BPBD Kabupaten Malang menyalurkan 120 ribu liter air bersih ke wilayah terdampak kekeringan di Sumbermanjing Wetan dan Gedangan.
INDONESIAONLINE – Musim kering mulai menguji ketahanan warga di Malang Selatan. Sejumlah desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Gedangan kini harus mengandalkan pasokan air bersih dari pemerintah setelah sumber air warga mengalami tekanan akibat kekeringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang bersama sejumlah unsur terkait terus mengirimkan air bersih ke kawasan terdampak. Hingga Sabtu (15/8/2026), total air yang telah didistribusikan sejak 8 Agustus mencapai 120 ribu liter.
Angka tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih di kawasan selatan Kabupaten Malang bukan lagi persoalan sesaat. Distribusi dilakukan secara bertahap mengikuti kondisi lapangan dan kebutuhan masyarakat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan penyaluran air telah berlangsung sejak 8 Agustus dan terus dilakukan hingga Sabtu.
“Kemarin (Jumat, 14 Agustus 2026) juga telah dilakukan distribusi air bersih dampak kekeringan pada rute pengiriman dengan jumlah total 20 ribu liter,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu, 15 Agustus 2026 malam.
Desa Sumberagung di Kecamatan Sumbermanjing Wetan menjadi salah satu wilayah dengan penerima manfaat cukup besar. Pada Jumat, BPBD mengirimkan 20 ribu liter air untuk memenuhi kebutuhan 801 kepala keluarga atau 3.119 jiwa.
Sementara itu, distribusi juga diarahkan ke Puskesmas Sitiarjo. Fasilitas kesehatan tersebut menerima tambahan 5.000 liter pada Jumat. Secara kumulatif, pasokan air ke lokasi itu telah mencapai 10 ribu liter dalam periode 9-11 Agustus.
Di Kecamatan Gedangan, Desa Tumpakrejo menjadi wilayah lain yang membutuhkan intervensi serupa. Sebanyak 15 ribu liter air dikirimkan pada Jumat untuk memenuhi kebutuhan 560 kepala keluarga dengan total 1.791 jiwa.
“Pencapaian distribusi air bersih di Tumpakrejo telah mencapai sebanyak 30 ribu liter sejak tanggal 12 sampai dengan 13 (Agustus 2026),” ujarnya.
4.910 Jiwa Bergantung pada Distribusi Air
Jika seluruh pengiriman dihitung hingga 14 Agustus, BPBD mencatat volume distribusi telah mencapai 105 ribu liter. Air tersebut menyasar masyarakat di dua desa pada dua kecamatan dengan total sekitar 1.361 kepala keluarga atau 4.910 jiwa.
Sadono menyebut penyaluran tidak berhenti pada 14 Agustus. Pada Sabtu (15/8/2026), tambahan 15 ribu liter kembali dikirimkan ke wilayah terdampak.
“Sehingga total pencapaian distribusi air bersih sejak tanggal delapan hingga hari ini mencapai 120 ribu liter,” pungkasnya.
Volume tersebut setara dengan sekitar 120 meter kubik air. Jika dihitung berdasarkan jumlah penerima manfaat yang disebut BPBD, rata-rata volume kumulatif yang telah didistribusikan mencapai sekitar 24 liter untuk setiap jiwa. Angka itu merupakan perbandingan sederhana antara total pasokan dan jumlah penerima, bukan jatah konsumsi harian.
Kebutuhan air masyarakat terdampak kekeringan memang tidak hanya berkaitan dengan minum. Air diperlukan untuk memasak, membersihkan peralatan makan, mencuci, serta kebutuhan dasar lain. Karena itu, distribusi harus dilakukan secara berulang apabila sumber air lokal belum kembali mencukupi.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Kabupaten Malang memiliki wilayah geografis yang luas dengan sejumlah kawasan selatan yang secara rutin menghadapi persoalan ketersediaan air ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang menunjukkan karakter geografis wilayah ini terdiri atas kawasan pesisir, perbukitan, hingga dataran tinggi. Kondisi topografi tersebut ikut memengaruhi akses masyarakat terhadap sumber air, terutama desa-desa yang berada jauh dari jaringan pelayanan air perpipaan.
Secara nasional, persoalan kekeringan juga menjadi bagian dari risiko bencana hidrometeorologi yang harus diantisipasi pemerintah daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam berbagai laporan kebencanaannya menempatkan kekeringan sebagai salah satu ancaman yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia ketika curah hujan menurun.
Persoalan air bersih karena itu tidak cukup ditangani dengan pola distribusi darurat. Ketika kekeringan berlangsung lebih lama, pemerintah perlu memastikan sumber air alternatif, memperkuat infrastruktur penampungan, serta menyiapkan pemetaan wilayah yang paling rentan.
Bagi warga Sumberagung dan Tumpakrejo, persoalan tersebut kini hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: memastikan air tersedia untuk kebutuhan sehari-hari.
Pengiriman 120 ribu liter air oleh BPBD memang menjadi penyangga sementara. Namun, distribusi itu sekaligus memperlihatkan besarnya ketergantungan masyarakat terhadap intervensi pemerintah ketika sumber air mulai mengering.
BPBD Kabupaten Malang masih melanjutkan pemantauan dan distribusi sesuai kebutuhan lapangan. Dengan musim kemarau yang belum sepenuhnya berakhir, potensi bertambahnya wilayah terdampak tetap perlu diantisipasi.
Kekeringan pada akhirnya bukan hanya persoalan hilangnya air dari sumur atau menurunnya debit sumber mata air. Bagi ribuan warga yang terdampak, kekeringan berarti bertambahnya jarak antara rumah dan air, serta munculnya kebutuhan baru untuk memastikan kehidupan sehari-hari tetap berjalan.
Di Malang Selatan, 120 ribu liter yang telah dikirim menjadi bukti bahwa kebutuhan itu sudah nyata. Dan selama sumber air belum pulih, mobil tangki akan tetap menjadi salah satu tumpuan warga untuk bertahan melewati musim kering (al/nv).
