Mutiara Hitam di Langit Banda: Sajak Luka dan Amuk Martha Christina Tiahahu

Mutiara Hitam di Langit Banda: Sajak Luka dan Amuk Martha Christina Tiahahu
Ilustrasi artikel (io)

INDONESIAONLINE –  Di mana ombak mencium karang Nusalaut dengan kecupan yang paling perih, di sanalah riwayat itu bermula. Maluku, pada penghujung abad ke-18, bukan sekadar gugusan pulau rempah yang ranum; ia adalah rahim yang mengandung amuk dan air mata.

Tanggal 4 Januari 1800, Desa Abubu menyaksikan kelahiran seorang bayi perempuan yang kelak namanya akan diukir oleh badai dan dilarungkan ke dalam keabadian Laut Banda. Ia adalah Martha Christina Tiahahu, seorang gadis yang menolak menjadi sekadar pelengkap silsilah, melainkan memilih menjadi nyala api di tengah pekatnya kolonialisme.

Darah dan Kain Berang: Panggilan Sang Kapitan

Martha tidak tumbuh di antara lembutnya sutra atau gemerincing perhiasan. Ia adalah bayang-bayang setia dari ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu.

Sejak belia, matanya telah terbiasa menatap ufuk yang terbakar oleh keserakahan VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda. Bagi Martha, ayahnya bukan sekadar orang tua; ia adalah tanah air itu sendiri.

Maka, ketika seruan perang berkumandang dari Saparua—saat Thomas Matulessy atau Pattimura mengangkat parang salawaku—Martha tak ragu menyanggul rambut panjangnya yang legam, mengikatkan sehelai kain berang merah di keningnya, dan menggenggam tombak dengan jemari yang seharusnya masih memetik bunga.

Usianya baru tujuh belas tahun. Sebuah usia di mana gadis-gadis lain mungkin sedang merajut mimpi tentang masa depan yang tenang. Namun, bagi Martha, masa depan adalah kemerdekaan atau ketiadaan sama sekali.

Ia berdiri di garis depan, bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai panglima moral yang pekikannya mampu menggetarkan nyali serdadu-serdadu Eropa yang merasa diri mereka lebih mulia hanya karena memegang bedil.

Palagan Ouw dan Ullath: Amuk yang Menggigilkan

Oktober 1817, udara Maluku terasa berat oleh bau mesiu. Di Desa Ouw dan Ullath, pertempuran pecah dengan keganasan yang tak terlukiskan. Martha Christina berdiri di sana, di tengah kepulan asap, memimpin barisan perempuan yang menolak tunduk.

Ia adalah manifestasi dari keberanian yang liar. Ketika peluru-peluru Belanda menghujam, Martha membalasnya dengan keberanian yang tak masuk akal bagi logika militer Barat.

Sejarah mencatat dengan tinta darah bagaimana Richemont, seorang pimpinan perang Belanda, tersungkur tak bernyawa di bawah kaki pasukan rakyat yang dikobarkan semangatnya oleh sang gadis remaja ini.

Suara Cakalele bergema, tarian perang yang mistis dan menakutkan, memecah kesunyian hutan. Bagi Belanda, ini bukan lagi sekadar pemberontakan; ini adalah pertemuan dengan “kaum perempuan fanatik” yang lebih takut pada perbudakan daripada pada kematian.

Namun, keberanian saja tak cukup melawan mesin perang yang mapan. Pada 12 Oktober 1817, Vermeulen Kringer melancarkan serangan umum yang membabi buta. Tragedi memuncak saat persediaan peluru pasukan rakyat habis.

Di sinilah letak puncak pergulatan emosi yang paling getir: Martha dan pasukannya tidak menyerah. Mereka membalas serangan sangkur dengan lemparan batu. Batu-batu dari tanah kelahiran mereka menjadi senjata terakhir, sebuah simbol perlawanan primordial antara nurani melawan besi. Namun, Ouw dan Ullath akhirnya rata dengan tanah, dibakar oleh dendam kolonial yang terluka harga dirinya.

