Radiohead bentuk Futile Endeavours Limited, picu spekulasi album baru pasca 10 tahun. Simak analisis pola bisnis dan sejarah unik mereka di sini.
INDONESIAONLINE – Di dunia musik rock alternatif, tidak ada yang bergerak sesenyap namun mematikan seperti Radiohead. Ketika band-band lain mengumumkan rencana mereka lewat baliho besar atau kampanye media sosial yang bising, Thom Yorke dan kawan-kawan memilih jalur birokrasi yang dingin: mendaftarkan perusahaan baru.
Pada Kamis, 19 Februari 2026, sebuah entitas bisnis bernama Futile Endeavours Limited resmi tercatat di Companies House, lembaga registrasi perusahaan di Inggris. Di atas kertas, ini hanyalah prosedur administratif biasa. Namun bagi para pengamat industri musik dan basis penggemar fanatik mereka, ini adalah kode morse yang berbunyi nyaring: “Sesuatu yang besar sedang terjadi.”
Kelima personel inti—Thom Yorke, Jonny Greenwood, Colin Greenwood, Ed O’Brien, dan Philip Selway—terdaftar sebagai direktur. Langkah ini bukan sekadar formalitas bisnis, melainkan sebuah pola historis yang nyaris selalu berujung pada rilisan karya monumental. Apakah ini akhir dari penantian satu dekade sejak album A Moon Shaped Pool (2016)?

Pola Korporasi: Membaca Masa Depan Lewat Akta Notaris
Radiohead dikenal sebagai band yang sangat teliti dalam manajemen hak cipta dan struktur bisnis mereka. Membentuk perusahaan cangkang (shell company) atau entitas bertujuan khusus (special purpose vehicle) adalah strategi klasik mereka untuk mengelola aset intelektual dari sebuah era album tertentu.
Sejarah mencatat pola yang tak terbantahkan:
- Dawn Chorus LLP: Didirikan pada Oktober 2015. Enam bulan kemudian, Mei 2016, album A Moon Shaped Pool dirilis. Perusahaan ini digunakan untuk menampung pendapatan tur dan penjualan album tersebut.
- Xurbia Xendless Ltd: Didirikan pada 2007 menjelang perilisan album revolusioner In Rainbows.
- Spin With A Grin LLP: Muncul pada 2021, tepat sebelum pengumuman proyek reissue Kid A Mnesia, sebuah perayaan gabungan album Kid A dan Amnesiac disertai pameran virtual.
- Self Help Tapes LLP: Didirikan pada 2022, yang kemudian menjadi kendaraan bagi The Smile, proyek sampingan Thom Yorke dan Jonny Greenwood.
Dengan hadirnya Futile Endeavours Limited di awal 2026, probabilitas adanya proyek besar mendekati 90 persen. Nama perusahaan itu sendiri, “Futile Endeavours” (Usaha yang Sia-sia), sangat kental dengan dark humor dan sinisme khas Thom Yorke.
Apakah ini judul lagu baru? Judul album? Ataukah sekadar lelucon internal tentang betapa sulitnya menyatukan kembali visi kreatif kelima anggota setelah sibuk dengan proyek solo masing-masing?
Satu Dekade Penantian: Mengapa Sekarang?
Jika Radiohead benar-benar merilis album pada pertengahan atau akhir 2026, ini akan menandai genap 10 tahun jarak dari album sebelumnya. Ini adalah jeda terpanjang dalam karier mereka sejak debut Pablo Honey pada 1993.
Selama dekade “vakum” sebagai entitas Radiohead, para personelnya sangat produktif. Thom Yorke dan Jonny Greenwood sibuk dengan The Smile yang merilis dua album sukses (A Light for Attracting Attention dan Wall of Eyes). Ed O’Brien merilis album solo Earth dengan nama EOB.
Philip Selway terus berkarya sebagai solois dan komposer soundtrack. Colin Greenwood bahkan sempat tur sebagai bassis tamu untuk Nick Cave.
Penyatuan kembali energi kreatif ini ke dalam wadah “Radiohead” memerlukan alasan yang kuat. Jonny Greenwood, sang gitaris jenius, memberikan petunjuk krusial pasca tur arena mereka akhir tahun lalu.
“Sangat menyenangkan kembali memainkan lagu-lagu yang selalu kami rasa bagus… Tapi terasa aneh tidak melakukan sesuatu yang baru dalam tur ini,” ujar Greenwood, merujuk pada tur 20 pertunjukan di November dan Desember 2025 yang tiketnya terjual habis.
Pernyataan “terasa aneh” (felt weird) adalah indikator artistik bahwa Radiohead menolak menjadi sekadar “band nostalgia” atau legacy act. Bagi band yang selalu mendorong batas sonik—dari grunge ke art rock, lalu ke elektronika abstrak—bermain aman dengan hanya membawakan hits lama adalah sebuah kemunduran. Futile Endeavours bisa jadi adalah jawaban atas kegelisahan artistik tersebut.
