Beranda

Firaun yang Dihapus dari Sejarah, tapi Menguasai Ingatan Dunia

Amenhotep IV penguasa Mesir Kuno yang mengganti namanya menjadi Akhenaten (ist)

Tiga firaun Mesir kuno pernah dihapus dari monumen dan catatan sejarah. Ironisnya, nama mereka kini justru dikenal luas di dunia.

INDONESIAONLINE – Batu-batu di Mesir kuno pernah menjadi alat kekuasaan. Nama seorang penguasa dapat diabadikan pada dinding kuil, relief, patung, dan makam. Tetapi batu yang sama juga dapat digunakan untuk melakukan hal sebaliknya: menghapus seseorang dari ingatan.

Nama dipahat hingga lenyap. Wajah patung dihancurkan. Relief dirusak. Monumen dibongkar atau ditutupi. Dalam kebudayaan Mesir kuno, tindakan tersebut bukan sekadar penghancuran benda.

Nama memiliki kedudukan penting dalam keberadaan seseorang. Karena itu, menghapus nama seorang penguasa dari monumen dapat dipahami sebagai upaya menghapus keberadaannya dari ingatan kolektif, bahkan dari kehidupan setelah kematian.

Namun sejarah memiliki ironi sendiri.

Beberapa tokoh yang paling keras berusaha dihapus justru kini menjadi nama yang paling mudah dikenali ketika orang membicarakan Mesir kuno. Akhenaten, Hatshepsut, Nefertiti, hingga Tutankhamun kembali muncul dari serpihan prasasti dan reruntuhan yang pernah menjadi sasaran penghapusan.

Mereka tidak benar-benar hilang.

Akhenaten dan Revolusi yang Hendak Dilenyapkan

Pada abad ke-14 SM, Amenhotep IV naik takhta sebagai penguasa Mesir. Beberapa tahun kemudian, pemerintahannya mengalami perubahan keagamaan yang sangat besar.

Ia mengangkat Aten, cakram matahari, menjadi pusat pemujaan kerajaan dan kemudian mengganti namanya menjadi Akhenaten. Ibu kota baru bernama Akhetaten didirikan di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Amarna.

Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh agama. Kekuasaan keagamaan tradisional, terutama yang berkaitan dengan kultus Amun, ikut terdampak.

Para ahli masih memperdebatkan apakah kebijakan Akhenaten dapat disebut sebagai monoteisme dalam pengertian modern. Yang lebih pasti, ia menempatkan Aten pada posisi yang sangat dominan dalam agama kerajaan dan mengurangi peran dewa-dewa tradisional dalam representasi resmi.

Bahkan nama Amun di sejumlah monumen diperintahkan untuk dihapus. Ironinya, Akhenaten sendiri kemudian menjadi sasaran penghapusan serupa.

Setelah kematiannya, agama Aten ditinggalkan dan pusat kekuasaan kembali ke tradisi lama. Nama Akhenaten serta banyak peninggalan pemerintahannya kemudian dirusak atau dihilangkan dari monumen kerajaan.

Firaun Horemheb, yang berkuasa setelah periode penuh gejolak tersebut, memainkan peran penting dalam restorasi tatanan lama. Prasasti dan daftar raja dari masa sesudahnya juga tidak memberikan tempat yang jelas bagi Akhenaten dan sejumlah penguasa periode Amarna.

Selama berabad-abad, keberadaan Akhenaten nyaris terkubur. Kemudian arkeologi datang membalikkan keadaan.

Reruntuhan Akhetaten ditemukan kembali di kawasan Amarna pada era modern. Fragmen relief, prasasti, patung, dan benda-benda dari kota tersebut memungkinkan para peneliti menyusun kembali kisah penguasa yang pernah berusaha dihilangkan dari memori kerajaan.

Hari ini, Akhenaten justru menjadi salah satu firaun yang paling sering dibicarakan karena kebijakan keagamaannya yang tidak lazim. Dan dari periode yang sama muncul dua nama yang bahkan lebih terkenal. Tutankhamun dan Nefertiti.

Nefertiti (jtn)

Tutankhamun naik takhta ketika masih sangat muda. Setelah era Akhenaten, pemerintahannya menjadi bagian dari proses pemulihan kembali agama dan pusat-pusat keagamaan tradisional Mesir.

Ironisnya, penguasa muda yang tidak memiliki pemerintahan panjang itu kemudian menjadi salah satu firaun paling terkenal di dunia. Alasannya bukan semata karena prestasi politiknya.

Pada 1922, arkeolog Inggris Howard Carter menemukan makam Tutankhamun di Lembah Para Raja. Berbeda dari banyak makam kerajaan lain yang telah dijarah selama zaman kuno, makam tersebut masih menyimpan sebagian besar perlengkapan pemakaman kerajaan.

Penemuan itu menjadi salah satu peristiwa arkeologi paling terkenal abad ke-20. Apa yang dahulu mungkin dianggap sebagai upaya menghapus atau mengecilkan posisi Tutankhamun dalam memori kerajaan justru menghasilkan paradoks.

