Beranda

Sultan Alauddin dan Armada Hantu Gowa: Mimpi Buruk VOC di Laut Timur

Sultan Alauddin dan Armada Hantu Gowa: Mimpi Buruk VOC di Laut Timur
Ilustrasi artikel (io)

Sultan Alauddin ubah Gowa jadi raksasa maritim. Berbekal teknologi Portugis, armada ‘Galle’ Gowa jadi mimpi buruk VOC di Laut Timur

INDONESIAONLINE – Jauh sebelum modernitas menyentuh pesisir Sulawesi, Somba Opu pernah menjadi salah satu metropolitan paling sibuk di Asia Tenggara. Di abad ke-17, aroma rempah-rempah bercampur dengan bau amis laut dan mesiu, menciptakan atmosfer yang memabukkan bagi para pedagang dunia.

Di balik kemegahan bandar niaga itu, berdiri sosok visioner yang namanya kini diabadikan sebagai salah satu kampus Islam terbesar di Makassar: Sultan Alauddin.

Sultan Alauddin bukan sekadar raja yang duduk di singgasana gading. Ia adalah arsitek geopolitik yang memahami bahwa laut bukan pemisah, melainkan jalan raya kekuasaan. Meski telah memeluk Islam sebagai agama resmi kerajaan pada 1605, Sultan Alauddin menerapkan politik pintu terbuka (open door policy) yang sangat progresif.

Ia menjaga hubungan baik dengan bangsa asing, termasuk Portugis yang Katolik, bahkan Belanda yang Protestan, selama mereka mau berdagang dengan adab.

Namun, keramahan itu memiliki batas. Sejarah mencatat, ketika harga diri bangsa diinjak, Sultan Alauddin mengubah perairan Makassar menjadi neraka bagi kapal-kapal asing yang angkuh, khususnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Tragedi De Eendrach: Pemicu Perang Panjang

Hubungan dagang yang awalnya manis dengan Belanda berubah menjadi sengketa berdarah pada akhir tahun 1616. Pemicunya adalah arogansi. Sebuah kapal milik maskapai dagang Belanda, De Eendrach, merapat di Bandar Somba Opu. Bukannya mengikuti protokol diplomatik layaknya tamu, awak kapal tersebut justru bertindak di luar batas.

Sejarawan Hannabi Rizal dalam bukunya Profil Raja & Pejuang Sulawesi Selatan mencatat detail insiden tersebut. Juru mudi De Eendrach bersama 15 awaknya turun dari kapal dengan sikap congkak, seolah-olah petugas pelabuhan Gowa adalah bawahan mereka. Bagi masyarakat Bugis-Makassar yang memegang teguh filosofi Siri’ (harga diri), tindakan ini adalah penghinaan yang tak termaafkan.

Amarah Sultan meledak. Diplomasi ditutup, pedang dicabut. Ke-15 awak Belanda tersebut diserang dan tewas di tempat. Insiden ini menjadi titik balik. Belanda yang merasa “dihina” memasukkan Kerajaan Gowa ke dalam daftar hitam musuh nomor satu. Namun, VOC lupa satu hal: Gowa bukanlah kerajaan pesisir biasa yang mudah digertak dengan meriam kapal.

Sultan Alauddin sadar, serangan balasan Belanda hanyalah soal waktu. Ia pun mempersiapkan pertahanan semesta, baik di darat maupun di laut.

Aliansi Strategis: Mengadopsi Teknologi Portugis

Menghadapi Belanda yang memiliki teknologi maritim maju, Gowa tidak menutup mata. Sultan Alauddin memainkan kartu diplomasi cerdas dengan merangkul musuh dari musuhnya Belanda, yakni Portugis. Saat itu, Portugis yang berpusat di Malaka mulai terdesak oleh ekspansi Belanda, sehingga mereka dengan senang hati membantu Gowa.

Kerjasama ini bukan sekadar barter rempah, melainkan transfer teknologi militer high-end pada zamannya. Mukhlis Paeni dalam Sejarah Kebudayaan Sulawesi mengungkapkan bahwa Portugis mengirimkan instruktur-instruktur terbaik mereka untuk melatih tukang kayu Gowa membangun kapal perang tipe Galle atau Galleon.

