Beranda

Meledak: Bunga Mawar Sidomulyo Tembus Rp 100 Ribu Jelang Megengan

Meledak: Bunga Mawar Sidomulyo Tembus Rp 100 Ribu Jelang Megengan
Ilustrasi petani bunga mawar. Di mana bunga mawar mengalami lonjakan harga fantastis di Kabupaten Magetan, Jatim (io)

Petani mawar Desa Sidomulyo Magetan raup untung 400 persen jelang Megengan. Harga bunga melonjak hingga Rp 100 ribu per keranjang akibat tingginya permintaan pasar.

INDONESIAOLINE – Di kaki Gunung Lawu, siklus ekonomi tidak selalu mengikuti grafik pasar saham global, melainkan bergerak seirama dengan kalender budaya. Fenomena ini terlihat jelas di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Wilayah yang secara topografi diuntungkan dengan udara sejuk ini tengah mengalami “ledakan” ekonomi mikro yang signifikan. Komoditas pemicunya bukan emas atau saham, melainkan bunga mawar.

Menjelang bulan suci Ramadan, tradisi Megengan atau punggahan menjadi katalis utama pergerakan uang di desa ini. Desa Sidomulyo, yang selama puluhan tahun menyandang status sebagai sentra budidaya bunga mawar terbesar di Magetan, mencatatkan lonjakan harga komoditas yang irasional jika dilihat dari kacamata hari biasa, namun sangat logis dalam konteks hukum permintaan dan penawaran musiman.

Keuntungan petani dilaporkan melonjak hampir 400 persen, sebuah angka margin yang jarang ditemukan dalam komoditas pertanian pangan.

Realitas di Ladang: Kesaksian dari Akar Rumput

Sumilah, wanita berusia 61 tahun, tampak sibuk di hamparan kebun mawarnya. Tangannya yang keriput namun cekatan memetik kelopak-kelopak mawar yang siap panen. Sebagai petani veteran di Desa Sidomulyo, ia telah melewati puluhan siklus Megengan. Namun, tahun 2026 ini memberikan cerita yang sedikit berbeda dari sisi volume permintaan dan harga.

“Alhamdulillah, musim Megengan ini harga mawar naik drastis. Sekarang bunga mawar yang dijual per keranjang bisa tembus harga Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu,” ungkap Sumilah.

Nada bicaranya menyiratkan kelegaan, mengingat pertanian hortikultura adalah sektor yang rentan terhadap fluktuasi harga yang merugikan.

Untuk memahami betapa ekstremnya lonjakan ini, kita perlu melihat data pembanding. Pada hari-hari reguler, satu keranjang bunga mawar (biasanya berisi padatan bunga tabur) hanya dihargai dikisaran Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Artinya, terjadi kenaikan nilai tukar komoditas antara 400 hingga 900 persen di tingkat petani, tergantung kualitas bunga.

Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Sumilah menjelaskan bahwa hukum pasar berlaku mutlak: pasokan minim bertemu dengan permintaan yang meledak. “Sedangkan di hari biasa, per keranjang hanya sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu saja,” tambahnya, menegaskan disparitas harga yang menjadi “bonus tahunan” bagi warga desa.

Mekanisme Pasar “Futures” Tradisional

Menarik untuk dicermati adalah bagaimana mekanisme perdagangan bunga ini terjadi. Tidak seperti pasar spot biasa di mana barang ada saat transaksi terjadi, pasar bunga mawar di Sidomulyo menjelang Ramadan mengadopsi sistem yang mirip dengan kontrak berjangka (futures) sederhana.

Para pengepul besar dan pedagang bunga segar dari berbagai kota di Jawa Timur—seperti Madiun, Ponorogo, hingga Surabaya—telah melakukan pemesanan jauh-jauh hari. Sumilah menyebutkan bahwa stok bunga mawar di kebun-kebun warga sebenarnya sudah “milik orang lain” secara transaksional sejak awal Februari.

“Stok mawar sudah dibeli di awal bulan Februari kemarin semua, jadi pas permintaan puncak ini kami sudah kehabisan barang,” jelas Sumilah.

Kondisi sold out sebelum panen ini menunjukkan betapa tingginya ketergantungan pasar bunga tabur Jawa Timur terhadap pasokan dari Magetan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa para pedagang perantara berani berspekulasi harga karena yakin permintaan di tingkat konsumen akhir (peziarah) tidak elastis terhadap harga.

Artinya, semahal apapun bunga mawar saat Megengan, masyarakat akan tetap membelinya karena merupakan syarat kultural yang wajib dipenuhi.

