Karst Sangkulirang-Mangkalihat Selangkah Lagi Ditetapkan Jadi Geopark Nasional, Apa Keunikannya?

Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur bakal ditetapkan sebagai geopark nasional. (ist)

INDONESIAONLINE  – Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk meraih pengakuan nasional terhadap kekayaan alamnya kini tinggal selangkah lagi. Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat diproyeksikan segera memperoleh status sebagai geopark nasional yang ditetapkan Kementerian ESDM RI.

Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri Wahyuni menjelaskan bahwa penetapan ini menjadi perhatian penting bagi Pemprov Kaltim karena akan berdampak langsung pada tata ruang wilayah, khususnya di kawasan karst yang menghubungkan Kabupaten Berau dan Kutai Timur.

“Insya Allah tidak ada halangan bulan ini, Oktober ini, Tim Verifikasi Geopark Nasional merapatkan tentang penetapan geopark nasional. Harapannya, Karst Sangkulirang-Mangkalihat kita tetapkan sebagai geopark nasional,” ujar Sri Wahyuni di Samarinda, Senin (11/10/2026).

Menurut dia, status tersebut akan menjadi landasan kuat bagi Pemprov Kaltim untuk melindungi kawasan karst sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kawasan Kapur Raksasa yang Menyimpan Jejak Manusia Purba

Karst Sangkulirang-Mangkalihat merupakan salah satu kawasan bentang alam kapur terbesar dan bernilai penting di Kalimantan Timur. Membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau, kawasan ini memiliki ekosistem seluas sekitar 1,86 juta hektare dengan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta peninggalan arkeologi yang berharga.

Dari total luas ekosistem tersebut, sekitar 362.706 hektare merupakan kawasan lanskap karst yang dilindungi. Bentang alam ini menjadi bagian penting dari kekayaan alam Kalimantan Timur sekaligus menyimpan bukti kehidupan manusia pada masa lampau.

Salah satu keistimewaan Karst Sangkulirang-Mangkalihat terletak pada keberadaan ratusan gua prasejarah. Sejumlah gua menyimpan lukisan cadas (rock art), termasuk gambar dan cap telapak tangan yang menjadi bukti aktivitas manusia pada masa lampau.

Kawasan ini juga menyimpan temuan arkeologis penting di Liang Tebo. Di lokasi tersebut ditemukan kerangka manusia purba yang berkaitan dengan bukti praktik amputasi pada masa ribuan tahun lalu.

Temuan tersebut menambah nilai ilmiah kawasan ini dalam penelitian mengenai kehidupan dan kemampuan manusia pada zaman prasejarah.

Keberadaan gua-gua dan peninggalan tersebut menjadikan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan yang memiliki arti penting bagi penelitian arkeologi sekaligus pelestarian warisan budaya.

Selain kekayaan sejarahnya, kawasan karst ini menawarkan bentang alam yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata. Dua lokasi yang dikenal di kawasan tersebut adalah Puncak Ketepu dan Danau Nyadeng yang berada di Kampung Merabu.

Perpaduan bentang alam karst, gua-gua, dan kawasan perairan menjadikan wilayah ini memiliki daya tarik wisata berbasis alam dan geologi. Pengembangan potensi wisata tersebut juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem serta peninggalan prasejarah yang ada di dalamnya. (ra/hel)