Beranda

Meteor Hancur di Langit New England 2026, Ledakan Setara 300 Ton TNT

Meteor Hancur di Langit New England 2026, Ledakan Setara 300 Ton TNT
Meteor hancur di langit Massachusetts-New Hampshire 30 Mei 2026, ledakan setara 300 ton TNT, rumah warga berguncang (io)

Meteor hancur di langit Massachusetts-New Hampshire 30 Mei 2026, ledakan setara 300 ton TNT, rumah warga berguncang, NASA: objek alami bukan satelit.

INDONESIAONLINE – Sarah Miller (34) tengah merapikan bunga di halaman depan rumahnya di Watertown, pinggiran Boston, Sabtu (30/5/2026) pukul 14.00 waktu setempat, saat tiba-tiba suara dentuman keras menggetarkan kaca jendela ruang tamu. Guncangan ringan membuat cangkir kopi yang diletakkan di meja teras berdenting jatuh ke lantai.

“Saya langsung lari ke dalam rumah, mengira ada ledakan di jalan raya terdekat,” ujar Miller, Minggu (31/5/2026). “Tapi tetangga saya bilang suara itu datang dari langit,” lanjutnya.

Ledakan tersebut berasal dari meteor yang pecah di atas wilayah timur laut Amerika Serikat, tepatnya di atas Massachusetts timur laut dan New Hampshire tenggara, pada pukul 14.06 waktu setempat. Menurut pernyataan resmi NASA yang dikutip dari AFP, Sabtu (31/5/2026), energi yang dilepaskan saat meteor pecah setara dengan 300 ton dinamit TNT.

Objek tersebut melaju dengan kecepatan 75.000 mil per jam (mph) sebelum hancur di ketinggian 40 mil (sekitar 64 kilometer) dari permukaan bumi. Warga di sepanjang jalur melaporkan melihat bola api terang yang melintas di langit siang hari selama 3 detik sebelum pecah.

“Objek ini tidak terkait dengan hujan meteor aktif saat ini, melainkan objek alami dan bukan puing-puing satelit atau masuk kembali ke atmosfer,” tegas Wakil Kepala Berita NASA Jennifer Dooren dalam pernyataan resminya.

Dentuman Setara 300 Ton TNT Guncang Rumah Warga

Getaran dari ledakan tersebut dirasakan hingga radius 100 kilometer dari titik pecah. Departemen Kepolisian Watertown menerima lebih dari 200 laporan warga dalam satu jam pertama pasca-ledakan, sebagian besar melaporkan rumah mereka berguncang ringan.

“Kami menerima banyak laporan suara dentuman keras dari seluruh bagian timur negara bagian. Sementara ini tidak ada laporan bahaya atau kerusakan properti,” ujar juru bicara kepolisian Watertown dalam pernyataan resminya, dikutip dari ABC News.

Media sosial X (sebelumnya Twitter) dibanjiri unggahan video dan audio suara dentuman tersebut. Hingga Minggu sore, tagar #NewEnglandMeteor telah muncul lebih dari 12.000 kali, dengan warga membagikan rekaman CCTV yang menunjukkan jendela bergetar dan hewan peliharaan yang ketakutan.

Tidak ada laporan permintaan bantuan darurat, pemadam kebakaran, atau layanan medis terkait insiden ini, kata Kantor Eksekutif Keamanan Publik Massachusetts.

Data USGS mencatat suara dentuman tersebut terdengar lebih keras di wilayah pedesaan New Hampshire dibandingkan area urban Massachusetts, karena minimnya gangguan suara latar belakang. “Beberapa warga melaporkan suara seperti pesawat supersonik lewat, tapi lebih keras dan berlangsung lebih lama,” ujar ahli seismologi USGS Dr. Lena Marchese.

NASA: Objek Alami, Bukan Puing Satelit atau Hujan Meteor

NASA menegaskan meteor tersebut tidak terkait dengan hujan meteor Eta Aquarids yang memuncak pada 6 Mei 2026, atau hujan meteor lainnya yang aktif di bulan Mei.

“Ini adalah objek sporadis, artinya berasal dari sisa debu pembentukan tata surya yang terlempar dari sabuk asteroid utama,” ujar peneliti CNEOS NASA Dr. Paul Chodas.

Data Pusat Studi Objek Dekat Bumi (CNEOS) NASA mencatat, rata-rata 1-2 bolide dengan energi ledak di atas 100 ton TNT jatuh ke Bumi setiap tahun.

“Mayoritas jatuh di lautan sehingga tidak terdeteksi publik. Kejadian di New England ini langka karena terjadi di area padat penduduk,” imbuh Chodas.

Perbandingan dengan peristiwa serupa: meteor 2018 di Michigan menghasilkan ledakan 10 ton TNT, meteor 2022 di California 20 ton TNT. Sementara meteor Chelyabinsk 2013 di Rusia menghasilkan ledakan 500.000 ton TNT – jauh lebih besar dari insiden New England ini.

Estimasi awal NASA menyebut meteor ini berdiameter sekitar 6 meter dengan massa awal sekitar 300 ton. “Ukuran ini terlalu kecil untuk dideteksi sistem peringatan dini kami sebelum memasuki atmosfer, karena redup dan bergerak cepat,” ujar Chodas.

NASA saat ini baru melacak 90 persen objek dekat bumi berdiameter di atas 140 meter, yang berpotensi menyebabkan kerusakan masif jika menghantam Bumi.

USGS: Bolide Picu Sonic Boom Linear, Tak Ada Korban

Badan Survei Geologi AS (USGS) menjelaskan bahwa suara dentuman tersebut berasal dari bolide – istilah ilmiah untuk meteor terang yang pecah di atmosfer. “Tidak seperti gempa yang berasal dari titik tunggal di Bumi, ledakan sonik bolide terjadi di sepanjang jalur linier di atmosfer, sehingga terdengar di area luas,” jelas USGS dalam pernyataan resminya.

USGS tidak mendeteksi aktivitas seismik terkait ledakan ini, karena ledakan terjadi di atmosfer, bukan di permukaan Bumi. “Jika meteor ini mendarat di tanah, kami akan mendeteksi getaran seismik kecil, tapi sejauh ini tidak ada,” ujar Marchese.

Hingga Senin (1/6/2026), belum ada laporan penemuan fragmen meteorit di permukaan Bumi. NASA dan USGS meminta warga di area New Hampshire yang menemukan batuan gelap, berat, dan memiliki kawah kecil untuk segera melaporkannya ke kantor polisi setempat. “Fragmen ini mungkin masih mengandung sisa panas, jadi jangan disentuh langsung,” imbau Dooren.

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya misi NEO Surveyor NASA yang dijadwalkan meluncur pada 2028. Misi tersebut akan menggunakan sensor inframerah untuk melacak objek dekat bumi berdiameter di atas 30 meter, yang saat ini sulit dideteksi.

“Insiden New England ini mengingatkan kita bahwa masih banyak objek kecil di luar sana yang belum kita lacak,” ujar Chodas.

Meski memicu kepanikan sesaat, insiden ini tidak menyebabkan korban jiwa atau kerusakan properti. Bagi warga New England, peristiwa ini justru menjadi tontonan langka.

“Saya tidak pernah melihat bola api sebesar itu di langit,” ujar Miller. “Untung tidak ada yang terjadi, tapi rasanya seram juga tahu ada batu besar dari luar angkasa lewat di atas rumah kita.”

Exit mobile version