Kisah tragis K’tut Tantri, jurnalis AS yang disiksa telanjang di kamp Jepang, hingga bangkit menjadi pahlawan radio revolusi kemerdekaan Indonesia.
INDONESIAONLINE – Matahari bersinar garang di atas langit alun-alun Kediri pada pertengahan dekade 1940-an. Di tengah debu yang berterbangan, sebuah pemandangan absurd sekaligus menyayat hati tersaji.
Seorang perempuan kulit putih berambut pirang, dengan tubuh penuh memar kebiruan, dipaksa berjalan tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Di belakangnya, serdadu Kempeitai—polisi rahasia militer Kekaisaran Jepang yang bengis—menggiringnya dengan bayonet terhunus.
Tujuan arak-arakan itu jelas: menghancurkan harga diri dan menjatuhkan mental sang tawanan hingga ke titik nadir. Namun, ada sebuah anomali sosiologis yang terjadi hari itu. Alih-alih menjadi tontonan publik, jalanan Kediri mendadak sepi.
Penduduk lokal memilih masuk ke dalam rumah. Pintu-pintu kayu ditutup rapat, jendela-jendela diselot. Dalam diam, orang-orang Jawa menunjukkan simpati dan keadaban susila tingkat tinggi; mereka menolak ikut serta dalam parade dehumanisasi yang dirancang fasisme Jepang.
Perempuan yang berjalan tertatih dalam kehinaan itu adalah Muriel Stuart Walker. Namun, sejarah Indonesia kelak tidak akan mengenalnya dengan nama lahirnya, melainkan melalui dua julukan yang menggema di ruang-ruang revolusi: K’tut Tantri dan Surabaya Sue.
Dari Gemerlap Hollywood ke Rahim Bali
Untuk memahami bagaimana seorang perempuan berdarah Skotlandia-Viking dan berkewarganegaraan Amerika Serikat bisa berakhir di kamp penyiksaan Kediri, kita harus memutar waktu ke tahun 1932. Muriel yang kala itu telah menikah dengan Karl Jenning Pierson dan menetap di Amerika, mengalami kekosongan batin.
Di tengah hiruk-pikuk Hollywood Boulevard, matanya tertuju pada sebuah poster film dokumenter berjudul Bali, The Last Paradise (1932). Film garapan Andre Roosevelt itu menampilkan lanskap nirwana tropis yang begitu membius. Terpesona oleh visual tersebut, Muriel mengambil keputusan nekat: ia meninggalkan suaminya, mengepak barang, dan berlayar menuju Hindia Belanda.
Tiba di Bali, Muriel tidak sekadar menjadi turis. Ia melebur. Nasib membawanya ke Puri Bangli, di mana ia diangkat anak oleh sang penguasa, Anak Agung Ngurah. Sesuai tradisi penamaan Bali untuk anak keempat, ia diberi nama K’tut Tantri.
Di sana, ia hidup tenang sebagai pelukis dan pengelola hotel kecil di pantai Kuta, membangun surga kecilnya sendiri sebelum badai Pasifik datang menghancurkan segalanya.
Neraka di Bawah Sepatu Laras Dai Nippon
Maret 1942 menjadi titik nadir bagi Hindia Belanda. Kedatangan tentara ke-16 Angkatan Darat Jepang di bawah komando Letjen Hitoshi Imamura meruntuhkan hegemoni kolonial Belanda dalam hitungan hari. Berdasarkan catatan arsip Institut Nasional untuk Studi Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD) Belanda, Jepang segera mendirikan lebih dari 100 kamp interniran di seluruh Nusantara.
Sekitar 100.000 warga sipil Eropa dan Amerika ditangkap dan dijebloskan ke dalam kamp-kamp yang dirancang tidak ubahnya seperti kamp konsentrasi.
K’tut Tantri yang merasa Bali tak lagi aman, melarikan diri ke Surabaya. Namun, pelariannya sia-sia. Intelijen Kempeitai mengendus identitas Amerikanya. Ia dicokok dengan tuduhan berat: mata-mata Sekutu. Perjalanannya menuju neraka dimulai ketika ia dipindahkan ke kamp interniran di Kediri.
