Hutan Kota Terbukti Efektif Redam Panas Ekstrem, Suhu Turun Hampir 2 Derajat

Hutan kota mampu meredam suhu panas. (istock)

INDONESIAONLINE – Panas ekstrem yang semakin sering melanda kawasan perkotaan ternyata dapat diredam oleh keberadaan hutan kota. Sebuah penelitian terbaru di Korea Selatan mengungkap bahwa kawasan berhutan di tengah kota mampu menurunkan suhu udara hingga hampir 2 derajat Celsius sehingga berfungsi layaknya pendingin alami.

Riset tersebut dilakukan oleh National Institute of Forest Science (NIFoS) dengan memantau suhu udara selama satu tahun di 17 lokasi hutan kota di Seoul. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan suhu di kawasan perkotaan yang didominasi permukaan beton dan aspal.

Dari penelitian itu diketahui bahwa suhu udara pada malam hari di kawasan hutan kota berada sekitar 1,3 hingga 1,6 derajat Celsius lebih rendah dibanding wilayah pusat kota yang padat bangunan. Sementara pada siang hari, efek pendinginan di sejumlah lokasi berhutan mencapai sekitar 1,8 hingga 1,9 derajat Celsius.

Peneliti Urban Forest Research Center NIFoS, Choi Su-min, mengatakan hutan kota merupakan infrastruktur hijau yang berperan penting dalam melindungi masyarakat dari dampak gelombang panas ekstrem. Menurut dia, hutan campuran dan hutan berdaun lebar dengan vegetasi bertingkat memiliki kemampuan paling baik dalam menciptakan efek pendinginan.

Penelitian menjelaskan bahwa pepohonan mampu menekan suhu melalui dua mekanisme utama. Tajuk pohon memberikan keteduhan dengan menghalangi paparan sinar matahari secara langsung. Sedangkan  penguapan air dari daun atau evapotranspirasi membantu menyerap panas dari udara di sekitarnya.

Sebaliknya, permukaan beton dan aspal menyerap panas sepanjang siang lalu melepaskannya kembali ketika malam tiba. Kondisi tersebut membuat suhu di pusat kota tetap tinggi meski matahari telah terbenam, terutama saat terjadi malam tropis yang membuat tubuh lebih sulit melepaskan panas.

“Ekosistem hutan menyimpan dan memancarkan panas jauh lebih sedikit dibandingkan permukaan aspal maupun beton sehingga mampu menjaga kestabilan iklim mikro di kawasan perkotaan,” ujar Choi Su-min.

Studi itu juga mengungkap bahwa tidak semua ruang hijau memiliki kemampuan pendinginan yang sama. Hutan campuran serta kawasan dengan pepohonan berdaun lebar dan vegetasi bertingkat terbukti lebih efektif dibanding area yang hanya ditumbuhi rumput atau pohon yang jarang.

Atas dasar temuan tersebut, para peneliti mendorong pemerintah agar tidak hanya memperluas ruang terbuka hijau, tetapi juga mempertimbangkan jenis dan struktur vegetasi saat merancang taman kota maupun kawasan hijau baru. Menurut Choi Su-min, penerapan struktur vegetasi seperti hutan campuran perlu menjadi bagian penting dalam perencanaan ruang hijau perkotaan di masa depan.

Temuan ini semakin memperkuat bukti bahwa pepohonan dan hutan kota merupakan solusi berbasis alam yang efektif untuk membantu kawasan perkotaan beradaptasi terhadap gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. (rds/hel)