Nobar Film Pesta Babi di Mataram dan Ternate Dibubarkan, Apa Isinya?

Nobar Film Pesta Babi di Mataram dan Ternate Dibubarkan, Apa Isinya?
Film Pesta Babi. Nobar film ini di Ternate dan Mataram dibubarkan. (youtube)

INDONESIAONLINE – Pemutaran bersama atau nobar (nonton bareng) film Pesta Babi karya Dandhy Laksono Cs kembali dibubarkan. Setelah di Ternate, pembubaran nobar Pesra Babi terjadi di sejumlah kampus di Mataram.

Pembubaran di Mataram dilakukan pihak kampus setelah ada “koordinasi” dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB).

Pembubaran pemutaran film terjadi di Universitas Mataram pada Kamis malam (7/5). Sebelumnya, kejadian serupa juga berlangsung di Universitas Pendidikan Mandalika pada Senin (27/4) dan di Universitas Islam Negeri Mataram pada Jumat malam (8/5).

Terkait pembubaran nobar itu, Pemprov NTB angkat bicara. Kepala Bakesbangpol NTB Surya Bahari mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan kampus terkait pembubaran acara tersebut. Ia menyebut keputusan itu diambil sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan dampak yang muncul bila pemutaran tetap dilanjutkan.

Surya menegaskan, hingga kini Pemprov NTB belum menerbitkan larangan resmi terkait penayangan film tersebut di masyarakat. Meski demikian, ia menyarankan agar kegiatan pemutaran secara terbuka maupun berkelompok ditunda sementara.

“Jadi, bukan ada larangan secara khusus. Tapi ditunda dulu. Kita khawatirkan dampaknya. Untuk larangan, belum ada instruksi dari pusat ya,” ujarnya.

Menurut Surya, judul film tersebut dianggap kurang tepat dan berpotensi menimbulkan kesan yang tidak baik di tengah masyarakat. Karena itu, ia meminta pihak-pihak yang berencana menggelar nobar untuk menahan diri sambil menunggu situasi kondusif.

Sebelumnya,  nobar Pesta Babi di lingkungan Universitas Mataram dibubarkan pihak rektorat sebelum pemutaran dimulai. Film tersebut diketahui mengangkat isu deforestasi dan dugaan perampasan tanah adat di Papua.

Pembubaran dilakukan ketika para mahasiswa bersiap menggelar nonton bareng film dokumenter tersebut.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unram Sujita datang ke lokasi bersama puluhan petugas keamanan kampus untuk meminta kegiatan itu dibatalkan.

Menurut Sujita, film dokumenter tersebut dianggap tidak layak untuk diputar di lingkungan kampus. “Film ini saya kira kurang baik untuk ditonton,” ujar Sujita.

Ia menjelaskan keputusan pembubaran dilakukan atas instruksi Rektor Unram Sukardi. Pihak kampus, kata dia, ingin menjaga situasi tetap kondusif dan menghindari potensi munculnya pihak yang merasa tersinggung.

Sujita juga menyarankan mahasiswa mengganti kegiatan nobar dengan tontonan lain yang dinilai lebih aman, seperti pertandingan sepak bola atau film berbeda. “Saya menolak demi menjaga kondusivitas dan supaya tidak ada ketersinggungan antara kita,” katanya. “Mending kita nonton film lain atau sepak bola,” tambahnya.

Di Ternate Juga Dibubarkan

Nobar Pesta Babi yang digelar di Ternate dibubarkan aparat TNI pada Jumat (8/5/2026) malam. Aparat menilai film tersebut memicu banyak penolakan di masyarakat karena dianggap bersifat provokatif.

Acara nobar yang turut disertai diskusi itu berlangsung di Pendapa Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ternate.

Komandan Kodim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi mengatakan pihaknya melakukan pemantauan setelah melihat banyak respons penolakan terhadap film tersebut di media sosial.
“Kami melihat banyak penolakan terhadap kegiatan ini karena dinilai provokatif dari judulnya,” ujar Jani.

Ia menegaskan pandangan itu berasal dari reaksi masyarakat yang berkembang di media sosial, bukan sekadar pendapat pribadi aparat.
Menurut Jani, isu yang diangkat dalam film berpotensi memicu polemik karena kondisi sosial di Maluku Utara dinilai sensitif terhadap persoalan SARA dan mudah dipolitisasi. Atas dasar itu, pihaknya meminta pemutaran film dihentikan demi menjaga situasi tetap aman dan kondusif.

Meski demikian, aparat tetap memperbolehkan agenda diskusi mengenai pelestarian lingkungan hidup untuk dilanjutkan sesuai rencana.
“Diskusi tentang lingkungan hidup itu positif. Silakan diteruskan. Tetapi untuk kegiatan nobar, saya minta dihentikan agar tidak menjadi bahan politik di kemudian hari,” ucap dandim.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keamanan dan menghormati situasi sosial di wilayah Maluku Utara, khususnya Kota Ternate.

Sementara itu, Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, mengecam tindakan pembubaran tersebut. Menurut dia, kegiatan nobar dan diskusi merupakan bagian dari kebebasan berekspresi serta hak masyarakat memperoleh informasi yang dijamin konstitusi.

Yunita menilai aparat tidak semestinya menentukan karya yang boleh ataupun tidak boleh ditonton masyarakat. Ia juga menyebut kehadiran aparat sejak awal acara, termasuk pendokumentasian terhadap peserta dan panitia, menimbulkan rasa takut serta tekanan psikologis. “Kalau setiap karya kritis dianggap ancaman lalu dibungkam, maka demokrasi berada dalam kondisi berbahaya,” tandas Yunita.

Film dokumenter Pesta Babi diketahui merupakan hasil kolaborasi Watchdoc, Media Jubi, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru. Film tersebut mengangkat isu deforestasi, proyek strategis nasional di Papua, hingga menyoroti dugaan keterlibatan militer dalam agenda negara. (rds/hel)