Jelajahi sejarah Kampung Peneleh di Surabaya, dari jejak Singosari, dakwah Sunan Ampel, hingga lahirnya ideologi bangsa di rumah Tjokroaminoto.
INDONESIAONLINE – Surabaya bukan sekadar gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan megah. Di balik bising klakson kendaraan di kawasan Genteng, terselip sebuah pemukiman yang seolah menjadi mesin waktu. Kampung Peneleh, atau sering disebut Paneleh, bukan sekadar titik koordinat di peta Kota Pahlawan.
Ia adalah sebuah fragmen sejarah yang merekam evolusi peradaban Jawa, mulai dari era kerajaan Hindu-Buddha, masuknya Islam, kolonialisme Belanda, hingga persemaian benih kemerdekaan Indonesia.

Sumur Jobong: Bukti Autentik dari Era Majapahit
Jauh sebelum Surabaya dikenal sebagai kota pelabuhan besar, Peneleh sudah eksis. Sejarawan Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, menyebutkan bahwa pemukiman ini diperkirakan telah berdiri sejak zaman Kerajaan Singosari. Bukti fisik yang paling mencolok ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2018 di Jalan Pandean Gang I: sebuah Sumur Jobong.
Secara arkeologis, Sumur Jobong ini adalah penanda penting. Terbuat dari terakota yang disusun bertumpuk, teknik ini sangat identik dengan temuan-temuan di situs Trowulan, pusat Kerajaan Majapahit (abad 13-15 Masehi). Hasil uji radiokarbon terhadap fragmen tulang yang ditemukan di sekitar sumur menunjukkan angka tahun antara 1430 hingga 1450 Masehi.
Ini mempertegas teori bahwa Peneleh adalah salah satu pemukiman tertua di Surabaya yang masih dihuni hingga saat ini.
Nama “Peneleh” sendiri diyakini berasal dari kata Penilih, yang berarti “orang terpilih”. Menurut memoar Ruslan Abdulgani, tokoh nasional yang lahir di Plampitan, kawasan ini merupakan pusat kekuasaan di bawah pimpinan Kanuruhan Glagah Aroem atas perintah Raja Singosari, Wisnuwardhana.
Strategi Budaya Sunan Ampel: Dari Sabung Ayam ke Masjid Jami’
Transformasi spiritual Kampung Peneleh dimulai ketika Raden Rahmat, yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel, menginjakkan kakinya di sini. Perjalanan sang Sunan menuju daerah Ampel Denta tidak dilakukan melalui jalur darat, melainkan menyusuri aliran Kali Mas menggunakan perahu.
Menariknya, Sunan Ampel tidak langsung menyebarkan ajaran Islam secara kaku. Beliau menggunakan pendekatan budaya yang unik: sabung ayam.
Saat itu, masyarakat Peneleh yang mayoritas masih memegang teguh kepercayaan Hindu sangat menggemari tradisi ini. Ayam jago milik Raden Rahmat yang tak terkalahkan menjadi magnet bagi penduduk lokal. Lewat kerumunan itulah, beliau mulai menyisipkan dialog-dialog tentang ketauhidan dan nilai-nilai Islam.
Hasil dari interaksi intens tersebut adalah berdirinya Masjid Jami’ Peneleh. Secara arsitektur, masjid ini memiliki keunikan tersendiri dengan bentuk yang menyerupai kapal terbalik jika dilihat dari struktur atapnya. Meski telah mengalami berbagai renovasi, sepuluh tiang utama (soko guru) kayu jati di dalamnya tetap dipertahankan keasliannya.
Masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana Islam berakar di tengah masyarakat urban kuno Surabaya.
Makam Belanda Peneleh: Memori Kolonial di Timur Kampung
Peneleh juga menjadi saksi bisu era kolonialisme. Pada tahun 1847, pemerintah Hindia Belanda membuka lahan di sisi timur kampung sebagai pemukiman terakhir bagi warga Eropa. Kerkhof Peneleh atau Makam Belanda Peneleh, seluas 4,5 hektar, kini menjadi salah satu pemakaman Eropa tertua di Indonesia yang masih tersisa.