Menarik untuk dicermati bahwa kali ini mereka memilih bentuk “Limited” (Ltd), bukan “LLP” (Limited Liability Partnership) seperti pada Dawn Chorus atau Spin With A Grin.
Dalam hukum bisnis Inggris, struktur Ltd seringkali digunakan untuk proyeksi jangka panjang yang lebih stabil atau pengelolaan aset yang lebih terpusat, sementara LLP lebih fleksibel untuk pembagian keuntungan langsung antar mitra (personel) dalam periode tur tertentu.
Perubahan struktur ini bisa mengindikasikan bahwa Futile Endeavours disiapkan untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar tur atau satu album. Mungkinkah ini berkaitan dengan pengelolaan katalog arsip secara menyeluruh, atau sebuah platform multimedia baru?
Mengingat Radiohead pernah meluncurkan “Radiohead Public Library” secara daring, ekspansi ke ranah digital yang lebih terstruktur di bawah bendera perusahaan baru sangat mungkin terjadi.
Selain itu, independensi adalah kunci. Sejak berpisah dengan EMI/Parlophone usai Hail to the Thief (2003), Radiohead memegang kendali penuh atas master rekaman mereka (mulai In Rainbows ke atas). Membentuk perusahaan sendiri memungkinkan mereka memotong jalur perantara, memaksimalkan pendapatan, dan memiliki kontrol kreatif mutlak—sebuah kemewahan yang jarang dimiliki band sekelas mereka di era streaming.
Relevansi di Era Gen Z dan TikTok
Satu hal yang mengejutkan adalah bagaimana Radiohead tetap relevan bagi generasi yang bahkan belum lahir saat OK Computer (1997) dirilis. Lagu No Surprises dan Jigsaw Falling Into Place viral di TikTok dalam beberapa tahun terakhir, memperkenalkan musik mereka yang kompleks kepada demografi Gen Z.
Kenyataan ini mengubah dinamika pasar mereka. Radiohead kini tidak hanya melayani penggemar milenial yang menua bersama mereka, tetapi juga remaja yang haus akan autentisitas musik analog di era digital.
Jika Futile Endeavours benar-benar bermuara pada album baru, tantangannya adalah bagaimana meramu bunyi yang relevan di tahun 2026. Apakah mereka akan kembali ke gitar seperti di The Bends, atau menyelam lebih dalam ke glitch elektronik?
Thom Yorke, yang dikenal vokal soal isu politik, juga diprediksi akan membawa muatan lirik yang berat. Penolakannya untuk tampil di Israel lagi dan komentarnya tentang rezim Netanyahu yang disebutnya “berbahaya dan tak terkendali” menunjukkan bahwa api aktivisme dalam dirinya belum padam.
Album baru Radiohead hampir pasti akan menjadi potret kegelisahan zaman: krisis iklim, ketidakstabilan geopolitik, dan disutopia teknologi.
Forum penggemar seperti AtEase dan Reddit r/radiohead kini dipenuhi teori konspirasi. Salah satu teori yang menguat adalah kemungkinan Radiohead tidak akan melakukan tur dunia konvensional yang melelahkan dan memiliki jejak karbon tinggi—isu yang sangat diperhatikan oleh mereka.
Sebaliknya, Futile Endeavours mungkin merancang konsep “Residensi Kota”, di mana band bermain di satu venue di kota besar selama beberapa malam (seperti yang mereka lakukan di The O2 London), meminimalkan perjalanan logistik.
Teori lain menyebutkan bahwa perusahaan ini didirikan untuk merilis film dokumenter atau visual album, mengingat keterlibatan Paul Thomas Anderson (sutradara yang sering berkolaborasi dengan Jonny dan Thom) dalam beberapa proyek terakhir.
Nama Futile Endeavours mungkin terdengar pesimistis, namun bagi dunia musik, ini adalah kabar paling optimis di tahun 2026. Radiohead adalah salah satu dari sedikit band “stadion” yang masih menempatkan integritas seni di atas komersialisme murni.
Langkah administratif pada 19 Februari ini adalah kepingan puzzle pertama. Jika pola lama terulang, kita mungkin akan melihat teaser misterius berupa poster, selebaran, atau video glitch di media sosial dalam 3 hingga 6 bulan ke depan.
Satu dekade adalah waktu yang lama untuk menunggu sebuah band rock. Namun, jika ada satu band yang layak ditunggu selama itu, Radiohead adalah jawabannya. Futile Endeavours bukanlah usaha yang sia-sia; ia adalah janji bahwa “monster” dari Oxford ini belum siap untuk tidur panjang.













