Plh Wali Kota Surabaya Armuji (Cak Ji) imbau warga tak percaya hoaks pocong AI viral, sebut teknologi jangan sampai mengelabui publik.
INDONESIAONLINE – Balai Kota Surabaya masih berhias bendera merah putih dan umbul-umbul bertuliskan “733 Tahun Surabaya Tangguh” saat Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Surabaya Armuji menebar tawa wartawan di sela konferensi pers usai upacara Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, Minggu (31/5/2026).
Menanggapi maraknya konten video pocong rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang viral di media sosial, pria yang akrab disapa Cak Ji itu melontarkan guyonan khas Jawa Timur yang langsung mencairkan suasana.
“Imbauannya ya, koen gak usah wedi karo pocong lah,” ujarnya sambil tertawa, disambut gelak tawa puluhan jurnalis yang hadir.
Candaan Cak Ji muncul di tengah keresahan warga Surabaya yang sempat dihebohkan oleh sejumlah video viral yang menampilkan sosok pocong melintas di jalan-jalan sepi, terutama di wilayah Wonokromo dan Rungkut, dalam dua pekan terakhir.
Sebagian warga sempat panik, ada yang enggan keluar rumah di malam hari, hingga beredar pesan berantai di WhatsApp grup warga yang memperingatkan adanya teror pocong. Namun, penelusuran Satgas Hoaks Surabaya kemudian memastikan seluruh video tersebut merupakan hasil rekayasa AI, tanpa satu pun bukti kejadian nyata.
Saat ditanya lebih lanjut terkait fenomena tersebut, Cak Ji menegaskan pesan serius di balik guyonannya: masyarakat harus kritis terhadap informasi yang beredar di era digital saat ini.
“Kalau itu cuma aplikasi atau AI, ya jangan dibesar-besarkan. Sekarang semua bisa dilakukan melalui teknologi. Teknologi jangan sampai mengelabui kita dan jangan sampai kita terjebak dengan hal-hal semacam itu. Karena itu kan hoaks, jadi tidak perlu kita tanggapi secara serius,” ucap mantan Ketua DPRD Surabaya dua periode tersebut.
Guyonan Cak Ji di HJKS 733
Upacara HJKS 733 yang digelar di halaman Balai Kota Surabaya pagi itu dihadiri lebih dari 2.000 peserta, mulai dari perwakilan organisasi masyarakat, pelajar, hingga tokoh agama. Tema perayaan tahun ini, “Surabaya Gagah, Warga Tangguh”, menekankan ketangguhan warga Surabaya dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk disrupsi digital.
Cak Ji, yang baru ditunjuk sebagai Plh Wali Kota Surabaya pada 15 Mei 2026 menggantikan Eri Cahyadi yang sedang cuti, memang dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak-blakan dan kocak, kerap menggunakan bahasa Jawa sehari-hari untuk memudahkan pesan tersampaikan ke warga grassroots.
Ketika wartawan kembali bertanya apakah masih ada teror pocong di Surabaya, Cak Ji kembali melontarkan candaan yang makin mengundang tawa. “Gak ono pocong. Lek ono, karo wong-wong iso diparani temen, iso dilebokno botol engko poconge iku,” kelakarnya, merujuk pada kemudahan teknologi AI yang bisa memasukkan konten apa pun ke dalam media digital.
Di balik kelakarnya, Cak Ji menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap konten viral yang belum terverifikasi. “Perkembangan teknologi digital saat ini membuat kita harus semakin cerdas memilah informasi. Jangan sampai teknologi mengelabui kita,” tegasnya.
Salah satu warga Rungkut, Bambang (45), pemilik warung kopi setempat, mengaku warganya sempat panik karena rumor pocong. “Ada ibu-ibu yang gak berani ambil air wudhu di masjid malam-malam. Pas dengar penjelasan Cak Ji, mereka jadi tenang. Guyonan beliau bikin isu seram jadi nggak ngeri lagi,” katanya.