Di sini, bersemayam tokoh-tokoh penting seperti Pieter Merkus, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada 1841-1844. Selain itu, terdapat makam Ohannes Kurkdjian, fotografer legendaris berdarah Armenia yang mengabadikan wajah Jawa di akhir abad ke-19.
Keberadaan makam-makam megah dengan arsitektur Gotik dan Neoklasik ini memberikan kontras visual yang tajam dengan padatnya perkampungan penduduk di sekitarnya.
Uniknya, batas antara kehidupan dan kematian di Peneleh tampak kabur. Di gang-gang sempit, makam-makam tua—beberapa merupakan makam Islam kuno seperti Makam Nyi Cempo—kerap ditemukan berhimpitan dengan tembok rumah warga atau bahkan menjadi bagian dari area parkir.
Toleransi pun tampak nyata saat warga keturunan Bali yang beragama Hindu terkadang memberikan sesaji bunga di makam-makam Islam tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur kampung.
Dapur Ideologi: Rumah Tjokroaminoto dan Lahirnya Para Tokoh Bangsa
Jika ada satu tempat di Indonesia yang layak disebut sebagai “Rahim Bangsa”, maka itu adalah Peneleh Gang VII nomor 29-31. Di rumah sederhana milik Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto inilah, ideologi-ideologi besar Indonesia digodok.
Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam yang dijuluki Belanda sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”, menjadikan rumahnya sebagai tempat kos bagi para pemuda terpelajar. Salah satu penghuninya adalah Kusno, yang kelak dikenal sebagai Soekarno, Proklamator kemerdekaan kita. Di bawah bimbingan Tjokroaminoto, Soekarno belajar berpidato, berorganisasi, dan memahami penderitaan rakyat.
Namun, Peneleh bukan hanya milik Soekarno. Di rumah yang sama, tokoh-tokoh dengan ideologi yang berseberangan seperti Semaun (tokoh kiri), Alimin, hingga Haji Agus Salim (tokoh Islam moderat) sering bertemu dan berdiskusi. Kampung ini menjadi episentrum intelektual di mana perlawanan terhadap kolonialisme tidak dilakukan dengan senjata, melainkan dengan pemikiran dan tulisan.
Selain Tjokroaminoto, nama-nama seperti Ruslan Abdulgani dan Djohan Sjahroezah (kolega Sutan Sjahrir) juga mengakar kuat di sini. Bahkan, nama Ahmad Jaiz, seorang penjahit terpandang langganan orang Belanda di masa lalu, kini diabadikan menjadi nama jalan utama di tepi Kali Mas yang melintasi kawasan ini.
Hingga saat ini, Kampung Peneleh tetap mempertahankan karakteristiknya sebagai kampung urban yang bhinneka. Adrian Perkasa menekankan bahwa sejak awal, Peneleh bukanlah kampung pribumi yang homogen. Ia adalah melting pot di mana etnis Jawa, Bali, Arab, dan Tionghoa hidup berdampingan.
Di beberapa sudut rumah, kita masih bisa menemukan perangkat upacara Hindu Bali yang bersandingan dengan nuansa Islami yang kental. Pluralisme ini bukan hasil rekayasa sosial modern, melainkan warisan sejarah panjang yang sudah ada sejak zaman Singosari hingga masa pergerakan nasional.
Kampung Peneleh adalah sebuah narasi panjang tentang identitas Indonesia. Dari Sumur Jobong kita belajar tentang akar prasejarah kita, dari Masjid Jami’ kita belajar tentang dakwah yang santun, dari Makam Belanda kita belajar tentang pahitnya kolonialisme, dan dari Rumah Tjokroaminoto kita belajar tentang keberanian bermimpi untuk merdeka.
Menjaga Peneleh bukan sekadar melestarikan bangunan tua, melainkan menjaga semangat “Penilih”—semangat orang-orang terpilih yang terus bergerak maju tanpa melupakan akar sejarahnya. Bagi siapapun yang ingin memahami Surabaya secara utuh, melangkah ke dalam gang-gang Peneleh adalah sebuah keharusan. Karena di sanalah, jantung sejarah Surabaya masih berdenyut dengan kencang.













