Emas Dunia: Siswa SWA Ciptakan Luma, Headset AI Bantu Pasien Stroke

Emas Dunia: Siswa SWA Ciptakan Luma, Headset AI Bantu Pasien Stroke
Tiga pelajar Indonesia berhasil mengibarkan Merah Putih di panggung tertinggi kompetisi robotika dunia, World Robot Olympiad (WRO) International Final 2025 dengan menyabet medali emas lewat inovasi LUMA. Headset AI ini bantu pasien stroke bicara dengan biaya murah. (SWA)

Siswa SWA raih emas WRO 2025 lewat inovasi LUMA. Headset AI ini bantu pasien stroke bicara dengan biaya murah. Solusi komunikasi bagi penderita ALS.

INDONESIAONLINE – Di tengah gemerlap kemajuan teknologi global, kabar membanggakan datang dari “Negeri Singa”. Tiga pelajar Indonesia berhasil mengibarkan Merah Putih di panggung tertinggi kompetisi robotika duniaWorld Robot Olympiad (WRO) International Final 2025.

Namun, kemenangan ini bukan sekadar tentang piala atau medali emas yang melingkar di leher. Ini adalah kisah tentang bagaimana empati yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu melahirkan harapan baru bagi jutaan manusia yang terpenjara dalam diam akibat kelumpuhan.

Tim SWA RoboKnights, yang diawaki oleh Audric Tsai, Zhenxuan, dan Yik Yan—tiga siswa jenius dari Sinarmas World Academy (SWA)—sukses menyingkirkan lebih dari 500 tim pesaing dari 91 negara. Mereka membawa pulang Medali Emas sekaligus penghargaan bergengsi “Start-Up Award” untuk kategori Future Innovators Senior.

Karya monumental mereka diberi nama LUMA, sebuah perangkat headset revolusioner yang dirancang untuk mengembalikan “suara” bagi penderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), stroke, dan gangguan neuromuskular berat lainnya.

LUMA: Memecah Kesunyian dengan Gelombang Otak

Bayangkan hidup di mana tubuh Anda tidak bisa bergerak, mulut tidak bisa berucap, namun pikiran Anda tetap sadar dan aktif. Kondisi locked-in syndrome ini adalah mimpi buruk bagi banyak pasien stroke dan ALS. Selama ini, teknologi untuk membantu mereka berkomunikasi—seperti yang pernah digunakan mendiang fisikawan Stephen Hawking—berharga sangat mahal dan sulit diakses oleh masyarakat umum.

Di sinilah LUMA hadir sebagai game changer. Perangkat ini bukan sekadar alat bantu dengar atau bicara biasa. LUMA adalah integrasi kompleks antara ilmu neurosains dan teknik informatika tingkat lanjut.

Cara kerjanya terbilang futuristik namun sangat aplikatif. Perangkat ini menangkap sinyal gelombang otak atau electroencephalogram (EEG) dan pola kedipan mata pengguna. Data biologis yang sangat halus ini kemudian diterjemahkan menjadi kode Morse.

Namun, kejeniusan tim SWA RoboKnights terletak pada langkah selanjutnya. Mereka tidak membiarkan kode Morse itu berdiri sendiri.

Sistem LUMA dilengkapi dengan model bahasa berbasis AI (Large Language Model) dan sistem deteksi objek secara real-time. Artinya, AI di dalam LUMA tidak hanya menerjemahkan kedipan mata menjadi huruf, tetapi juga “melihat” lingkungan sekitar pengguna melalui kamera.

Sebagai contoh, jika pengguna yang haus menatap botol air di depannya, kamera akan mendeteksi objek “botol air”. AI kemudian akan menggabungkan sinyal otak/kedipan mata dengan konteks visual tersebut untuk memprediksi kalimat yang ingin diucapkan, seperti “Saya ingin minum”.

Hasil terjemahan niat tersebut kemudian ditampilkan sebagai saran frasa kontekstual melalui kacamata augmented-reality (AR) di depan mata pengguna. Jika pengguna menyetujui (misalnya dengan kedipan tertentu), perangkat akan menyuarakan kalimat tersebut secara verbal.

Teknologi ini memungkinkan ekspresi kebutuhan, emosi, dan pemikiran yang lebih natural dan cepat dibandingkan metode pengejaan huruf per huruf konvensional.

