Disnakeswan Lamongan kebut vaksinasi PMK hingga ke pelosok desa. Ribuan dosis disuntik, pasar hewan diawasi ketat demi selamatkan ekonomi peternak dari wabah.
INDONESIAONLINE – Di tengah hamparan sawah dan hiruk-pikuk pedesaan Kabupaten Lamongan, sapi dan kambing bukan sekadar hewan peliharaan. Bagi ribuan warga di sana, ternak adalah “tabungan hidup”. Celengan bernyawa yang menjadi tumpuan harapan untuk biaya sekolah anak, renovasi rumah, hingga bekal naik haji.
Namun, ketenangan para peternak di lumbung pangan Jawa Timur ini kembali terusik. Bayang-bayang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menghantui, mengancam untuk meruntuhkan ekonomi kerakyatan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Awal tahun 2026 menjadi momen krusial bagi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Lamongan. Tidak ingin kecolongan oleh virus yang mampu menyebar secepat kilat ini, pemerintah daerah setempat menabuh genderang perang.
Strategi pertahanan berlapis digelar, mulai dari pengawasan ketat di pasar-pasar hewan legendaris hingga gerilya vaksinasi yang menembus jalan-jalan setapak di pelosok desa.
Alarm Bahaya dan Resiliensi Peternak
Kepala Disnakeswan Lamongan, Shofiah Nurhayati, tidak menampik bahwa ancaman itu nyata. Data yang ia pegang bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari denyut nadi peternakan daerah. Per tanggal 6 Februari 2026, tercatat ada dinamika populasi baru yang menjadi perhatian serius.
Dari 230 sapi yang masuk dalam radar pemantauan intensif, wabah ini sempat meninggalkan jejak luka. Meski demikian, ada kabar baik yang menyeruak di antara kecemasan.
“Kami terus melakukan upaya maksimal. Berdasarkan data per 6 Februari, dari 230 sapi di populasi baru, terdapat 67 ekor yang sudah sembuh dan 96 ekor dalam kondisi sehat,” ujar Shofiah saat memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan situasi lapangan.
Namun, pertempuran belum usai. Masih ada 51 ekor sapi yang kini berjuang melawan sakit, dan 5 ekor sapi yang dilaporkan mati. Bagi orang awam, angka 5 mungkin kecil. Tapi bagi seorang peternak desa, kematian satu ekor sapi setara dengan hilangnya tabungan puluhan juta rupiah yang dikumpulkan bertahun-tahun. Kematian ini menjadi pecut bagi Disnakeswan untuk bergerak lebih agresif.
Strategi “Jemput Bola” Menembus Desa
Menyadari bahwa menunggu bola adalah strategi yang usang, tim kesehatan hewan Lamongan mengubah taktik. Mereka tidak lagi hanya menunggu laporan masuk, melainkan turun langsung ke kandang-kandang warga dengan sistem “jemput bola”. Mobil-mobil dinas dan sepeda motor petugas kesehatan hewan kini lebih sering terlihat parkir di halaman rumah warga di berbagai kecamatan.
Salah satu potret perjuangan ini terekam jelas di Desa Karangwungu Lor, Kecamatan Laren. Pada Senin, 9 Februari 2026, tim vaksinator bekerja maraton. Bukan pekerjaan mudah menyuntikkan vaksin ke ratusan hewan yang kerap kali memberontak. Namun, dedikasi itu terbayar lunas dengan data yang menggembirakan.
“Tercatat hingga Senin (9/2/2026), kami berhasil menyuntikkan vaksin kepada 256 ekor hewan ternak di wilayah tersebut. Rinciannya terdiri dari 48 ekor sapi dan 208 ekor kambing,” papar Shofiah.
Langkah taktis di Kecamatan Laren ini adalah mikrokosmos dari strategi besar Kabupaten Lamongan. Vaksinasi massal di tingkat desa dinilai sebagai benteng paling efektif. Ketika imunitas kelompok (herd immunity) terbentuk di kandang-kandang rakyat, maka mata rantai penularan virus PMK otomatis akan terputus.
