Mengenal Super El Nino, Fenomena Iklim Ekstrem yang Diprediksi Panggang Bumi

Ilustrasi kekeringan akibat kemarau ekstrem. (istock)

INDONESIAONLINE – Fenomena Super El Nino diperkirakan akan menjadi salah satu peristiwa iklim paling kuat yang terjadi pada 2026. Para ahli menilai kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan lebih parah, suhu udara yang semakin panas, serta berbagai dampak terhadap sektor pertanian, pangan, dan kesehatan.

El Nino sendiri merupakan fenomena iklim alami yang biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun. Peristiwa ini menyebabkan perubahan pola cuaca sehingga sebagian wilayah mengalami kekeringan dan  wilayah lain justru diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Namun, kondisi El Nino tahun ini diperkirakan jauh lebih ekstrem. Sejumlah pakar menyebut fenomena tersebut berpotensi berkembang menjadi Super El Nino.

Mengacu pada penjelasan World Resources Institute (WRI), Super El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata. Kenaikan suhu tersebut mampu mengubah pola atmosfer secara signifikan.

Fenomena Super El Nino umumnya muncul setiap 10 hingga 15 tahun. Meski demikian, para peneliti menilai peristiwa kali ini memiliki karakteristik berbeda karena terjadi saat suhu Bumi sudah jauh lebih tinggi akibat pemanasan global.

WRI menjelaskan bahwa kondisi Bumi yang semakin panas membuat atmosfer mampu menyerap lebih banyak uap air. Dampaknya, kelembapan tanah dan tanaman lebih cepat berkurang sehingga risiko kekeringan meningkat dan tanaman maupun ternak lebih rentan mengalami stres akibat suhu tinggi.

Di sisi lain, wilayah yang menerima curah hujan tinggi juga tidak otomatis terbebas dari ancaman kekeringan. Penelitian berjudul More Concentrated Precipitation Decreases Terrestrial Water Storage yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Mei lalu menunjukkan hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat justru mengurangi kemampuan tanah menyimpan air.

Air hujan lebih banyak mengalir di permukaan atau menguap sebelum sempat meresap ke dalam tanah. Akibatnya, cadangan air tanah tidak bertambah secara optimal meskipun curah hujan meningkat.

Profesor Riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan, sejumlah pakar memperkirakan El Nino 2026 akan lebih kuat dibandingkan peristiwa yang terjadi pada 2023. Menurut Erma, El Nino pada 2023 memiliki intensitas maksimum sekitar 1,6 derajat Celsius. Sementara berdasarkan pemantauan satelit, intensitas El Nino tahun ini telah mencapai sekitar 1,74 derajat Celsius dan masih berpotensi terus meningkat.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa dampak El Nino 2026 kemungkinan lebih berat dibandingkan tiga tahun lalu. “Sudah harus dipahami bahwa El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023 karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023,” ujar Erma.

Fenomena ini diperkirakan berdampak luas terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air. Selain itu, Super El Nino berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, menurunkan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan adanya risiko terganggunya fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas pertanian, hingga meningkatnya potensi puso akibat kekurangan air.

Karena itu, BMKG mendorong langkah antisipasi sejak dini melalui penyesuaian pola tanam, pengelolaan sistem irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

WRI menambahkan, dampak Super El Nino kali ini diperkirakan semakin berat akibat dua faktor utama, yakni perubahan iklim global yang membuat cuaca semakin sulit diprediksi serta tekanan terhadap sistem pangan dunia yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran sehingga memengaruhi pasokan bahan bakar dan pupuk. (ars/hel)