Nasib Xabi Alonso di ujung tanduk. Final Piala Super Spanyol lawan Barcelona jadi penentu. Mbappe kembali, Real Madrid siap tempur di Riyadh demi trofi.
INDONESIAONLINE – Stadion Al Awwal Park di Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu (11/1/2026) malam atau Senin dini hari WIB, tidak hanya akan menjadi panggung perebutan trofi bergengsi. Di tengah gemerlap lampu stadion dan riuh rendah ribuan suporter, tersaji sebuah drama personal yang mempertaruhkan karier salah satu pelatih muda paling berbakat di Eropa: Xabi Alonso.
Bagi Real Madrid dan Barcelona, El Clasico di final Piala Super Spanyol (Supercopa de Espana) adalah soal gengsi dan dominasi. Namun bagi Alonso, 90 menit (atau lebih) di Riyadh adalah sidang penghakiman. Sebuah garis tipis yang memisahkan antara pahlawan yang membawa pulang trofi pertama, atau pesakitan yang terdepak dari kursi panas Santiago Bernabeu.
Di Antara Trofi dan Surat Pemecatan
Narasi mengenai masa depan Alonso di Real Madrid bukanlah isapan jempol belaka. Musim 2025-2026 berjalan bak roller coaster bagi pelatih asal Spanyol tersebut. Media-media terkemuka di Madrid sempat membocorkan bahwa Presiden Florentino Perez sudah menyiapkan pena untuk menandatangani surat pemecatan Alonso pada 10 Desember lalu. Kala itu, Madrid baru saja menelan kekalahan pahit dari Manchester City di pentas Liga Champions.
Namun, sepak bola adalah tentang momentum. Alonso, dengan ketenangan khas seorang maestro lini tengah yang pernah ia tunjukkan saat bermain, berhasil membalikkan keadaan. Lima kemenangan beruntun di berbagai ajang, termasuk menyingkirkan rival sekota Atletico Madrid di semifinal Piala Super Spanyol Kamis lalu, menjadi “napas buatan” yang memperpanjang nyawanya di kursi pelatih.
Kendati demikian, posisi Alonso jauh dari kata aman. Di Madrid, lima kemenangan bisa terlupakan hanya karena satu kekalahan dari Barcelona.
“Dua hal sudah jelas, karena ini adalah turnamen yang sedang kami perebutkan sekarang, maka ini adalah yang paling penting,” ujar Alonso dalam konferensi pers pra-pertandingan, mencoba menepis tekanan meski mengakui urgensi laga ini.
Pernyataan Alonso yang menempatkan Piala Super Spanyol di urutan keempat prioritas musim ini terdengar paradoks. Secara hierarki trofi, mungkin benar Supercopa ada di bawah Liga Champions atau LaLiga. Namun secara politis, kekalahan dari Barcelona asuhan Hansi Flick bisa menjadi lonceng kematian bagi rezim kepelatihannya.
Hansi Flick dan Trauma Jeddah
Lawan yang dihadapi Alonso bukanlah tim sembarangan. Barcelona di bawah kendali Hansi Flick telah bertransformasi menjadi mesin penekan yang efektif. Memori kelam kekalahan 2-5 di Jeddah pada final musim lalu masih menghantui ruang ganti Los Blancos. Kala itu, kekalahan telak tersebut memicu krisis kecil di tubuh Madrid.
Thibaut Courtois, penjaga gawang andalan Madrid, menyadari betul bahaya laten dari dendam sang rival. “Kami harus menang, kami kalah di dua final melawan mereka tahun lalu. Mereka juga harus menang, setelah kalah di Clasico LaLiga, mereka pasti menginginkan balas dendam,” ucap Courtois.
Statistik pertemuan kedua pelatih memang sedikit memihak Alonso musim ini, di mana ia berhasil membawa Madrid menang 2-1 di pentas Liga Spanyol. Namun, final adalah permainan mental yang berbeda. Hansi Flick dikenal sebagai pelatih spesialis turnamen yang tahu cara mematikan strategi lawan dalam satu laga penentuan.