“Upaya ini diharapkan mampu memperluas perlindungan ternak di wilayah kecamatan serta meminimalkan risiko penyebaran PMK ke wilayah lain yang masih zona hijau,” tambahnya dengan nada optimis.
Logistik Perang: Belasan Ribu Dosis Vaksin
Tentu saja, semangat para vaksinator di lapangan tidak akan berarti tanpa dukungan logistik yang memadai. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan amunisi penuh. Sebanyak 14.000 dosis vaksin PMK telah digelontorkan ke Kabupaten Lamongan sebagai bentuk dukungan kedaruratan.
Disnakeswan Lamongan pun merespons dengan akselerasi distribusi yang luar biasa. Jika menilik grafik kinerjanya, terjadi lonjakan signifikan dalam penyuntikan vaksin. Program yang sejatinya telah bergulir sejak akhir tahun lalu ini menemukan momentum puncaknya di awal 2026.
Shofiah merinci, pada Desember 2025, distribusi vaksin baru menyentuh angka 276 dosis. Namun, menyadari urgensi situasi, mesin birokrasi dipacu kencang. Sepanjang Januari hingga 8 Februari 2026, angka tersebut meroket tajam dengan capaian 9.954 dosis.
“Hingga periode 8 Februari 2026, total sebanyak 10.230 dosis vaksin telah berhasil disuntikkan kepada ternak milik warga. Vaksinasi terus kami lakukan secara berkelanjutan sebagai langkah preventif utama,” tegasnya.
Angka ini menunjukkan bahwa hampir 75 persen dari stok vaksin bantuan provinsi telah berhasil mendarat di tubuh ternak dalam waktu singkat.
Menjaga Denyut Nadi Pasar Hewan
Selain kandang warga, fokus utama Disnakeswan adalah pasar hewan. Di Lamongan, pasar hewan seperti Pasar Tikung dan Pasar Babat adalah jantung ekonomi. Di sinilah ribuan ternak berpindah tangan, dan di sini pula risiko penularan massal paling tinggi terjadi. Jika satu sapi sakit masuk pasar, dampaknya bisa fatal bagi satu kabupaten.
Pengawasan fisik dilakukan secara ketat. Petugas memeriksa mulut, lidah, dan kuku setiap hewan yang masuk dan keluar. Ketegangan sempat terjadi, namun hasilnya melegakan semua pihak.
“Pemantauan di Pasar Hewan Tikung dan Babat menunjukkan hasil positif, di mana seluruh ternak dinyatakan dalam kondisi sehat dan tidak ditemukan kasus PMK maupun gejala klinis yang mengarah ke sana,” ungkap Shofiah.
Kabar bersihnya pasar hewan ini menjadi angin segar bagi para pedagang. Stabilitas pasar sangat bergantung pada kepercayaan. Jika pasar dinyatakan aman, harga jual ternak akan stabil, dan roda ekonomi peternak tidak akan macet.
Apa yang dilakukan Disnakeswan Lamongan adalah sebuah ikhtiar menjaga kedaulatan pangan, khususnya daging sapi. Lamongan, sebagai salah satu sentra ternak terbesar di Jawa Timur, memegang peranan vital. Wabah PMK bukan sekadar masalah kesehatan hewan, ini adalah masalah perut dan ekonomi rakyat.
Kombinasi antara percepatan vaksinasi, ketegasan pengawasan pasar, dan edukasi yang humanis kepada peternak menjadi kunci. Disnakeswan tidak bekerja sendiri; mereka menggandeng aparat desa, kepolisian, dan tokoh masyarakat untuk menyadarkan bahwa vaksin adalah solusi.
Ke depan, tantangan belum tentu surut. Virus bisa bermutasi atau menyebar lewat perantara yang tak terduga. Namun, dengan 10.230 dosis vaksin yang sudah tertanam dan ribuan lainnya yang siap disuntikkan, benteng pertahanan ternak di Lamongan kini jauh lebih kokoh.
Harapan para peternak agar “tabungan hidup” mereka tetap bernyawa, kini berada di ujung jarum suntik para pahlawan kesehatan hewan yang tak kenal lelah menyusuri desa (db/dnv).
