini, industri energi Venezuela berada di bawah kendali perusahaan negara, PDVSA. Dengan penggulingan Maduro, Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan rencana besar untuk memasukkan investasi miliaran dolar dari perusahaan-perusahaan Amerika guna merevitalisasi infrastruktur migas Venezuela yang selama ini terbengkalai akibat sanksi.
Raksasa Energi yang Tertidur
Data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) mempertegas alasan mengapa Venezuela menjadi target strategis. Negara ini memegang predikat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui dominasi negara-negara Timur Tengah.
Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global.
Jumlah tersebut mengalahkan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi yang memiliki 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, serta Irak 145 miliar barel.
Meskipun memiliki cadangan yang melimpah, produksi Venezuela saat ini hanya berada di kisaran 800.000 barel per hari. Kondisi itu jauh di bawah masa jayanya pada akhir 1990-an yang mencapai 3,5 juta barel per hari.
Sebaliknya, Amerika Serikat saat ini memproduksi sekitar 13,8 juta barel per hari, yang menunjukkan adanya ketimpangan besar antara kepemilikan cadangan dan kapasitas produksi.
Situasi Terkini di Venezuela
Pasca-penangkapan Maduro oleh pasukan elite Delta Force, ledakan dilaporkan masih mengguncang beberapa wilayah strategis seperti Miranda, Aragua, dan La Guaira. Sementara itu, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah tiba di New York untuk menghadapi persidangan di Pengadilan Distrik Selatan dengan kawalan ketat.
Kejatuhan Maduro menandai babak baru ketegangan geopolitik. Komunitas internasional kini menanti apakah transisi kekuasaan ini akan membawa stabilitas pasar energi atau justru memicu konflik berkepanjangan di kawasan Amerika Latin. (rds/hel)