Dilema Taktis: Pedang Bermata Dua Bernama Mbappe
Kabar baik bagi Alonso jelang laga hidup-mati ini adalah kembalinya sang megabintang, Kylian Mbappe. Penyerang asal Prancis tersebut dinyatakan pulih dari cedera lutut yang memaksanya absen saat Madrid menggilas Real Betis 5-1 dan menaklukkan Atletico 2-1.
Statistik Mbappe musim ini sungguh mengerikan: 29 gol dari 24 penampilan di semua kompetisi. Lebih spesifik lagi, Mbappe memiliki rekor personal yang fantastis melawan Barcelona, dengan mencetak enam gol dalam lima pertemuan terakhirnya sejak berseragam putih. Kehadirannya tentu menyuntikkan kepercayaan diri masif di lini depan.
Namun, kembalinya Mbappe membawa dilema taktis tersendiri bagi Alonso. Analisis performa menunjukkan bahwa keseimbangan tim Madrid justru kerap terganggu ketika “Trio Maut”—Mbappe, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham—bermain bersamaan. Ruang gerak yang tumpang tindih dan kurangnya partisipasi defensif dari lini depan kerap mengekspos lini tengah Madrid.
Ironisnya, saat Mbappe absen, Rodrygo Goes justru bersinar terang. Pemain Brasil yang sempat mandul selama 32 pertandingan itu seolah terlahir kembali, mencatatkan tiga gol dan tiga assist dalam lima laga terakhir. Alonso kini dihadapkan pada pilihan sulit: Memainkan Mbappe yang baru sembuh demi kualitas individu, atau mempertahankan Rodrygo demi fluiditas permainan tim yang sedang bagus-bagusnya?
“Mbappe memiliki peluang yang sama dengan pemain lain untuk tampil sebagai starter,” kata Alonso diplomatis, menyimpan rapat strategi yang akan ia terapkan.
Vinicius Junior dan Beban Ballon d’Or
Sorotan lain tertuju pada Vinicius Junior. Sejak kegagalannya meraih Ballon d’Or 2024 (finis di posisi kedua), performa winger lincah ini terjun bebas. Data mencatat Vini telah puasa gol dalam 16 penampilan terakhirnya bersama Real Madrid. Sebuah anomali bagi pemain yang digadang-gadang sebagai yang terbaik di dunia.
Laga melawan Barcelona bisa menjadi pedang bermata dua bagi Vini. Tekanan mental di laga El Clasico bisa membuatnya semakin terpuruk, atau justru menjadi panggung pembuktian untuk membungkam kritik. Diego Simeone, pelatih Atletico, bahkan sempat menyindir performa Vini pasca-derby, menambah bumbu panas jelang final.
Jika Alonso gagal membangkitkan mentalitas Vini di laga ini, sisi kiri serangan Madrid yang biasanya mematikan bisa menjadi titik lemah yang mudah dieksploitasi oleh bek kanan Barcelona, Jules Kounde.
Ada data menarik yang tidak bisa diabaikan oleh kedua kubu. Dalam tiga musim terakhir, tim yang berhasil mengangkat trofi piala super spanyol selalu mengakhiri musim sebagai juara LaLiga. Musim lalu, Barcelona di bawah Xavi (sebelum digantikan Flick) menggunakan momentum juara Supercopa sebagai landasan untuk merebut gelar liga.
Bagi Alonso, kemenangan di Riyadh bukan sekadar trofi pelipur lara. Ini adalah validasi. Ini adalah tiket untuk menenangkan manajemen, membungkam kritik, dan mengembalikan kepercayaan diri skuad untuk mengarungi sisa musim 2026 yang berat.
Sebaliknya, jika Madrid pulang dengan tangan hampa dan permainan yang mengecewakan, mungkin penerbangan kembali ke Spanyol akan menjadi perjalanan terakhir Alonso sebagai pelatih kepala Los Merengues. Di Real Madrid, kesabaran adalah barang mewah, dan di Riyadh, waktu Xabi Alonso mungkin akan habis atau justru baru saja dimulai.













