Ada Mosaik di Lubang Jalan Kota Malang, Limbah Kaca Disulap Jadi Seni Jalanan

Mosaik kaca patri karya Ivan Rachman yang berada di kawasan Jalan Semeru Kota Malang. (ig)

INDONESIAONLINE – Pemandangan unik terlihat di sejumlah trotoar Kota Malang.  Ada kreasi pecahan kaca berwarna yang dirangkai menjadi sebuah karya mosaik di sejumlah trotoar Kota Malang.

Karya tersebut muncul di sejumlah titik. Salah satunya ada di kawasan Jalan Semeru, Kota Malang. Di tengah permukaan jalan dan trotoar yang tidak rata, potongan-potongan kaca patri justru menghadirkan warna dan pola yang mencolok.

Adalah Ivan Rachman, perajin kaca patri asal Kota Malang, yang berada di balik karya tersebut. Ia memanfaatkan potongan kaca sisa produksi yang sebelumnya tidak lagi digunakan untuk menciptakan pothole mosaic.

Daripada membiarkan limbah kaca menumpuk, Ivan merangkainya menjadi mosaik dan menempatkannya pada sejumlah bagian jalan yang berlubang. Karya itu sekaligus menjadi eksperimen bagaimana seni dapat hadir di ruang publik dengan cara yang tidak biasa.

Ivan menyebut ide tersebut berangkat dari ketertarikannya mengembangkan kemampuan di bidang kaca patri dan mosaik. Ia kemudian melihat adanya peluang untuk membawa karya tersebut keluar dari ruang produksi dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

“Saya berpikir, daripada potongan kaca ini hanya menjadi sisa produksi, kenapa tidak dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dinikmati orang. Sekalian saya belajar membuat mosaik dengan medium yang saya punya,” kata Ivan.

Dua karya sejauh ini telah ditempatkan di kawasan Jalan Semeru. Ukurannya relatif kecil, yakni sekitar 15 sentimeter untuk salah satu karya dan 10 x 20 sentimeter untuk karya lainnya.

Namun, ukurannya yang tidak besar justru membuat keberadaannya menarik perhatian. Permukaan kaca berwarna yang berbeda dari material jalan membuat bagian tersebut terlihat seperti titik-titik seni yang muncul secara tiba-tiba di ruang publik.

Ivan juga memberi nama Makobu pada salah satu karya. Nama tersebut merupakan permainan kata yang sengaja dibuat untuk menggambarkan kondisi Kota Malang dengan cara yang lebih satir.

Menurut dia, karya tersebut tidak sejak awal dirancang untuk menyerang atau menyalahkan pihak tertentu. Ia lebih melihatnya sebagai bentuk eksperimen seni sekaligus cara sederhana untuk memberikan warna pada lingkungan tempatnya beraktivitas.

“Saya tidak sedang membuat karya untuk menyudutkan siapa pun. Kalau kemudian orang melihatnya sebagai sindiran terhadap kondisi kota, itu menjadi bagian dari interpretasi masing-masing,” ucap Ivan.

Konsep pothole mosaic sendiri sebenarnya telah dikenal di sejumlah tempat di luar negeri. Lalu mengadaptasinya dengan karakter dan material yang tersedia di Kota Malang.

Dalam pengerjaannya, ia tidak membutuhkan peralatan rumit. Potongan kaca dibentuk menggunakan tang khusus, kemudian disusun sesuai pola sebelum ditempel menggunakan lem dan semen.

Menariknya, proses tersebut dilakukan di sela aktivitasnya sehari-hari sebagai perajin kaca patri sekaligus mengelola usaha kecil. Ia juga mendapatkan material dari sisa produksi miliknya maupun potongan kaca dari perajin lain.

Bagi Ivan, pemanfaatan limbah tersebut menjadi bagian penting dari proses berkarya. Material yang dianggap tidak lagi memiliki nilai produksi justru mendapat kehidupan baru ketika dirangkai menjadi karya seni.

“Ada kepuasan tersendiri ketika melihat potongan-potongan kaca yang tadinya tidak terpakai ternyata masih bisa mempunyai fungsi dan nilai estetika. Jadi bukan hanya membuat karya, tetapi juga memanfaatkan apa yang sudah ada,” tambahnya.

Karya berikutnya kini tengah ia siapkan dengan ukuran lebih besar, sekitar 45 x 25 sentimeter. Ia berencana terus membuat mosaik serupa di sejumlah titik lain di Kota Malang selama menemukan lokasi yang memungkinkan.

Bagi Ivan, kehadiran karya tersebut di ruang publik bukan dimaksudkan untuk menggantikan fungsi perbaikan jalan. Ia menyadari bahwa persoalan fasilitas publik tetap membutuhkan penanganan sesuai kewenangan.

Namun, ia ingin menunjukkan bahwa warga juga dapat mengambil peran dengan caranya masing-masing. Seni, menurutnya, tidak harus selalu berada di dalam galeri atau ruang pamer.

“Saya ingin seni itu bisa bertemu langsung dengan masyarakat. Kalau ada orang yang lewat kemudian berhenti, melihat, lalu tersenyum atau berpikir tentang lingkungan sekitarnya, bagi saya itu sudah menjadi bagian dari fungsi karya ini,” kata dia.

Ia pun berharap eksperimen tersebut dapat berlanjut dan mendorong lebih banyak pelaku industri kreatif di Kota Malang untuk melihat lingkungan sekitar sebagai bagian dari ruang berkarya. (ir/hel)