Dapur MBG Bertambah, Harga Ayam di Kota Batu Ikut Menanjak

Ilustrasi harga daging ayam ras di Kota Batu yang kini tembus Rp42 ribu per kilogram dikarenakan permintaan tinggi dari dapur-dapur SPPG MBG (io)

Harga ayam ras di Kota Batu menembus Rp42 ribu per kilogram. Lonjakan permintaan MBG menguji kekuatan pasokan dan distribusi pangan daerah.

INDONESIAONLINE – Lonjakan harga daging ayam ras di Kota Batu membuka persoalan yang lebih besar daripada sekadar mahalnya satu komoditas pangan di pasar tradisional. Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas skala operasional, kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar mulai bertemu dengan kapasitas pasokan lokal yang terbatas.

Di Pasar Induk Among Tani, harga daging ayam ras kini berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram. Angka itu menjadi perhatian karena kenaikan terjadi bukan pada momentum Lebaran, Natal, atau hari besar lain yang lazim mendorong lonjakan konsumsi masyarakat. Pedagang melihat perubahan pola permintaan sebagai salah satu faktor yang mengubah keseimbangan pasar.

Azzam Kodari, salah seorang pedagang di Pasar Induk Among Tani Kota Batu, menilai kenaikan harga kali ini cukup mencolok untuk ukuran perdagangan pada hari biasa.

“Memang cukup tinggi, padahal hanya hari biasa. Kami menduga kuat tingginya harga dipicu oleh pengoperasian dapur-dapur MBG yang kian bertambah sehingga menyerap pasokan dalam jumlah besar secara bersamaan,” ungkap Azzam.

Data pergerakan harga menunjukkan kenaikan tersebut berlangsung cukup tajam. Pada 25 Juni 2026, Pemerintah Kota Batu masih mencatat harga daging ayam ras di Pasar Induk Among Tani sebesar Rp31 ribu per kilogram. Dengan harga yang sempat mencapai Rp42 ribu pada akhir Agustus, terjadi kenaikan sekitar Rp11 ribu per kilogram atau lebih dari 35 persen dibandingkan posisi akhir Juni.

Data pemantauan harga pada akhir Agustus juga menunjukkan tekanan belum sepenuhnya mereda. Rata-rata harga daging ayam ras di sejumlah pasar Kota Batu tercatat sekitar Rp39.250 per kilogram pada 28 Agustus, sementara di Pasar Induk Among Tani harga eceran dilaporkan sempat mencapai Rp42 ribu per kilogram. Perbedaan tersebut menunjukkan variasi harga antar pasar dan jalur distribusi.

Persoalannya kemudian bukan hanya apakah MBG menyebabkan harga ayam naik. Lebih jauh, meningkatnya kebutuhan pangan dalam skala besar menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan sistem pasokan sebuah kota wisata yang selama ini masih bergantung pada daerah lain untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya.

Ketika Permintaan Tumbuh Lebih Cepat dari Pasokan

Kepala Bidang Perdagangan Diskumperindag Kota Batu Andry Yunanto menyebut tekanan harga muncul ketika kebutuhan meningkat, tetapi stok yang tersedia tidak mampu bergerak dengan kecepatan yang sama.

“Ketika stok di pasar menipis namun permintaan masyarakat tinggi, harga otomatis akan menyesuaikan naik. Kebutuhan protein Kota Batu selama ini memang didatangkan dari daerah tetangga seperti Kabupaten Malang hingga Kota Blitar,” terang Andry Yunanto.

Keterangan tersebut memperlihatkan posisi Kota Batu dalam rantai pangan regional. Kebutuhan masyarakat tidak seluruhnya ditopang produksi lokal. Pasokan daging ayam dan protein hewani juga bergerak dari daerah sekitar menuju pasar-pasar di Kota Batu.

Ketika permintaan rumah tangga bertambah dengan kebutuhan institusional dalam jumlah besar dan terjadwal, rantai pasok harus menyesuaikan.

Di sinilah program MBG membawa dampak ekonomi yang lebih luas. Setiap dapur membutuhkan bahan baku secara rutin. Permintaan tidak lagi hanya datang dari konsumen individual yang berbelanja sesuai kebutuhan harian, tetapi dari satuan pelayanan yang harus menyediakan ribuan porsi dalam waktu tertentu.

Gambaran skala tersebut terlihat dari operasional salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Batu. SPPG Syair Beji, misalnya, pada awal tahun ajaran 2026/2027 mendistribusikan 1.814 paket makanan dalam satu hari kepada enam sekolah dan empat Posyandu. Kebutuhan bahan baku untuk satu dapur saja, dengan demikian, dapat mencapai volume yang signifikan.

Pada Februari 2026, jumlah dapur SPPG di Kota Batu juga dilaporkan telah mencapai sekitar 25 unit yang melayani ribuan pelajar dan kelompok rentan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan bahan pangan program ini berpotensi terus meningkat seiring bertambahnya kapasitas pelayanan.