Pakar cagar budaya dan sejarawan, Nunus Sapardi, dalam pembedahan bukunya Documenta Historica Kamp Interniran, merinci betapa brutalnya fasilitas penahanan tersebut. “Dia orang Amerika kemudian ditahan di Kediri dan sempat ditelanjangi. Dalam keadaan telanjang bulat, ia disuruh jalan,” ungkap Nunus.
Memoar K’tut Tantri yang legendaris, Revolt in Paradise (kemudian diterjemahkan menjadi Revolusi di Nusa Damai), menelanjangi secara detail kengerian di balik kawat berduri. Sel tahanannya hanyalah ruangan sempit beralaskan tikar rombeng dan jerami busuk. Menu sarapan hanya sepiring nasi putih bercampur garam kasar.
Tantri menuliskan bagaimana kelaparan dan kekotoran digunakan sebagai senjata psikologis. Para tawanan tidak diizinkan mandi atau menyisir rambut. Kutu-kutu bersarang di kulit kepala. Namun, siksaan paling merendahkan martabat adalah urusan sanitasi.
Kakus di selnya hanyalah sebuah lubang galian di tanah dengan seember air kotor. Para penjaga Jepang kerap sengaja berdiri dan memelototi para tawanan perempuan saat mereka terpaksa buang hajat.
“Yang paling terkutuk ialah kalau pengawal memandang kami tak putus-putusnya pada waktu kami terpaksa menggunakan lobang di lantai yang jijik itu,” tulis Tantri dengan getir.
Runtuhnya Keangkuhan Kulit Putih
Di tengah penderitaan komunal itu, Tantri merekam sebuah ironi sejarah yang luar biasa: runtuhnya rasialisme kolonial Belanda di hadapan teror Jepang.
Dalam strata sosial Hindia Belanda yang kaku, orang Eropa murni (Totok) berada di kasta tertinggi, disusul orang Indo (campuran), Tionghoa/Timur Asing, dan kelompok pribumi (Inlander) di kasta terbawah. Orang-orang Belanda Totok kerap bersikap jemawa dan memandang rendah darah campuran maupun pribumi.
Namun, demi menyelamatkan diri dari kamp interniran, Jepang mengeluarkan dekrit bahwa warga Belanda keturunan Indonesia (Indo) tidak akan ditawan. Mendadak, orang-orang Belanda berdarah murni yang dahulu angkuh, berbondong-bondong membuang harga dirinya dan mendaftar sebagai orang Indo.
“Sebelum Jepang datang tak ada orang yang lebih angkuh daripada Belanda-Belanda ini. Jangan coba-coba menyebut mereka keturunan Indonesia sebab ini berarti menghina,” sentil Tantri.
Ia menyaksikan dengan jijik bagaimana istri para pejabat tinggi kolonial, yang dahulu mengucilkannya karena ia akrab dengan pribumi Bali, kini memelas mengaku memiliki darah Inlander demi terhindar dari siksaan.
Paradoks Penjajah dan Misteri Bertahan Hidup
Tantri tidak luput dari penyiksaan fisik. Berminggu-minggu ia diinterogasi untuk mengaku sebagai agen intelijen. Tubuhnya menjadi sansak hidup pukulan serdadu Kempeitai hingga lebam parah. Meski demikian, di balik kebrutalan sistemik itu, Tantri menemukan percikan kemanusiaan yang paradoksal dari beberapa penjaga Jepang.
Ia mengingat seorang sipir yang diam-diam menyelinapkan semangkuk bakmi hangat setelah ia disiksa habis-habisan. Ada pula penjaga yang mencoba menghiburnya dengan menyanyikan lagu berbahasa Inggris dengan logat Jepang yang kental. Narasi ini menunjukkan bahwa di tengah mesin perang yang fasis, beberapa individu tetaplah manusia biasa yang terjebak dalam tugas.