Disrupsi Harga: Teknologi untuk Semua

Salah satu poin paling krusial yang membuat juri internasional terpukau—dan alasan mereka memenangkan “Start-Up Award”—adalah efisiensi biaya. Tim SWA RoboKnights berhasil merancang LUMA dengan estimasi biaya produksi hanya sekitar Rp 10 juta.

Angka ini adalah sebuah disrupsi besar di pasar teknologi medis (med-tech). Sebagai perbandingan, sistem antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI) dan teknologi pelacakan mata (eye-tracking) canggih yang saat ini beredar di pasaran global dibanderol dengan harga fantastis, berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 210 juta.

Dengan harga yang hampir 20 kali lipat lebih murah, LUMA membuka potensi aksesibilitas yang masif. Teknologi canggih yang dulunya hanya privilese segelintir orang kaya, kini berpotensi dinikmati oleh pasien dari kalangan menengah ke bawah, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Urgensi Bagi Kesehatan Indonesia

Kehadiran LUMA sangat relevan dengan kondisi kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, prevalensi stroke di Indonesia meningkat dari 7 per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 10,9 per 1.000 penduduk pada 2018. Stroke juga tercatat sebagai penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di tanah air.

Banyak dari penyintas stroke mengalami afasia atau kesulitan berkomunikasi. Tanpa alat bantu yang memadai, kualitas hidup pasien dan keluarga menurun drastis, seringkali berujung pada depresi karena isolasi sosial.

Inovasi yang ditawarkan oleh Audric, Zhenxuan, dan Yik Yan menawarkan solusi nyata untuk menjembatani kesenjangan komunikasi ini, sekaligus mengurangi beban psikologis pasien.

Kemenangan di Singapura bukanlah garis finis bagi SWA RoboKnights. Pasca kompetisi, mereka kini melangkah ke fase yang lebih serius: validasi klinis. Tim berencana melakukan kolaborasi strategis dengan rumah sakit dan pusat kesehatan untuk menguji perangkat LUMA pada pasien nyata.

Pengujian ini krusial untuk memastikan akurasi pembacaan gelombang otak dan kenyamanan penggunaan perangkat dalam jangka waktu lama. Validasi medis ini juga menjadi syarat mutlak sebelum alat ini bisa diproduksi massal dan didistribusikan ke masyarakat luas.

General Manager Sinarmas World Academy, Deddy Djaja Ria, dalam rilis resminya (7/1/2026), menekankan bahwa prestasi ini adalah buah dari sistem pendidikan yang membebaskan.

“Pencapaian ini mencerminkan komitmen sekolah dalam memfasilitasi inovasi yang menggabungkan keunggulan teknis dengan tanggung jawab sosial. Ketika anak muda diberikan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan dan kebebasan untuk berkreasi, mereka dapat mengubah kehidupan secara nyata,” ujar Deddy.

Pernyataan Deddy menggarisbawahi pentingnya pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada pemecahan masalah dunia nyata (problem-based learning).

Simbol Harapan Generasi Emas

Kemenangan Audric, Zhenxuan, dan Yik Yan di WRO 2025 mengirimkan pesan kuat ke dunia: pelajar Indonesia bukan hanya konsumen teknologi, tetapi juga inovator yang mampu bersaing di level tertinggi. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton dalam revolusi digital dan kecerdasan buatan, melainkan menjadi aktor utama yang mengarahkan teknologi untuk tujuan kemanusiaan.

LUMA adalah bukti bahwa kecanggihan teknologi AI tidak harus selalu menakutkan atau menggantikan manusia. Di tangan generasi muda yang visioner, AI justru menjadi alat untuk “memanusiakan” kembali mereka yang kehilangan kemampuan dasarnya.

Kini, tugas pemerintah, sektor swasta, dan institusi kesehatan adalah menyambut bola yang telah dilemparkan oleh para siswa ini. Dukungan pendanaan riset, kemudahan regulasi alat kesehatan, dan pendampingan inkubasi bisnis sangat diperlukan agar prototipe seharga Rp 10 juta ini tidak hanya berakhir di etalase sekolah, tetapi benar-benar sampai ke kamar-kamar pasien yang merindukan suara mereka kembali.

Indonesia patut berbangga, namun lebih dari itu, Indonesia harus mendukung karya ini hingga tuntas.