Ini adalah lompatan teknologi yang masif. Kapal Galleon adalah jenis kapal layar besar bertingkat yang lazim digunakan bangsa Eropa untuk penjelajahan samudra dan perang laut. Model ini mirip dengan kapal legendaris Portugis, Flor de la Mar, yang karam di perairan Aceh satu abad sebelumnya.

Di tangan para ahli pembuat kapal (Panrita Lopi) Sulawesi Selatan yang memang sudah terkenal ulung, desain Eropa ini disempurnakan. Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan mendeskripsikan kapal perang Gowa hasil hibridasi teknologi ini. Kapal-kapal tersebut berbentuk jung raksasa dengan panjang mencapai 27 meter dan lebar lambung 5 meter.

Ukuran ini sangat intimidatif untuk ukuran kapal perang di Nusantara kala itu. Dengan lambung yang gemuk dan struktur yang kokoh, kapal-kapal ini mampu memuat puluhan meriam dan ratusan prajurit, menjadikannya benteng terapung yang mengerikan.

Solidaritas Nusantara: Mengirim 100 Kapal ke Maluku

Kekuatan maritim yang dibangun Sultan Alauddin tidak hanya digunakan untuk “jago kandang”. Ia memiliki visi solidaritas Nusantara yang kuat. Pada dekade 1630-an, VOC mulai menerapkan praktik monopoli yang kejam di Maluku melalui pelayaran Hongi (Hongitochten).

Belanda membakar ribuan pohon cengkeh milik rakyat untuk menjaga harga tetap tinggi di pasar Eropa, yang memicu perlawanan dari Kesultanan Ternate.

Mendengar sekutunya didzalimi, Sultan Alauddin tidak tinggal diam. Sejarah mencatat momen heroik pada rentang tahun 1631-1634, di mana Gowa mengirimkan armada bantuan yang tak main-main jumlahnya: 100 kapal perang.

Pengiriman armada ini adalah pesan politik yang keras kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia. Bahwa Ternate tidak sendirian, dan Gowa memiliki kapasitas militer untuk memproyeksikan kekuatan (power projection) hingga ribuan kilometer dari pusat kekuasaannya.

Nasaruddin Koro dalam bukunya Ayam Jantan Tanah Daeng menyebut Gowa di era ini sebagai penghalang terbesar ambisi monopoli VOC di Indonesia Timur.

Bantuan ini membuat Belanda kewalahan. Mereka harus memecah konsentrasi kekuatan tempurnya. Di satu sisi mereka harus menghadapi gerilya laut orang-orang Maluku, di sisi lain mereka harus waspada terhadap armada hantu Gowa yang bisa muncul kapan saja dengan daya hancur yang mematikan.

Warisan Sang Sultan: Pondasi bagi “Ayam Jantan dari Timur”

Apa yang dilakukan Sultan Alauddin adalah peletakan batu pertama bagi kemasyhuran Gowa di mata dunia. Ia tidak hanya mewariskan takhta, tetapi mewariskan sebuah sistem pertahanan maritim yang mapan, industri pembuatan kapal yang maju, serta jaringan intelijen dan diplomasi yang luas.

Sepeninggal Sultan Alauddin pada 1639, putranya Sultan Malikussaid, dan kemudian cucunya, I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape—yang lebih kita kenal sebagai Sultan Hasanuddin—mewarisi armada tangguh ini.

Tanpa visi Sultan Alauddin yang memodernisasi angkatan laut Gowa dengan teknologi Galleon, mungkin perlawanan Sultan Hasanuddin yang begitu heroik puluhan tahun kemudian tidak akan bertahan selama itu.

Julukan De Haantjes van Het Oosten (Ayam Jantan dari Timur) yang disematkan Belanda kepada Hasanuddin, sejatinya juga merupakan pengakuan diam-diam terhadap pondasi militer yang dibangun oleh sang kakek, Sultan Alauddin.

Kisah Sultan Alauddin mengajarkan kita bahwa keberanian melawan penjajah tidak cukup hanya dengan semangat dan bambu runcing. Diperlukan kecerdasan berdiplomasi, kemauan menyerap teknologi asing, dan strategi membangun kemandirian ekonomi.

Di bawah panji Sultan Alauddin, Gowa pernah membuktikan diri sebagai negara maritim yang disegani, di mana laut bukanlah pemisah pulau, melainkan halaman depan istana yang harus dijaga kehormatannya sampai titik darah penghabisan.

Exit mobile version