Gugurnya Sang Pohon Tua dan Kesunyian Eversten

Kekalahan itu membawa Martha pada jeruji besi di kapal Eversten. Namun, luka yang paling dalam bukan berasal dari rantai di pergelangan tangannya, melainkan saat ia dipisahkan dari ayahnya. Kapitan Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati. Di depan mata Martha, sang pohon pelindung itu tumbang oleh timah panas Belanda di Nusalaut.

Martha dibebaskan karena usianya yang masih belia, namun jiwanya telah mati bersama ayahnya. Kesunyian mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang dulu riuh oleh pekik perang. Ia kemudian ditangkap kembali dalam operasi pembersihan dan diputuskan untuk dibuang ke Pulau Jawa sebagai buruh paksa di perkebunan kopi.

Bagi seorang putri pegunungan yang terbiasa bebas menghirup aroma laut, pembuangan adalah bentuk penghinaan yang lebih kejam daripada tiang gantungan.

Di atas kapal Eversten yang membelah ombak menuju Jawa, Martha Christina Tiahahu menunjukkan bentuk perlawanan terakhirnya: Kesunyian dan Penolakan. Ia menolak menyentuh makanan. Ia menolak setetes pun obat-obatan yang ditawarkan oleh dokter kapal Belanda.

Baginya, menerima pemberian musuh adalah bentuk pengkhianatan terhadap darah ayahnya dan tanah Maluku yang telah diperkosa.

Menjadi Satu dengan Laut Banda

Tubuhnya kian ringkih, namun matanya tetap menatap tajam ke arah timur—ke arah Nusalaut yang kian menjauh. Di atas kapal itu, Martha bukan lagi pejuang dengan tombak; ia adalah seorang martir yang merayakan kematian demi menjaga martabat.

Pada 2 Januari 1818, sesaat setelah kapal melewati Tanjung Alang, nafas terakhirnya terlepas. Ia pergi di usia 18 tahun tanpa keluhan, tanpa air mata di hadapan musuh.

Jenazahnya tidak ditanam di tanah, melainkan disemayamkan di kedalaman Laut Banda dengan penghormatan militer yang dingin dari pihak lawan yang diam-diam mengagumi keteguhannya.

Laut Banda menjadi pusara abadi bagi sang Srikandi. Ia tidak mati; ia hanya kembali ke pelukan ibu pertiwi yang paling dalam, menyatu dengan arus yang suatu saat akan kembali menghantam dermaga-dermaga penjajah.

Martha Christina Tiahahu adalah simbol bahwa kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang memegang kuasa, tapi milik mereka yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 012/TK/Tahun 1969, ia resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Data historis menunjukkan betapa signifikannya peran Martha; ia bukan sekadar pendamping, melainkan penggerak logistik dan moral. Kematian Richemont di Ouw menjadi bukti bahwa taktik gerilya yang didorong oleh emosi mendalam sanggup melumpuhkan perwira terlatih.

Monumennya yang kini berdiri tegak di Karang Panjang, Ambon, dengan tangan menggenggam tombak dan mata menatap Laut Banda, adalah pengingat bahwa di tanah ini, keberanian tidak mengenal gender dan tidak luntur oleh usia.

Martha Christina Tiahahu adalah pengingat bagi kita semua: bahwa ada yang lebih berharga dari sekadar nyawa, yaitu kehormatan untuk tetap berdiri tegak di atas kaki sendiri, meski badai sejarah berusaha merubuhkannya.

Referensi:

  1. Sejarah Perjuangan Martha Christina Tiahahu – Dinas Kebudayaan Provinsi Maluku.
  2. Pattimura-Pattimura Muda: Bangkitnya Perlawanan Rakyat Maluku (M. Sapija, 1954).
  3. De Molukken: Logboek van de Eversten 1817-1818 (Arsip Kolonial Belanda/Nationaal Archief).
  4. Biografi Pahlawan Nasional: Martha Christina Tiahahu – Kementerian Sosial Republik Indonesia.
  5. Ricklefs, M.C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford University Press