Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan sang ayah. Langkah radikal pembangkangan mutlak terhadap AS.
INDONESIAONLINE – Langit Teheran masih menyisakan aroma mesiu dan ketegangan yang pekat. Delapan hari setelah sebuah serangan presisi tingkat tinggi dari militer Amerika Serikat dan Israel merenggut nyawa Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, Republik Islam Iran akhirnya memberikan jawaban atas vakumnya kekuasaan absolut di negara tersebut. Jawaban itu bukanlah sebuah bendera putih untuk negosiasi, melainkan deklarasi pembangkangan yang diwujudkan dalam satu nama: Mojtaba Khamenei.
Pada Minggu (8/3/2026) waktu setempat, Majelis Ahli Iran—lembaga beranggotakan 88 ulama senior yang secara konstitusional bertugas memilih, mengawasi, dan memberhentikan Pemimpin Tertinggi—mengumumkan penunjukan pria berusia 56 tahun tersebut. Keputusan ini diambil di tengah krisis eksistensial paling parah yang mendera negara itu sejak Revolusi Islam pecah hampir lima dekade silam.
Naiknya Mojtaba ke puncak piramida kekuasaan bukanlah sebuah kejutan bagi para pengamat intelijen, namun momentumnya membawa pesan geopolitik yang memekakkan telinga. Ia mewarisi sebuah negara yang sedang terbakar konflik terbuka, ekonomi yang dicekik sanksi, serta ancaman pembunuhan harian dari Tel Aviv dan Washington.
Dari Balik Layar Menuju Singgasana
Siapakah sebenarnya Mojtaba Khamenei? Berbeda dengan presiden atau anggota parlemen yang wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan Teheran, Mojtaba adalah arsitek bayangan. Ia tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik, tak pernah memenangkan satu pun pemilihan umum, dan jarang tampil berpidato di depan mimbar publik.
Namun, di koridor kekuasaan Bait-e Rahbar (Kantor Pemimpin Tertinggi), titahnya adalah hukum. Selama lebih dari dua dekade, ia bertindak sebagai penjaga gerbang sang ayah.
Al Jazeera mendeskripsikan perannya secara akurat: “Ia adalah penjaga gerbang ayahnya. Ia mengadopsi posisi ayahnya terkait Amerika Serikat dan Israel. Jadi kita kemungkinan akan melihat pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan adanya moderasi.”
Catatan sejarah mencatat kedekatan absolut Mojtaba dengan faksi paling mematikan di negara itu: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan milisi Basij. Kedekatan ini terjalin erat, setidaknya sejak protes massal Gerakan Hijau (Green Movement) pada 2009.
Saat itu, jutaan rakyat Iran turun ke jalan memprotes hasil pemilu yang memenangkan Mahmoud Ahmadinejad. Laporan dari berbagai lembaga pemantau independen dan intelijen Barat meyakini bahwa Mojtaba-lah sosok yang mengorkestrasi operasi penumpasan brutal oleh Basij terhadap para demonstran, yang mengukuhkan statusnya sebagai tokoh garis keras tanpa kompromi.
Dengan rekam jejak seperti itu, naiknya Mojtaba menjadi sinyal terang benderang bahwa poros kekuasaan konservatif di Iran merapatkan barisan. Mereka tidak memberikan ruang milimeter pun bagi kubu reformis atau pragmatis yang mungkin mendambakan jeda kemanusiaan atau perundingan damai.
Sebuah Defiansi Terhadap Barat
Proses pemilihan Mojtaba juga sarat dengan narasi perlawanan. Di tengah dentuman perang yang memasuki pekan kedua, anggota Majelis Ahli Iran, Heidari Alekasir, secara terbuka menyatakan bahwa kandidat ini dipilih berdasarkan wasiat tak tertulis dari mendiang Ali Khamenei.
“Ia dipilih berdasarkan nasihat mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya ‘dibenci oleh musuh’ alih-alih dipuji oleh mereka,” tegas Alekasir.
Pernyataan ini menegaskan doktrin politik Iran: legitimasi seorang pemimpin tidak diukur dari dukungan dunia internasional, melainkan dari seberapa besar ketakutan atau kebencian yang ia timbulkan di mata musuh-musuh Republik Islam.
Bagi Rami Khouri, Distinguished Public Policy Fellow di American University of Beirut, pengangkatan ini murni merupakan kelanjutan dari sistem kekuasaan otoritarian Iran, sekaligus tamparan diplomatik bagi AS dan Israel.
“Ini adalah tindakan pembangkangan. Iran pada dasarnya mengatakan kepada Amerika dan Israel: ‘Kalian ingin menyingkirkan sistem kami? Baiklah… ini orang yang bahkan lebih radikal daripada ayahnya yang dibunuh’,” analisis Khouri.
Khouri menggarisbawahi bahwa prospek negosiasi untuk mengakhiri perang di era kepemimpinan Mojtaba masih berada di titik nadir. Sang pemimpin baru kemungkinan besar akan mengandalkan doktrin “Pertahanan Maju” (Forward Defense) yang selama ini dipertahankan ayahnya—yakni memanfaatkan Jaringan Poros Perlawanan (Axis of Resistance) seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta milisi Syiah di Irak dan Suriah untuk menguras energi AS dan Israel dalam perang atrisi yang berkepanjangan.