Data Kominfo: Hoaks Supernatural AI Naik 22 Persen di 2026
Peringatan Cak Ji sejalan dengan data resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang mencatat lonjakan hoaks bernuansa supernatural di Indonesia sepanjang 2026.
Berdasarkan laporan Sistem Pemantauan Hoaks Kominfo (Siberkreasi) kuartal I 2026, terdapat 12.345 kasus hoaks yang dilaporkan masyarakat, 18 persen di antaranya (sekitar 2.222 kasus) berupa konten horor atau supernatural, naik 22 persen dari periode yang sama tahun 2025.
Dari jumlah tersebut, 67 persen dipastikan merupakan hasil rekayasa AI, sebagaimana hasil survei Literasi Digital Kominfo 2025 yang menyebut 67 persen netizen Indonesia kesulitan membedakan konten AI asli dan palsu.
Di Surabaya sendiri, Satgas Hoaks Surabaya mencatat ada 14 kasus hoaks supernatural yang beredar di media sosial sepanjang Mei 2026, delapan di antaranya merupakan video pocong buatan AI. Kasus paling viral adalah video pocong melintas di Jembatan Wonokromo yang diunggah akun TikTok pada 20 Mei 2026, yang mendapat 2,3 juta views dalam tiga hari sebelum akhirnya dihapus karena terbukti hoaks.
“Kami sudah menelusuri lokasi tersebut, tidak ada satupun saksi mata yang melihat kejadian nyata. Video itu dibuat menggunakan aplikasi AI generator gratis yang bisa diunduh di Play Store,” ujar Koordinator Satgas Hoaks Surabaya, Arief Wicaksono.
Data TikTok Indonesia per Mei 2026 juga menunjukkan hashtag #pocong memiliki 4,2 miliar penonton di Indonesia, dengan 15 persen dari 100 video teratas merupakan konten AI deepfake. Mayoritas kreator memanfaatkan tren horor untuk meraup trafik, tanpa memedulikan dampak keresahan yang ditimbulkan.
Literasi Digital, Kunci Tangkal Hoaks di Era AI
Cak Ji menegaskan, imbauan untuk tidak percaya hoaks pocong bukan berarti menutupi adanya potensi bahaya di masyarakat, melainkan mengajak warga untuk lebih mengedepankan logika dan fakta.
“Jangan sampai teknologi mengelabui kita. Kalau dapat informasi aneh, cek dulu sumbernya, tanya ke RT/RW, atau cek di akun resmi Pemkot Surabaya. Jangan langsung disebar ke WA grup,” ucapnya.
Merespons fenomena tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan meluncurkan program “Surabaya Melek AI” pada Juni 2026 mendatang. Program ini akan menyediakan pelatihan gratis bagi warga, guru, dan pelajar untuk mengenali konten AI hoaks, mulai dari cara membedakan video deepfake hingga melaporkan konten negatif ke Kominfo.
“Kami juga akan bekerja sama dengan komunitas kreator konten di Surabaya untuk menyebarkan pesan literasi digital melalui media sosial, supaya lebih mudah menjangkau anak muda,” tambah Cak Ji.
Dr. Riri Satria, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, menilai pendekatan humor Cak Ji sangat efektif untuk menyampaikan pesan publik terkait hoaks.
“Isu supernatural sering memicu kepanikan irasional, tapi dengan humor, kecemasan warga berkurang, sehingga pesan logis tentang literasi digital lebih mudah diterima. Ini strategi komunikasi yang tepat untuk konteks Surabaya yang kental dengan budaya guyonan,” ujarnya.
Ia menambahkan, humor harus dibarengi dengan program struktural agar literasi digital menjangkau seluruh lapisan warga.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah video pocong AI masih beredar di media sosial, namun Satgas Hoaks Surabaya memastikan akan terus memantau dan mengedukasi warga agar tidak terpengaruh. Cak Ji pun menutup pernyataannya dengan candaan khasnya: “Lek ketemu pocong beneran, foto dulu, kirim ke aku. Tapi ingat, kemungkinan itu cuma orang pakai kain kafan mau cosplay, bukan hantu sungguhan!” (mbm/dnv).