Karena makamnya relatif tersembunyi dan tidak menjadi salah satu makam yang paling dikenal pada zaman modern awal, sebagian besar isinya bertahan selama ribuan tahun. Nama yang pernah tersisih itu kemudian memenuhi buku sejarah, museum, dokumenter, dan pameran di berbagai negara.

Nefertiti juga mengalami nasib serupa dalam ingatan modern. Ratu yang hidup pada masa Akhenaten ini menjadi ikon Mesir kuno setelah patung kepalanya ditemukan di Amarna pada 1912 oleh tim arkeolog Jerman. Patung bust Nefertiti kini menjadi salah satu representasi paling terkenal dari seni Mesir kuno.

Namun posisi Nefertiti dalam garis suksesi akhir Dinasti ke-18 masih menjadi bahan penelitian. Hubungannya dengan sejumlah tokoh sesudah Akhenaten, termasuk kemungkinan keterlibatannya dalam pemerintahan pada masa transisi, belum sepenuhnya terpecahkan.

Di sinilah sejarah berbeda dari cerita sederhana tentang siapa ayah, anak, suami, atau pewaris berikutnya. Semakin banyak bukti ditemukan, semakin terlihat pula bahwa periode tersebut merupakan salah satu masa paling rumit dalam sejarah Mesir kuno.

Hatshepsut (ist)

Hatshepsut: Perempuan yang Menjadi Firaun

Beberapa abad sebelum masa Akhenaten, seorang perempuan berhasil menempati posisi tertinggi dalam kerajaan Mesir. Namanya Hatshepsut.

Setelah kematian Thutmose II, putranya, Thutmose III, masih sangat muda. Hatshepsut yang merupakan istri kerajaan kemudian memainkan peran penting dalam pemerintahan. Pada akhirnya ia menggunakan gelar dan ikonografi seorang raja. Ia tidak sekadar menjadi wali. Hatshepsut tampil sebagai firaun.

Dalam relief dan patung, ia sering digambarkan menggunakan atribut kerajaan yang secara tradisional dikaitkan dengan penguasa laki-laki, termasuk nemes dan janggut seremonial.

Pemerintahannya justru dikenal sebagai salah satu periode yang relatif makmur. Ekspedisi perdagangan ke Punt, proyek pembangunan besar, serta pembangunan kompleks pemakaman di Deir el-Bahari menjadi bagian penting dari warisannya. Namun setelah kematiannya, sejumlah representasi dirinya mengalami kerusakan.

Nama dan gambarnya di beberapa monumen dipahat atau ditutupi. Patung-patungnya dihancurkan dan disingkirkan. Selama bertahun-tahun, tindakan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa Thutmose III menyimpan kebencian terhadap ibu tirinya. Tetapi pandangan itu kini tidak sesederhana cerita balas dendam pribadi.

Sebagian peneliti melihat penghapusan tersebut sebagai bagian dari politik suksesi dan legitimasi kerajaan. Dengan menempatkan Thutmose III sebagai penerus langsung Thutmose II, narasi dinasti menjadi lebih sederhana dan posisi Hatshepsut sebagai penguasa di tengah garis suksesi dapat diperkecil.

Namun sekali lagi, batu gagal menghapus sejarah.

Pada abad ke-19, para ahli mulai membaca kembali hieroglif dan mengidentifikasi sosok Hatshepsut. Reruntuhan, patung yang rusak, dan prasasti yang tersisa justru menjadi petunjuk untuk merekonstruksi kehidupannya.

Hari ini, Hatshepsut bukan lagi nama yang terlupakan. Ia justru dikenang sebagai salah satu perempuan paling berkuasa dalam sejarah Mesir kuno. Kisah ketiga tokoh tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perseteruan antar-firaun.

Kekuasaan dapat mengontrol apa yang ditulis. Penguasa dapat menghancurkan patung dan memerintahkan nama tertentu dihilangkan. Tetapi penghapusan tidak selalu berarti pelupaan. Kadang-kadang, justru bekas pahatan yang tersisa menjadi petunjuk.

Nama yang sengaja dihilangkan meninggalkan ruang kosong. Wajah yang dihancurkan meninggalkan bentuk yang masih dapat dikenali. Monumen yang dirusak menyimpan jejak tentang siapa yang pernah berdiri di sana. Arkeologi kemudian membaca kehancuran itu seperti seseorang membaca halaman buku yang telah disobek.

Itulah paradoks terbesar dari damnatio memoriae—meski istilah Latin tersebut berasal dari tradisi Romawi dan tidak tepat digunakan sebagai istilah resmi untuk praktik Mesir kuno. Penguasa dapat berusaha mengendalikan ingatan masyarakatnya. Tetapi mereka tidak pernah sepenuhnya mampu mengendalikan masa depan.

Akhenaten, Nefertiti, Tutankhamun, dan Hatshepsut membuktikannya. Mereka pernah disingkirkan dari narasi resmi. Sebagian nama mereka dipahat dari batu. Sebagian patung mereka dihancurkan. Namun ribuan tahun kemudian, justru merekalah yang kembali menarik perhatian dunia. Sejarah akhirnya menemukan jalan sendiri untuk mengingat mereka.

Exit mobile version