Serba Serbi

Ilmuwan: “Atlantis yang Hilang” di Australia Ungkap Rute Migrasi Manusia Purba

13
×

Ilmuwan: “Atlantis yang Hilang” di Australia Ungkap Rute Migrasi Manusia Purba

Sebarkan artikel ini

INDONESIAONLINE – Sebuah daratan luas yang terbenam selama lebih dari 70.000 tahun lalu di lepas pantai Australia, kini membuka lembaran baru dalam sejarah migrasi manusia purba. Dikenal sebagai “Atlantis Australia”, benua tenggelam ini diyakini menjadi jembatan bagi manusia purba untuk berpindah dari Asia Tenggara ke Australia.

Pada tahun 2023, para ilmuwan menemukan sebuah daratan luas yang tenggelam di lepas pantai Australia. Benua ini, yang diperkirakan seluas Inggris, terendam lebih dari 100 meter di bawah permukaan laut. Bukti menunjukkan bahwa benua ini pernah dihuni manusia sebelum terbenam akibat perubahan iklim.

Penelitian terbaru, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada April 2024, menggunakan simulasi komputer untuk memodelkan rute migrasi yang mungkin dilalui manusia purba di “Atlantis Australia”. Simulasi ini mempertimbangkan perubahan lanskap, ketersediaan makanan, dan pola pergerakan manusia purba.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa manusia purba kemungkinan besar mengikuti garis pantai dan sungai-sungai besar saat mereka melintasi “Atlantis Australia”. Mereka mungkin bergerak dengan kecepatan sekitar 1,15 kilometer per tahun, yang tergolong cepat untuk zaman prasejarah.

Baca  7 Negara Kaya Raya yang Kini Jatuh Miskin bahkan Dilupakan

“Permodelan evolusi lanskap memungkinkan deskripsi yang lebih realistis tentang medan dan lingkungan yang dihuni oleh para pemburu-pengumpul pertama saat mereka melintasi Sahul,” kata Prof. Tristan Salles, penulis utama penelitian dari University of Sydney.

Para peneliti menjalankan ribuan simulasi yang mengungkap rute yang paling mungkin diambil manusia. Mereka menemukan bahwa rute-rute tersebut akan membawa para pendatang baru menyusuri garis pantai dan langsung melewati pedalaman benua, mengikuti sungai-sungai besar yang melintasi lanskap pada saat itu.

“Studi kami adalah yang pertama menunjukkan dampak perubahan bentang alam pada migrasi awal di Sahul (atlantis yang hilang), memberikan perspektif baru mengenai jejak arkeologinya,” tulis para peneliti.

“Jika kita juga menggunakan pendekatan seperti ini di wilayah lain, kita bisa meningkatkan pemahaman kita tentang perjalanan luar biasa umat manusia keluar dari Afrika,” tambah mereka.

Penemuan ini memiliki beberapa implikasi penting, seperti memberikan gambaran baru tentang migrasi manusia purba, membantu para arkeolog dalam menemukan situs-situs arkeologi baru yang terkait dengan migrasi manusia purba di “Atlantis Australia”, serta meningkatkan pemahaman tentang sejarah manusia.

Baca  Cara Membuat Baklava dan Lokum Turki di Rumah