Seteru Dua Pemimpin Berwatak Keras: Mojtaba vs Trump
Dimensi krisis ini bertambah pelik dengan kembalinya Donald Trump di Gedung Putih. Sejarah mencatat Trump sebagai presiden yang merobek kesepakatan nuklir JCPOA pada 2018 dan memerintahkan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani pada 2020. Kini, di tahun 2026, Trump dan militer Israel telah melewati garis merah paling sakral bagi Iran: membunuh Pemimpin Tertinggi.
Bahkan sebelum Mojtaba resmi diumumkan, Tel Aviv telah menebar ancaman akan memburu dan membunuh siapa pun yang berani menduduki kursi kepemimpinan tersebut. Trump sendiri tidak mau kalah panggung. Dalam wawancara dengan ABC News pada hari Minggu yang sama, presiden dari Partai Republik itu melontarkan pernyataan bernada supremasi yang langsung membakar amarah Teheran.
“Ia (pemimpin baru Iran) harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika ia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, ia tidak akan bertahan lama,” klaim Trump dengan gaya retorika khasnya yang tanpa saringan.
Ia menambahkan bahwa kampanye militer saat ini hanya akan berhenti apabila kepemimpinan militer dan spiritual Iran dilumpuhkan sepenuhnya.
Respons dari elite politik Iran datang bagai sambaran petir. Ketua Parlemen Iran yang juga mantan komandan IRGC, Mohammad Bagher Ghalibaf, turun ke platform media sosial X (dahulu Twitter) untuk mencabik-cabik arogansi Trump. Ghalibaf tidak menyerang dengan dalil agama, melainkan dengan sindiran tajam yang membidik moralitas para elite Amerika.
“Nasib Iran tercinta, yang lebih berharga dari kehidupan, akan ditentukan hanya oleh bangsa Iran yang bangga, bukan oleh geng Epstein,” cuit Ghalibaf.
Penggunaan frasa “geng Epstein”—merujuk pada mendiang Jeffrey Epstein, predator seksual yang memiliki lingkaran pertemanan elite di eselon tertinggi politik dan bisnis Amerika—adalah cara Iran mendelegitimasi moralitas kepemimpinan AS di mata dunia.
Bagi Teheran, AS bukanlah polisi dunia yang berhak mengatur siapa yang pantas memimpin di Timur Tengah, melainkan negara hegemonik yang dipimpin oleh para politisi amoral.
Nasib Republik Islam: Bertahan atau Runtuh?
Kini, pertanyaan terbesar bergelayut di atas pundak pria bersorban hitam itu: mampukah Mojtaba Khamenei menjaga Republik Islam agar tidak runtuh?
Salah satu anggota Majelis Ahli sempat menyatakan sesaat sebelum pengumuman resmi, “Jalan Imam Khomeini dan jalan Imam Khamenei yang gugur telah dipilih. Nama Khamenei akan terus berlanjut.” Pernyataan ini mencoba menciptakan ilusi stabilitas, merangkai garis keturunan kekuasaan dari pendiri revolusi Ruhollah Khomeini (1979-1989), kepada Ali Khamenei (1989-2026), dan kini Mojtaba.
Namun, realitas di lapangan sangatlah brutal. Iran saat ini tidak sedang melawan pemberontak internal bersenjata ringan, melainkan menghadapi aliansi militer paling canggih di dunia. Berdasarkan data dari Global Firepower dan laporan intelijen strategis, meski Iran memiliki persenjataan rudal balistik hipersonik dan jaringan bawah tanah yang masif, keunggulan udara dan siber Israel dan AS telah terbukti mampu menembus jantung pertahanan Teheran.
Di dalam negeri, legitimasi rezim sedang berada di titik terendah. Inflasi yang meroket di atas 40 persen, sanksi ekonomi yang melumpuhkan ekspor minyak, serta kekecewaan kelas menengah urban atas aturan berpakaian dan represi sosial telah membuahkan berbagai gelombang kerusuhan mematikan dalam satu dekade terakhir.
Mojtaba Khamenei tidak lagi memiliki kemewahan waktu yang dimiliki ayahnya. Jika Ali Khamenei memimpin selama 37 tahun dengan perlahan-lahan membangun pengaruh, Mojtaba dilantik di dalam bunker yang dibombardir.
Al Jazeera menyinggung bahwa “jika perang ini berakhir dan ia masih hidup serta mampu terus menjalankan negara, maka akan ada potensi besar untuk menemukan jalur-jalur baru bagi Iran.” Namun, kata “jika” dalam kalimat tersebut menanggung beban probabilitas yang sangat berat.
Di bawah Mojtaba, Iran telah memilih untuk tidak menundukkan kepala. Mereka memilih jalan pedang. Dan dalam permainan Russian Roulette geopolitik Timur Tengah saat ini, taruhannya bukan sekadar pergantian rezim, melainkan eksistensi negara Iran itu sendiri di atas peta peradaban modern.