Bagaimana Tantri bisa selamat dan akhirnya dibebaskan dari kamp Kediri, lalu dipindahkan ke penjara Surabaya hingga Jepang menyerah pada 1945, tetap menjadi wilayah abu-abu.
Profesor Hukum Asia dari Universitas Melbourne, Timothy Lindsey, dalam bukunya The Romance of K’tut Tantri and Indonesia, melempar spekulasi tajam. Lindsey menduga Tantri terpaksa menjalin kerja sama rahasia, atau bahkan dijadikan wanita simpanan (ianfu atau gundik) pejabat tinggi Jepang agar bisa bertahan hidup. Tantri tak pernah membantah atau membenarkan hal ini dalam memoarnya, membiarkannya menjadi misteri abadi.
Mengudara di Garis Depan Revolusi
Fase paling heroik dari K’tut Tantri justru mekar setelah bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Keluar dari penjara pada 1945, ia tidak memilih pulang ke Amerika atau kembali ke pelukan Belanda. Ia memilih berdiri di pihak republik yang baru lahir, Indonesia.
Tantri bergabung dengan tokoh pergerakan Sutomo (Bung Tomo) di Radio Barisan Pemberontak Indonesia (RBPRI). Memasuki November 1945, ketika ketegangan memuncak di Surabaya, militer Inggris—sekutu pemenang Perang Dunia II—datang dengan kekuatan 30.000 pasukan bersenjata berat, didukung kapal perang dan pesawat tempur tempur Mosquito. Tujuannya mengembalikan kekuasaan Belanda (NICA).
Di sinilah Tantri berubah wujud menjadi “Surabaya Sue” (merujuk pada julukan Tokyo Rose di pihak Jepang saat PD II). Melalui gelombang radio pendek, dengan bahasa Inggrisnya yang fasih dan tajam, ia mengabarkan kepada dunia internasional tentang kepahlawanan rakyat Surabaya dan kekejaman pasukan Sekutu yang membombardir warga sipil.
Siarannya ditangkap di Eropa dan Australia, merusak narasi propaganda Inggris dan Belanda, serta memicu simpati global terhadap kemerdekaan Indonesia.
Karir revolusionernya berlanjut di Voice of Free Indonesia. Ia menjadi orang kepercayaan lingkaran dalam elite republik, bersahabat dengan Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Amir Sjarifoeddin. Perannya tidak sebatas di depan mikrofon; di masa blokade ekonomi Belanda, ia terjun ke dunia hitam dengan membantu menyelundupkan opium ke luar negeri yang hasilnya dibarter dengan senjata api untuk para pejuang republik.
Akhir dari Sang Pahlawan Kontroversial
K’tut Tantri mungkin bukan sosok tanpa cela. Memoarnya kerap dikritik oleh beberapa sejarawan karena dianggap terlalu mendramatisasi atau menempatkan dirinya sebagai pusat sejarah. Namun, tak ada yang bisa membantah kecintaannya yang radikal terhadap Indonesia.
Ia menghabiskan sisa hidupnya di luar negeri setelah kemerdekaan penuh diakui. Pada 27 Juli 1997, Muriel Stuart Walker mengembuskan napas terakhirnya di sebuah panti jompo di Sydney, Australia, pada usia 98 tahun. Sesuai wasiatnya, abunya diterbangkan melintasi samudra, dikembalikan ke tanah yang memberinya nama dan jiwa: Bali.
Negara tidak melupakan jasanya. Pada 1998, setahun setelah kematiannya, pemerintah Republik Indonesia secara anumerta menganugerahinya Bintang Mahaputera Nararya—tanda kehormatan tertinggi bagi warga sipil. Sebuah pengakuan pamungkas bagi seorang perempuan asing yang pernah ditelanjangi dan diinjak-injak martabatnya, namun menolak hancur, dan bangkit menjadi salah satu trompet kemerdekaan yang paling lantang dalam sejarah bangsa.