Di tingkat provinsi, skala program bahkan jauh lebih besar. Pada awal 2026, pelaksanaan MBG di Jawa Timur dilaporkan telah melayani sekitar 8,4 juta penerima manfaat melalui ribuan SPPG. Kondisi tersebut menjadikan pengadaan pangan untuk MBG bukan sekadar urusan dapur, melainkan bagian dari permintaan besar yang dapat memengaruhi dinamika komoditas di pasar regional.

Namun, peningkatan permintaan bukan satu-satunya faktor harga. Pasokan dari peternak, biaya pakan, distribusi, ketersediaan ayam siap potong, hingga perubahan permintaan konsumen tetap menjadi bagian dari mata rantai yang menentukan harga akhir.

Karena itu, mengaitkan kenaikan harga hanya kepada MBG tanpa melihat keseluruhan rantai pasok berisiko menyederhanakan persoalan. MBG dapat menjadi salah satu sumber tambahan permintaan, tetapi kenaikan harga tetap perlu dibaca bersama kemampuan produksi dan kelancaran distribusi.

Kota Batu Mencari Jalan Mengamankan Stok

Pemkot Batu kini menyiapkan langkah intervensi untuk mencegah gejolak harga berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap daya beli masyarakat.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah Kerja Sama Antar Daerah atau KAD dengan wilayah yang memiliki basis produksi peternakan lebih besar. Skema tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan distribusi harian tetap terjaga.

Langkah ini penting karena karakter ekonomi Kota Batu membuat ketahanan pangannya tidak bisa hanya bergantung pada mekanisme pasar lokal. Kota dengan luas wilayah terbatas dan struktur ekonomi yang kuat pada sektor pariwisata serta jasa membutuhkan jaringan pasokan yang stabil dari kawasan produksi di sekitarnya.

Kerja sama antardaerah dapat menjadi instrumen untuk mengurangi risiko ketika satu daerah mengalami kekurangan pasokan. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan distribusi berlangsung cepat dan tidak tersendat pada mata rantai tertentu.

Pemerintah juga memperketat pemantauan harga melalui aplikasi Sistem Kendali Komoditi. Sistem tersebut digunakan untuk memetakan sumber tekanan harga, apakah berasal dari tingkat produsen, keterbatasan stok, atau persoalan distribusi sebelum barang sampai kepada pedagang dan konsumen.

Pemantauan menjadi semakin penting karena data harga memperlihatkan perubahan yang cepat sepanjang dua bulan terakhir. Pada akhir Juni, harga ayam ras di Kota Batu tercatat Rp31 ribu per kilogram. Memasuki awal Agustus, rata-rata harga daging ayam ras di Jawa Timur berada di kisaran Rp35.024 per kilogram. Menjelang akhir Agustus, harga di Kota Batu sudah berada di sekitar Rp39 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram.

Kenaikan itu menempatkan pemerintah pada dua kepentingan yang harus dijaga sekaligus. Di satu sisi, program MBG harus mendapatkan pasokan bahan pangan berkualitas dan berkelanjutan. Di sisi lain, peningkatan penyerapan dalam jumlah besar tidak boleh mengorbankan akses masyarakat umum terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau. Tantangannya justru terletak pada titik temu antara keduanya.

MBG sejak awal juga dirancang memiliki potensi untuk menggerakkan ekonomi lokal. Sejumlah dapur di Kota Batu telah diarahkan untuk menggunakan bahan baku dari petani, UMKM, BUMDes, dan pelaku usaha setempat. SPPG Temas 1, misalnya, dilaporkan memanfaatkan bahan pangan lokal, termasuk sayur, buah, telur, daging, bahan kering, dan bumbu.

Jika sistem pengadaan lokal dapat diperkuat, meningkatnya kebutuhan MBG sebenarnya dapat menjadi peluang bagi peternak dan produsen pangan. Namun, peluang itu hanya akan berjalan baik apabila kapasitas produksi bertumbuh seiring meningkatnya permintaan.

Tanpa peningkatan produksi, permintaan besar hanya akan mengejar stok yang tersedia. Akibatnya, pasar tradisional dan dapur program pemerintah dapat berebut sumber pasokan yang sama.

Kenaikan harga ayam di Kota Batu menjadi peringatan awal mengenai pentingnya perencanaan rantai pasok pangan. Persoalan yang dihadapi bukan semata harga Rp42 ribu per kilogram, melainkan bagaimana sebuah kota menyiapkan sistem produksinya ketika kebutuhan pangan berubah semakin besar dan terorganisasi.

Bagi konsumen, dampaknya terasa langsung di meja makan. Bagi pedagang, kenaikan harga dapat mengurangi jumlah pembelian pelanggan. Sementara bagi pemerintah, situasi ini menjadi ujian apakah pertumbuhan program nasional dapat diikuti kesiapan sistem pangan di tingkat daerah.

Dapur-dapur MBG akan terus membutuhkan bahan makanan setiap hari. Pertanyaannya, apakah pasokan lokal dan jaringan distribusi Kota Batu mampu tumbuh secepat kebutuhan yang kini terus bertambah?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah MBG benar-benar dapat menjadi penggerak ekonomi pangan lokal, atau justru menjadi tambahan tekanan bagi pasar ketika produksi belum cukup siap mengikuti lonjakan permintaan.