Perang drone di Ukraina menggeser peran sniper elit. Teknologi nirawak kini lebih murah, cepat, dan efektif di medan tempur modern.
INDONESIAONLINE – Di medan perang modern Ukraina, suara tembakan sniper yang dulu menjadi simbol ketepatan dan ketakutan kini mulai tergantikan dengungan drone di langit. Teknologi pesawat nirawak mengubah cara perang dijalankan, sekaligus menggeser posisi para penembak jitu elit yang selama ini dianggap aset paling mematikan di garis depan.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh Vyacheslav Kovalskiy, mantan sniper pasukan khusus Ukraina yang pernah mencatat rekor dunia pada akhir 2023 setelah menembak seorang perwira Rusia dari jarak hampir empat kilometer. Rekor tersebut sempat menjadikannya simbol kemampuan tempur Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Namun hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, peran Kovalskiy berubah drastis. Senapan laras panjang yang dulu menjadi alat utama perangnya kini lebih sering tersimpan di gudang. Ia tidak lagi berburu target dari kejauhan, melainkan membantu para operator drone menyiapkan navigasi dan bahan peledak.
Transformasi itu bukan kasus tunggal. Di banyak sektor pertempuran Ukraina, peran sniper mulai tersisih oleh drone yang lebih murah, lebih cepat, dan dinilai lebih efektif untuk berbagai misi tempur.
“Dulu saya adalah sniper dan semua orang menari di sekitar saya. Sekarang, pilot drone-lah yang menjadi pusatnya,” ujar Kovalskiy seperti dikutip The Wall Street Journal.
Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam doktrin peperangan abad ke-21. Jika pada perang-perang sebelumnya dominasi medan tempur ditentukan oleh tank, artileri, dan penembak jitu, kini teknologi drone menjadi elemen paling menentukan.
Perang Perang Rusia-Ukraina menjadi laboratorium terbesar transformasi itu. Kedua pihak menggunakan drone dalam hampir seluruh aspek operasi militer: pengintaian, penyerangan, koreksi artileri, hingga serangan bunuh diri.
Keunggulan drone terletak pada efisiensi dan minimnya risiko terhadap personel. Dalam operasi sniper tradisional, seorang penembak jitu membutuhkan latihan bertahun-tahun, perlengkapan mahal, serta perlindungan tim khusus. Risiko tertangkap atau terbunuh juga sangat tinggi.
Sebaliknya, drone dapat dioperasikan dari jarak aman dengan biaya jauh lebih rendah. Jika hancur, kerugiannya hanya berupa perangkat elektronik bernilai ribuan dollar AS, bukan nyawa prajurit yang telah dilatih selama bertahun-tahun.
Perubahan ini juga dirasakan sniper Ukraina lain dengan nama panggilan “Ivanhoe”. Pada awal perang 2022, ia bertugas mengamati posisi musuh dan mengarahkan tembakan artileri. Proses itu biasanya membutuhkan waktu tiga hingga lima menit.
Kini, fungsi tersebut hampir sepenuhnya diambil alih drone. Operator dapat langsung mendeteksi target dari udara dan mengirim koordinat secara real time.
“Operator drone melihatnya, dan serangan terjadi hampir secara langsung,” kata Ivanhoe.
Kecepatan respons menjadi faktor penting dalam perang modern. Di medan tempur Ukraina yang sangat dinamis, keterlambatan beberapa menit saja dapat membuat target berpindah posisi atau serangan gagal total.
Selain itu, drone juga memberikan keunggulan visual yang sebelumnya sulit dicapai sniper manusia. Kamera resolusi tinggi dan sensor termal memungkinkan operator melihat area luas dari udara, bahkan pada malam hari atau di tengah vegetasi rapat.
Bagi sniper, perkembangan teknologi ini justru menciptakan ancaman baru. Posisi persembunyian yang dulu dianggap aman kini lebih mudah terdeteksi drone pencitraan termal.
Teknologi thermal imaging mampu membaca panas tubuh manusia meski bersembunyi di balik pepohonan, reruntuhan bangunan, atau semak-semak. Akibatnya, medan perang menjadi jauh lebih terbuka dan berbahaya bagi personel darat.
Sniper juga menghadapi keterbatasan mobilitas. Mereka harus berjalan kaki dalam jarak jauh sambil membawa perlengkapan berat agar tidak terdeteksi kendaraan atau sinyal elektronik.
Kovalskiy menceritakan bagaimana timnya pernah memantau bunker tentara Rusia pada musim gugur lalu. Namun karena keterbatasan optik malam, ia tidak dapat melakukan penembakan. Pada akhirnya, drone digunakan untuk menjatuhkan bom langsung ke bunker tersebut.
Meski begitu, era drone bukan berarti menghapus total peran sniper. Sejumlah komandan militer Ukraina menilai penembak jitu tetap memiliki fungsi penting dalam kondisi tertentu.
Komandan unit sniper Ukraina bernama panggilan “Coyote” mengatakan sniper masih efektif dalam operasi penyergapan dan pertahanan posisi. Pada musim panas 2024 di kota Toretsk, unitnya disebut berhasil menewaskan 16 tentara Rusia dalam operasi yang tidak terdeteksi drone.
Selain itu, sniper memiliki satu keunggulan utama: mereka tidak bisa diganggu sinyal elektronik atau diretas.
Dalam perang modern, peperangan elektronik menjadi ancaman serius bagi drone. Rusia maupun Ukraina sama-sama menggunakan sistem jamming untuk mengacaukan sinyal navigasi dan komunikasi drone lawan.
Ketika sistem elektronik terganggu, drone bisa kehilangan kendali atau jatuh sebelum mencapai target. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan sniper manusia tetap dianggap relevan.
Militer Barat juga belum sepenuhnya meninggalkan konsep sniper tradisional. Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyatakan pelatihan sniper tetap menjadi bagian penting strategi tempur masa depan.
Juru bicara Pentagon, Letkol Vonnie L Wright, menyebut sniper manusia masih menjadi aset penting karena tidak bergantung pada sinyal elektronik.
“Sniper manusia adalah aset yang krusial, tidak dapat diganggu sinyalnya, dan memiliki jejak nol di medan perang modern,” katanya.
Perubahan besar di Ukraina kini dipelajari banyak negara sebagai gambaran masa depan peperangan global. Konflik tersebut memperlihatkan bahwa perang modern semakin bergantung pada teknologi murah, cepat diproduksi, dan mampu mengurangi risiko korban personel.
Drone kamikaze, drone pengintai murah, hingga sistem kecerdasan buatan mulai mengubah struktur militer tradisional di berbagai negara. Banyak analis menilai dominasi drone di Ukraina akan memengaruhi desain strategi perang dunia dalam dekade mendatang.
Meski demikian, perang tetap tidak sepenuhnya menjadi urusan mesin. Pada akhirnya, teknologi tetap membutuhkan manusia untuk mengoperasikan, mengambil keputusan, dan menghadapi konsekuensi moral dari setiap serangan.
Bagi Kovalskiy sendiri, ada satu hal dari masa lalunya sebagai sniper yang tidak ia rindukan: membunuh manusia secara langsung. Kini, di balik layar drone dan monitor digital, perang mungkin berubah bentuk, tetapi luka psikologis yang ditinggalkan tetap sama.













