Beranda

Kirab Ancak Agung Semarakkan Maulid Nabi di Ponpes Sukorejo

Kirab Ancak Agung di Ponpes Sukorejo Situbondo semarakkan Maulid Nabi dengan tradisi hasil bumi, gotong royong, dan kebersamaan warga. (jtn/io)

Kirab Ancak Agung di Ponpes Sukorejo Situbondo semarakkan Maulid Nabi dengan tradisi hasil bumi, gotong royong, dan kebersamaan warga.

INDONESIAONLINE – Arak-arakan hasil bumi bergerak menuju kawasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Selasa (25/8/2026). Di tengah suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, ancak yang dihias dengan beragam hasil bumi dan makanan menjadi penanda sebuah tradisi yang terus dipertahankan.

Kirab Ancak Agung bukan sekadar pawai. Di balik gunungan makanan dan hasil pertanian yang diarak, terdapat perjumpaan antara tradisi pesantren, masyarakat desa, alumni, dan para santri. Mereka berkumpul dalam satu ruang perayaan yang tidak hanya bernuansa keagamaan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya hubungan sosial di sekitar Pesantren Sukorejo.

Peserta kirab datang dari berbagai unsur. Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS), pemerintah desa se-Kecamatan Banyuputih, keluarga besar pesantren, para santri hingga masyarakat umum ikut mengambil bagian. Kehadiran banyak kelompok tersebut membuat peringatan Maulid Nabi terasa sebagai agenda bersama, bukan semata kegiatan internal pesantren.

Tradisi ancak juga memperlihatkan bagaimana hasil bumi ditempatkan dalam konteks rasa syukur. Berbagai makanan dan komoditas pertanian yang ditata menjadi hiasan kemudian dibawa dalam kirab. Setelah melalui proses persiapan bersama, ancak menjadi simbol partisipasi warga sekaligus bentuk penghormatan terhadap momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, yang juga tercatat sebagai Anggota Bidang Organisasi Eksternal Pusat IKSASS sejak 2022 hingga sekarang, mengatakan Kirab Ancak Agung merupakan bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

“Dengan perpaduan antara kegiatan keagamaan dan tradisi lokal, Kirab Ancak Agung menjadi salah satu bagian menarik dalam peringatan Maulid Nabi di lingkungan Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Selain kegiatan Kirab Ancak Agung juga dilaksanakan bazar,” ujar Ulfiyah.

Tradisi yang Mempertemukan Pesantren dan Warga

Bagi masyarakat sekitar, kemeriahan Maulid Nabi di Sukorejo memiliki konteks yang lebih panjang. Pesantren tersebut dirintis KHR Syamsul Arifin pada 1908 dan mulai menerima santri pada 1914. Dalam perkembangannya, lembaga ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga membangun hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Data terbaru yang dipublikasikan pengelola pesantren menunjukkan jangkauan Sukorejo kini tidak lagi terbatas pada Situbondo atau kawasan Tapal Kuda. Pesantren menyebut memiliki lebih dari 17.000 santri yang berasal dari berbagai wilayah Nusantara hingga Asia Tenggara. Angka tersebut memperlihatkan skala komunitas yang menjadikan setiap tradisi besar di lingkungan pesantren berpotensi menjadi ruang pertemuan masyarakat dari latar belakang yang beragam.

Jejak panjang tersebut ikut menjelaskan mengapa kegiatan seperti Kirab Ancak Agung mempunyai makna sosial yang kuat. Tradisi tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh berdampingan dengan perjalanan pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Rangkaian Maulid Nabi tahun ini juga dilengkapi bazar. Kehadiran bazar memperluas fungsi kegiatan, dari sekadar perayaan keagamaan menjadi ruang interaksi masyarakat. Warga dapat berkumpul, berbelanja, bertemu kerabat, serta menikmati suasana peringatan yang berlangsung di lingkungan pesantren.

Ulfiyah menilai keberadaan tradisi tersebut penting untuk menjaga kebersamaan antara keluarga besar pesantren dan masyarakat. Kirab juga menjadi salah satu cara mempertahankan tradisi yang telah berkembang di tengah kehidupan sosial warga.

“Melalui peringatan ini, para santri dan masyarakat diajak untuk kembali mengenang keteladanan Rasulullah SAW. Nilai-nilai akhlak, persaudaraan, kepedulian dan kebersamaan yang diajarkan Nabi diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ulfiyah.

Pesan tersebut menjadi relevan karena Maulid Nabi pada 2026 memang memiliki posisi khusus dalam kalender nasional. Kementerian Agama mencatat 25 Agustus 2026 sebagai 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, sementara pemerintah menetapkannya sebagai hari libur nasional.

Dengan status tersebut, aktivitas keagamaan dan tradisi masyarakat di berbagai daerah mendapat ruang lebih luas untuk berlangsung. Di Sukorejo, ruang itu diisi dengan perpaduan pengajian, kehadiran para habib, kiai, ulama dan ustaz, serta partisipasi ribuan masyarakat, santri, simpatisan dan tamu undangan.

Dari Hasil Bumi Jadi Pesan Kebersamaan

Ada pesan sederhana yang terlihat dari sebuah ancak: sesuatu yang berasal dari tanah tidak berhenti sebagai hasil produksi, tetapi dapat menjadi sarana mempertemukan manusia.

Dalam konteks masyarakat pedesaan, hasil bumi mempunyai kedekatan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika hasil tersebut dikumpulkan, dihias dan diarak bersama, nilai ekonominya seolah bergeser menjadi simbol sosial. Ada kerja kolektif di balik pembuatannya, ada orang-orang yang terlibat dalam persiapan, dan ada masyarakat yang hadir untuk menyaksikannya.

Karena itu, Kirab Ancak Agung dapat dibaca sebagai bentuk pelestarian tradisi sekaligus praktik gotong royong. Nilai tersebut sejalan dengan karakter pesantren yang sejak awal perkembangannya tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam pelayanan kepada masyarakat. Profil resmi Pesantren Sukorejo menyebut lembaga tersebut terus mengembangkan pendidikan, pemberdayaan umat, serta berbagai kegiatan sosial dan ekonomi.

Peringatan Maulid Nabi di Sukorejo akhirnya tidak berhenti pada kemeriahan arak-arakan. Ribuan orang yang berkumpul membawa pesan yang lebih panjang: bahwa tradisi keagamaan dapat menjadi ruang untuk merawat hubungan sosial.

Di tengah perubahan zaman, tradisi semacam ini menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan makna. Namun, selama masyarakat masih terlibat dan nilai yang dibawa tetap dipahami, Kirab Ancak Agung mempunyai alasan untuk terus hidup.

Dari pesantren, santri dan alumni; dari pemerintah desa hingga warga biasa, semuanya bertemu dalam satu perayaan. Ancak yang membawa hasil bumi menjadi simbol bahwa rasa syukur tidak harus berhenti pada ucapan. Ia dapat diwujudkan melalui kebersamaan, berbagi, gotong royong dan penghormatan terhadap warisan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Maulid Nabi di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo pun akhirnya menjadi lebih dari peringatan tahunan. Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali keteladanan Rasulullah SAW sekaligus merawat ikatan sosial yang telah lama tumbuh antara pesantren dan masyarakat Situbondo (wbs/dnv).

Exit mobile version