Korelasi Budaya dan Ekonomi Agribisnis

Tradisi Megengan di Jawa Timur bukan sekadar ritual keagamaan menyambut puasa, tetapi juga mesin penggerak ekonomi. Tradisi ini melibatkan aktivitas nyadran atau ziarah kubur, di mana bunga tabur adalah instrumen utamanya.

Data dari Kementerian Pertanian mencatat bahwa Jawa Timur adalah salah satu kontributor terbesar produksi tanaman florikultura di Indonesia, bersaing dengan Jawa Barat. Kabupaten seperti Batu, Kediri, dan Magetan memegang peranan vital. Spesifik untuk Magetan, Desa Sidomulyo adalah hub utamanya.

Hampir setiap rumah di desa ini memiliki lahan mawar, mulai dari skala pekarangan rumah tangga hingga perkebunan luas. Integrasi antara tempat tinggal dan lahan produksi ini menciptakan efisiensi biaya operasional yang rendah, sehingga ketika harga melonjak, margin keuntungan bersih yang diterima petani sangat tebal.

Secara sosiologis, keberadaan kebun mawar di setiap rumah warga Sidomulyo juga berfungsi sebagai jaring pengaman sosial ekonomi. Ketika panen raya tiba dengan harga tinggi, pendapatan yang masuk mampu menutupi kebutuhan rumah tangga untuk beberapa bulan ke depan, atau digunakan sebagai modal tanam ulang.

Analisis Rantai Pasok dan Risiko

Meskipun keuntungan saat ini terlihat fantastis, bisnis bunga potong dan bunga tabur memiliki risiko tinggi terkait daya simpan (shelf life). Bunga mawar adalah komoditas yang sangat mudah rusak (perishable). Tanpa rantai dingin (cold chain) yang memadai, bunga mawar hanya bertahan segar kurang dari 24 jam setelah petik.

Inilah mengapa sistem pemesanan dini yang dilakukan pengepul menjadi krusial. Pengepul harus memastikan logistik transportasi siap tepat pada saat bunga dipetik. Keterlambatan distribusi beberapa jam saja bisa menurunkan kualitas bunga, mengubah warna kelopak menjadi kecoklatan, dan menjatuhkan harga jual secara drastis.

Kondisi “kehabisan stok” yang disebutkan Sumilah juga menjadi sinyal bagi pemerintah daerah. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi di Desa Sidomulyo sebenarnya belum mampu memenuhi total permintaan pasar regional saat puncak musim (peak season).

Ada peluang intensifikasi pertanian atau perluasan lahan tanam yang bisa digarap oleh Dinas Pertanian setempat untuk memaksimalkan potensi ekonomi ini di masa depan.

Sidomulyo sebagai Tulang Punggung Hortikultura

Keberhasilan petani di Desa Sidomulyo menegaskan posisi desa ini sebagai pilar agribisnis di Jawa Timur bagian barat. Berbeda dengan Kota Batu yang sudah sangat pariwisata-sentris, Magetan masih mempertahankan karakter agraris murni dalam produksi bunganya.

Momentum Megengan tahun ini memberikan validasi bahwa sektor pertanian, khususnya hortikultura non-pangan, memiliki daya ungkit ekonomi yang nyata. Uang yang berputar di desa selama satu atau dua minggu menjelang Ramadan bisa setara dengan pendapatan beberapa bulan di sektor lain.

Namun, tantangan ke depan tetap ada. Regenerasi petani menjadi isu nasional yang juga membayangi Magetan. Sumilah, di usianya yang ke-61, adalah representasi generasi tua yang masih bertahan. Perlu ada insentif dan modernisasi agar generasi muda mau terjun meneruskan estafet ini, memastikan bahwa Sidomulyo tetap menjadi “Desa Mawar” di masa depan, bukan sekadar sejarah.

Selain itu, diversifikasi produk turunan mawar—seperti minyak atsiri, air mawar untuk kosmetik, atau sirup mawar—perlu mulai dipikirkan. Hal ini penting agar ekonomi desa tidak melulu bergantung pada siklus budaya tahunan seperti Megengan, tetapi memiliki pendapatan harian yang stabil dari industri pengolahan.

Lonjakan harga mawar hingga Rp 100 ribu per keranjang di Magetan adalah fenomena yang mengajarkan kita tentang kuatnya pengaruh budaya terhadap ekonomi riil. Di Desa Sidomulyo, tradisi leluhur bertemu dengan agribisnis, menciptakan kemakmuran musiman yang dinanti-nanti.

Bagi Sumilah dan ratusan petani lainnya, Megengan adalah “lebaran” sebelum lebaran yang sesungguhnya—saat di mana kerja keras merawat tanaman berduri dibayar lunas oleh pasar yang haus akan wewangian tradisi (bpn/dnv).

Exit mobile version